Review Film “Room”

Mendapat tantangan Review Film dari Tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni buat Emak yang hampir 10 tahun belakangan jaraaaaang banget melipir ke bioskop, jarang nonton TV atau bahkan jarang nonton dari handphone sekalipun itu bener-bener bikin desperado ya ternyata. Referensi film saya hanya terbatas pada film on board yang saya tonton di pesawat saat PP perjalanan dinas atau chanel film di TV kabel hotel (sebut saja HBO, Fox Movies, dkk) yang biasanya lebih banyak TV-nya yang menonton saya tidur daripada saya yang menonton TV atau saat saya terperangkap tidak bisa pulang hari saat dinas dan pekerjaan selesai sebelum jam 7 malam, saya bisa “me time” dengan melipir ke bioskop terdekat, menonton film apa saja yang sedang tayang malam itu (tapi kejadian begini belum tentu terjadi setahun sekali).

Baiklah, mengingat perbendaharaan film saya sangat sedikit, pilihan saya untuk review film kali ini jatuh pada film Room. Pilihan ini tentu tidak sembarangan, konon menurut ilmu cocoklogi, film ini mengusung tema “keluarga” karena kekuatan cerita ada pada bonding ibu-anak yang sangat menggugah ditambah dengan tema ‘lockdown” dalam artian yang sebenarnya, relate dengan kehidupan kita saat ini di masa pandemi covid-19, waktu yang pas untuk kita dapat membayangkan “penderitaan” tokoh dalam film ini. Bagaimana rasanya jika kita disekap dalam satu ruangan kecil yang kedap suara tanpa ventilasi, tanpa jendela, dengan fasilitas seadanya selama 7 tahun, tidak bisa melihat dunia luar dan tidak bisa berinteraksi dengan siapapun kecuali si penyekap? Hidup kita benar-benar harus pasrah dan bergantung sepenuhnya dari “kebaikan hati” si penyekap.

Film “Room” merupakan salah satu film favorit saya. Film yang membuat saya banyak merenung dan sedikit banyak telah mengubah pola pikir saya terutama saat saya mengalami masa-masa berat mendidik anak sulung saya yang autis. Magically, film ini dapat membangkitkan lagi kepercayaan diri saya saat berkali-kali merasa gagal, terpuruk dan tidak pantas karena “merasa belum” melakukan yang terbaik untuk anak saya. Saat saya mendengar percakapan Ma dan Jack di akhir film, tangis saya pun meledak.

Ma : I’m not a good mother

Jack : But you are a mom

Bagaimana? Penasaran dengan sinopsis dan review-nya?

Let’s Cekidot

Sinopsis (Half Spoiler)

Ma atau Joy (Brie Larson) merupakan korban penculikan dan penyekapan seorang pria bernama Old Nick (Sean Bridgers) saat Joy berumur 17 tahun. Joy kerap diperkosa berulang kali hingga hamil dan melahirkan anak laki-laki bernama Jack tanpa bantuan medis. Old Nick menyekap Joy dan anaknya di dalam gudang yang kedap suara di halaman belakang rumahnya. Satu-satunya akses Joy dan Jack dengan dunia luar adalah skylight kecil di bagian atap yang tinggi dan tak terjangkau serta kabur kacanya. Old Nick secara berkala setiap minggu mendatangi Joy di gudang penyekapan (yang Joy dan Jack sebut dengan “Room“) melalui pintu kecil yang kombinasi kuncinya hanya diketahui Old Nick, untuk memberikan suplai makanan, vitamin dan obat-obatan serta “memperkosa” Joy.

“Room” – Gudang Penyekapan Joy dan Jack
Skylight : satu-satunya sarana interaksi Joy dan Jack dengan dunia luar

Joy sendiri sebenarnya sudah berkali-kali mencoba mencari cara untuk keluar, dari mulai mencoba kombinasi kunci pintu, mencuri lihat kombinasi kunci saat Old Nick membuka pintu sampai berteriak setiap hari berharap agar ada yang mendengar, tapi hasilnya NIHIL. Untunglah Old Nick melengkapi Room dengan perabotan, walau seadanya, seperti : tempat tidur, lemari, pantry, toilet, meja-kursi kecil dan televisi. Satu-satunya hiburan Joy adalah televisi.

Kehidupan Joy di dalam Room mulai berubah setelah lahirnya Jack (Jacob Tremblay). Joy menyayangi Jack dengan sepenuh hati walaupun Joy sangat membenci Old Nick, ayah biologis Jack. Joy sendiri tidak pernah ingin Old Nick melihat atau menyentuh Jack. Maka, setiap kali jadwal kunjungan Old Nick ke Room, Joy memasukkan Jack ke dalam lemari semalaman sampai Old Nick keluar dari Room.

Membesarkan Jack dalam ruang penyekapan tentu tidaklah mudah. Selain harus bergumul dengan rasa depresinya sendiri selama bertahun-tahun disekap, Joy harus menerima kenyataan bahwa kemungkinan mereka keluar dari Room tampak mustahil. Maka, sejak kecil Jack dicuci otaknya oleh Joy, bahwa dunia di luar Room sudah dikuasai Alien, sehingga mereka tidak bisa keluar. Segala hal yang ditonton oleh Jack di televisi adalah tidak nyata.

There’s room, then outer space, with all the TV planets, then heaven. Plant is real, but not trees. Spiders are real, and one time the mosquito that was sucking my blood. But squirrels and dogs are just TV, except lucky. He’s my dog who might come some day. Monsters are too big to be real, and the sea. TV persons are flat and made of colors. But me and you are real

Jack, to himself

Suatu hari, pada saat jadwal kunjungan rutin Old Nick, Old Nick menyampaikan bahwa ia dipecat dari pekerjaannya dan kemungkinan besar tidak lagi dapat menyuplai kebutuhan Joy dan Jack. Terjadilah pertengkaran antara Old Nick dan Joy (yaiyalah ya, si Joy panik donk ngebayangin nasib dia ama Jack yang bakal gimana nanti tanpa “belas kasihan” Old Nick). Jack yang sudah lama penasaran dengan rupa Old Nick, malam itu diam-diam keluar dari lemari agar bisa melihat Old Nick dari dekat. Old Nick yang sedang tidur bersama ibunya, terkejut dan terbangun melihat Jack. Joy yang panik mengetahui Old Nick melihat Jack langsung memukul Old Nick membabi buta sampai membuat Old Nick emosi dan mencekik Joy.

Karena marah, Old Nick memutus suplai listrik dan air ke Room. Joy yang marah dan panik akhirnya berupaya menyampaikan ke anaknya bahwa apa yang ia sampaikan ke Jack selama ini adalah kebohongan belaka, bahwa dunia luar itu nyata dan tidak dikuasai Alien. Pohon, anjing, daun, dll, yang Jack liat di TV adalah nyata. Bahwa mereka selama ini telah disekap oleh Old Nick. Tentunya Jack tidak serta merta dapat mempercayainya. Saat Old Nick kembali menyuplai listrik dan air ke Room, Joy dan Jack pun menjalani kehidupan “normal” kembali.

Walaupun disekap, Joy sebisa mungkin mengajarkan Jack kehidupan normal seperti berolahraga

Jack yang kritis lama kelamaan penasaran akan kebenaran cerita ibunya tentang dunia nyata. Melihat anaknya antusias, Joy pun menyusun rencana pelarian atau kabur dari Room. Joy akan membuat Jack seolah-olah sakit dan sudah mati kepada Old Nick (mayatnya dimasukkan dalam gulungan karpet) dan mayat Jack harus segera dikeluarkan dari Room. Joy melatih Jack keluar dari gulungan karpet dan menghapal detil-detil skenario melarikan diri dari gulungan serta apa saja yang akan Jack lihat di luar saat keluar dari gulungan. Old Nick pun percaya, lalu membawa gulungan mayat Jack keluar menggunakan pick up. Sesuai arahan yang berulang kali diajarkan Joy, akhirnya Jack berhasil meloloskan diri dari gulungan karpet dan lompat dari pick up. Old Nick yang sadar, berusaha menangkap Jack, tapi Jack berhasil kabur dan diselamatkan penduduk yang sedang lewat. Jack pun lalu dilaporkan ke Polisi. Sejak itulah penyekapan itu akhirnya terkuak dan Joy pun dapat diselamatkan juga dari penyekapan.

Ternyata, kebebasan mereka dari Room tidak serta merta membuat mereka bahagia. Kehidupan normal yang selama 7 tahun Joy tinggalkan ternyata sudah banyak berubah. Ayah (William H. Macy) dan Ibu Joy (Joan Allen) sudah bercerai dan masing-masing sudah memiliki pasangan kembali (perpisahan mereka juga dipicu pertengkaran karena kehilangan Joy). Joy yang selama 7 tahun disekap dan Jack yang seumur hidupnya belum pernah melihat dan tersentuh hangatnya matahari serta kekurangan asupan gizi, membuat tubuh mereka sangat rentan dengan kemungkinan infeksi virus dan bakteri di luaran, sehingga mereka harus mendapat intervensi medis dan pelan-pelan harus beradaptasi dengan matahari dan udara sekitar. Jack yang tidak pernah berinteraksi dengan dunia luar selain Room dan tidak pernah berinteraksi dengan manusia lain selain Ma/Joy, tentu menjadi sangat asing dengan semua hal baru tersebut (eits … tapi jangan membayangkan Jack seperti Tarzan ya, setidaknya ia dibesarkan oleh Joy bukan Gorilla, hihihi). Jack bahkan berharap ia bisa kembali tinggal Room.

Jack harus menggunakan kacamata dan masker untuk beradaptasi dengan lingkungan

Bagaimanapun, adaptasi Jack tidak seberat adaptasi yang harus dilalui Joy. Tidak mudah menerima bahwa sekarang ia bukan lagi remaja yang memiliki masa depan cerah seperti sesaat sebelum ia disekap. Bahkan ayahnya, yang sangat membenci Old Nick saat mengurus tuntutan pidana atas penyekapan Joy, tidak sudi melihat Jack yang merupakan anak biologis dari Old Nick. Kebayang kan bagaimana reaksi Joy? Hal itu akhirnya merembet kepada kefrutasian demi kefrustasian Joy yang lain.

Ahh … spoilernya saya cukupkan sampai disini saja ya, biar yang belum nonton jadi kepengen nonton.

Lanjutan ceritanya saya jamin jauh lebih seru!!!!

***Percayalah, spoiler tidak akan banyak berarti pada film Room. Kekuatan karakter dan ceritanya pasti akan membuat Anda penasaran!

Adaptasi dari Kisah Nyata

Room adalah film drama independen yang dirilis tahun 2015 berdasarkan naskah yang ditulis oleh Emma Donoghue hasil saduran dari novel dengan judul yang sama karya Emma Donoghue sendiri. Cerita novel Room terinspirasi dari kisah nyata perempuan asal Austria, Elisabeth Fritzl, yang menjadi korban penyekapan ayahnya sendiri, Josef Fritzal. Elizabeth disekap ayahnya selama 24 tahun, sejak Elizabeth berusia 18 tahun (usia 11 tahun pun Elizabeth sudah diperkosa ayahnya). Selama periode penyekapan itu, Elizabeth kerap disiksa dan diperkosa sampai akhirnya melahirkan 7 orang anak dari ayahnya sendiri, tanpa bantuan medis (dan kemungkinan besar sendirian). Sungguh biadab bukan? Hebatnya, penyekapan itu dilakukan Josef di bawah tanah rumahnya sendiri yang di atasnya bermukim istri dan anak-anak Josef (tentunya ibu dan kakak-adik Elizabeth). Selama 24 tahun, tidak ada satu orang pun yang curiga tentang penyekapan Elizabeth di ruang bawah tanah – tidak ada suara, tidak ada satu hal pun yang mencurigakan. Elizabeth dan anak-anaknya tidak bisa keluar karena ruang penyekapan tersebut memiliki pintu keamanan sampai 6 lapis.

Tiga orang anak Elizabeth dan ayahnya (anak sekaligus cucu, ya ampuunnn) dirawat Elizabeth di dalam ruang penyekapan yang sempit, sampai anak yang paling tua mencapai usia 20 tahun (Kebayang gak sih gimana rasanya hidup 20 tahun di dalam Room dan gak pernah melihat dunia luar? Menulisnya saja sudah membuat saya berurai air mata), dan 4 anak yang lain, satu persatu (saat berusia di bawah usia satu tahun) dibawa keluar oleh Josef lalu diletakkan di depan rumahnya, seakan-akan anak-anak tersebut dibuang oleh orangtua yang tidak bertanggung jawab ke rumah Josef. Selanjutnya anak itu pun diadopsi oleh Josef dan keluarga.

Ternyata kisah aslinya jauh lebih memilukan … hikssss …

Review

Film Room banyak mendapat review positif dari para kritikus film, dengan rating rata-rata di IMDb mencapai 8,1/10, 94% di Rotten Tomatoes dan 86/100 dari Metacritic. Selain karena ceritanya sendiri memang menguras emosi, sang sutradara (Lenny Abrahamson) juga mampu menghadirkan pesona Room yang natural, menegangkan, mengharukan menjadi satu-kesatuan yang fantastik. Wajar jika film ini mendapat nominasi Oscar tahun 2016 untuk kategori “Best Achievement in Directing“, “Best Writing, Adapted Screenplay”, dan “Best Motion Picture of the Year”. Room juga banyak mendapatkan (atau masuk dalam nominasi) penghargaan bergensi lainnya,

Plot demi plot dari film ini semuanya terstruktur dengan baik. Di awal film, saya sempat dibuat bingung dengan percakapan-percakapan Ma/Joy dan Jack yang cukup aneh, saya sempat mengira (Tentunya saya tidak membaca spoiler-nya, ya!) film ini bercerita tentang manusia yang sedang dikejar Alien atau Zombie, atau tuna wisma atau apalah (pokoknya bikin penasaran, gak tertebak). Cerita penyekapan baru terkuak setelah adegan Joy dicekik oleh Old Nick, dimana akhirnya Joy memutuskan untuk mengatakan “kebenaran” kepada Jack.

Banyak adegan Room yang bikin saya amazing : tidak ada satu pun konflik yang tidak diolah dengan cerdas, semuanya padat bergizi, dibalut dengan sinematografi yang apik dalam setiap shot-nya, membuat saya merasa seakan cerita Room benar-benar nyata. Saya suka semua konflik dan adegan dalam film ini, tanpa terkecuali.

Brilliant Cast

Selain kuat dari sisi cerita, plot, dan sinematografi, film ini juga berkarakter karena didukung oleh acting para pemainnya, terutama Brie Larson sebagai Ma/ Joy dan Jacob Tremblay sebagai Jack (anak dari Ma). Mereka berdua mampu menciptakan chemistry ibu-anak yang sangat kuat dan menyentuh.

Atas aktingnya ini, Brie Larson diganjar penghargaan sebagai “Pemeran Utama Wanita Terbaik” di berbagai ajang perfilman bergensi seperti Oscar tahun 2016, Golden Globe Awards ke-73, British Academy Film Awards ke-69, dll. Pergumulan emosi Brie Larson dalam film ini sungguh sangat memukau. Tidak mudah menjiwai emosi seorang perempuan belia yang depresi karena disekap dan diperkosa berkali-kali tapi sekaligus harus kuat, tegar dan penuh kasih dalam mendidik anaknya (yang awalnya tidak diinginkannya) dalam kondisi tanpa harapan akan kemungkinan keluar dari penyekapan. Emosi Brie ini mengajak kita ikut merasakan rasa sayangnya kepada Jack mampu membuatnya bertahan hidup dan waras dalam penderitaannya.

Aduh, beneran deh, acting Brie ini asli keren banget. Perfecto

Acting Brie sungguh memukau, tatapannya itu loh!

Akting Jacob Tremblay juga sama memukaunya, tapi sayangnya Jacob tidak berhasil memenangkan Oscar, bahkan masuk nominasi pun tidak, walaupun hampir di setiap review banyak sekali yang menjagokannya. Eh, tapi Jacob banyak menang di penghargaan lain juga, sih! (tak penting itulah Oscar ya Nak kalau kau sudah “diakui dan dijagokan” di hati netijen)

Di sepanjang film kita disuguhi dengan percakapan-percapakan Jack yang polos tapi kritis bersama Ma, ungkapan-ungkapan “cinta” Jack kepada Ma yang mengharu biru, celetukan-celetukan khas anak kecil yang sok menasihati dan menohok, benar-benar membuat film ini terasa sangat nyata. Saat jack keluar dari Room dan terpana karena pertama kali melihat dunia, kita pun dibuat terhanyut dan terharu oleh akting Jacob. Ohh … pokoknya akting Jacob Tremblay di sepanjang film ini keren abis, deh!

Lesson Learned

Beberapa pelajaran berharga yang saya dapat dari Film Room adalah :

  1. Belajar dari Elizabeth (real) dan Joy/Ma (fiktif) bahwa bagaimanapun kondisinya – seberapapun menderitanya – HIDUP ITU PERLU DIPERJUANGKAN!
  2. Dengan segala “keterbatasan” kita selalu bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Cinta Ibu ke anak itu tiada duanya, tak pernah dapat disangsikan oleh siapapun.
  3. It’s okay, sometimes, kita merasa “gagal” atau “tidak pantas” untuk anak-anak kita, bagaimanapun juga kitalah ORANG TUA mereka. Anak tak akan pernah mau menukar kita dengan apapun, sama seperti kita yang tidak akan pernah rela menukar anak-anak kita dengan apapun.

Sumber :

https://www.ngopibareng.id/read/sinopsis-room-penyekapan-di-ruang-suram-3707166

https://id.wikipedia.org/wiki/Room_(film_2015)

https://www.imdb.com/

Penulis: sheetavia

Sanguin yang lagi belajar diem karena suka ngomong gak pake mikir

11 tanggapan untuk “Review Film “Room””

  1. Aku baca nih kasusnya (yang kejadian nyata).. bapaknya beneran sakit jiwa. Kayaknya serem ya rumah yang punya basement suka menyimpan banyak rahasia kalau di film2 🙈

  2. Iyaaa….film hantu pun banyak dr basement yaaa. Aku tuh speechless teh sama kasus nyatanya, kuat bener ya itu si Elizabeth dan anak-anaknya.

  3. Setuju sekali dengan opini Sheetavia mengenai kemampuan akting si Captain Marvel, ehh si Brie Larson ehehe. Saya sebal sekali sama si bapak penculiknya, apalagi yang bagian akhir di mana si anak hampir direbut kembali saat minta tolong ke strangers. Syukur alhamdulillah, akhirnya si anak berhasil lolos ya.

  4. Iyaaa…koq ada orang yang setegaaaaa itu. Kalo ketangkep emak-emak, habislah itu dijambak. Hahaha. Adegan meloloskan diri itu emg andalan di film itu ya…pertama kalinya jack liat dunia luar

  5. Sudah lama penasaran nonton film ini tapi kok nggak tega mau nontonnya heuheu. Nggreges sendiri kalau dengar kisah kisah begini 😥

  6. Film nya gak bikin nangis2 tu, kalo aku mmg cengeng krn mungkin kebawa sama masalah pribadi, itu pun pas di akhir aja saat happy ending.

  7. Aku suka juga film ini dan akting Brie Larson. Tapi belum tahu ttg kisah aslinya. Bingung tapi, kenapa Elizabeth bisa disekap tanpa diketahui istri dan anak Ayahnya? Apa dia anak dari Ibu lain?

  8. Anak kandung, ibu dan saudaranya gak tau kalo suami/ayahnya sebejat itu sama elizabeth. Ruang sempit di bawah tanah itu sengaja disiapin ayahnya buat nyekap elizabeth krn takut elizabeth buka mulut atas perkosaan ayahnya waktu usia dia 11 tahun. Waktu elizabeth hilang, semua keluarga cari, tp disetting ayahnya seakan akan dia kabur dr rumah. Ruang penyekapan itu 6 meter dalemnya dr rumahnya. Pakai pintu pengaman 6 lapis dan dibuat kedap suara. Gak ada yg pernah main k ruang bawah tanah itu krn itu ruang kerja ayahnya, bengkel kayu dan listrik. Jd bener2 gak ketauan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s