Curhat Tentang Program Kesehatan Perusahaan

Dah lama banget ya gw gak nulis atau BW, tersangka utama penyebabnya apalagi kalo bukan gawean (red kerjaan) yang alamak bener-bener bikin kepala cenat cenut. Apalagi beberapa minggu terakhir si Habib mulai insomnia, baru tidur di sepertiga malam, kadang jam 3 pagi aja dia belum mau tidur. Ihh…gak tau deh rasanya nih badan, udah ngantuk berat, pegel, pusing, emosi spanning tinggi, lengkap…kap…kap. Sebenernya banyak banget yang pengen gw tulis, semoga bisa gw cicil di pekan depan selama cuti (ihiyy….akhirnya bisa cuti jugaaa….., tapi sayangnya bokek pulak jadi gak bisa liburan ke Hongkong, oh..baiklah…jangan bersedih, mari kita berhibur dengan BW sajaaa…)

oke…back to topic sesuai dengan judul postingan gw….kali ini gw mau curhat dulu tentang salah satu gawean yang buat gw mumet beberapa minggu terakhir.  .

Jadi begini nih ceritanya, gw kan kerja di BUMN, berarti per 1 Januari ini kita kan wajib ikut BPJS Kesehatan (perpres no. 111 tahn 2013). Nah…salah satu project gw dari tahun kemaren adalah mencari jalan keluar terhadap program kesehatan karyawan dan keluarga akibat keluarnya peraturan itu. Kebetulan beberapa tahun ini program kesehatan perusahaan kita dikelola oleh asuransi dengan pola managed care, karyawan dan keluarga sih udah pewe lah ya dengan asuransi itu (katakanlah namanya asuransi X). Sebenernya karena sudah terbiasa dengan pola managed care, kita sih pasti gak bermasalah dengan prosedur berobat BPJS Kesehatan. Cuma…yang jadi masalah BPJS Kes ini masih jauh di bawah standar pelayanan si Asuransi X. Udah berbulan bulan coba sowan ke beberapa asuransi, tapi manajemen tetep merasa gak sreg sama produk yang ditawarkan dan sayangnya para asuransi itu pun gak bisa kasih kepastian premi dan kepastian produk karena peraturan tentang COB (Coordination of Benefit) antara asuransi dan BPJS Kesehatan masih abu-abu pekat banget. Tapi, mau gak mau perusahaan gak bisa gitu aja nyumbang bayar premi ke BPJS Kesehatan (maksudnya bayar premi tapi produknya gak dipake) soalnya premi BPJS sendiri udah makan sepertiga anggaran premi kesehatan perusahaan, jadi ujung-ujungnya pasti harus COB. Nah…di sisi lain, perusahaan juga punya anak perusahaan berupa Rumah Sakit yang sekarang dalam kondisi cukup sekarat dan harus disokong untuk berkembang, jadinya si Direktur gw kepikiran buat kerjasama dengan RS Perusahaan aja buat tambahan pelayanan terhadap BPJS Kesehatan. Eng…ing…eng….disinilah masalah itu bermulai….

Dulu sih sebelum program kesehatan perusahaan dikelola oleh asuransi, sejak awal perusahaan didirikan sampe bepuluh-pluh tahun setelahnya, kesehatan karyawan hanya dilayani di RS Perusahaan. Dulunya, program kesehatan yang dikelola RS Perusahaan bener-bener mercusuar : karyawan dan keluarga dilayani dengan obat-obat paten, pelayanan dokter terhebat dengan peralatan tercanggih (konon katanya dulu banyak alat-alat kesehatan yang teranyar dan canggih pasti lebih dulu dimiliki RS Perusahaan dibanding RS Provinsi). Sayangnya akibat terlalu mercusuar, banyak fraud yang terjadi. KKN terjadi secara masif dan terstruktur (uhukk…). Anggaran kesehatan membengkak gak terkendali. Di saat yang bersamaan perusahaan juga sedang melakukan efisiensi besar-besaran. Akhirnya rumah sakit perusahaan dijadikan anak perusahaan dan menjadi RS swasta yang dapat melayani masyarakat luar dan profit oriented. Berpuluh-puluh tahun terbiasa disokong dengan dana  gila-gilaan dengan segala aset disiapkan perusahaan membuat RS Perusahaan menjadi manja dan gak punya daya untuk bangkit dan mandiri. Bertahun tahun sejak menjadi anak perusahaan (bahkan sampe sekarang), RS Perusahaan tetep gak bisa grow up, bahkan selalu di ambang rugi. Padahal pasiennya banyak loh. SDM dan tenaga medisnya kerja males-malesan, pelayanannya jauh dari kata “satiesfied enough” dan KKN masih menjadi momok yang bener-bener sulit untuk diberantas, pokoknya parah bener deh. Akhirnya….karyawan dan keluarga malah kapok berobat di RS Perusahaan (bahkan banyak yang sesumbar gak akan pernah mau berobat disana, hehehe…termasuk gw sih, ogah bangeeet).

Melihat kondisi RS perusahan yang cukup alot, tentunya kami (manajemen) berat banget donk untuk menuhin keinginan direksi, soalnya dah kebayang banget gimana beratnya bangun sistem dari Nol (bukan dari NOL lebih tepatnya tapi dari minus 100 deh kayaknya). Kalo kami terusin COB dengan asuransi X, pastinya kami gak perl usaha lagi karena sistemnya kan udah settle dan karyawan juga dah terbiasa dengan Asuransi X, jadi waktu dan tenaga kami bisa dialokasi ke kerjaan lain yang lebih penting. Dah usaha untuk ngasih argumen ke Direksi, tapi si Direksi tetep kekeuh dengan keputusannya untuk bekerjasama dengan RS Perusahaan. Tapi lagi-lagi, sebagai orang HR, gw harus tetap bertumpu di dua kepentingan : karyawan dan perusahaan. Di sisi lain, gw mikirin nasib gw sendiri yang bakal capek setengah mati untuk membendung protes karyawan dan bangun sistem baru. Well to the well..well…welll….ohhh baiklah….ini adalah tantangan, Cheer Up dear…badai pasti berlalu. Pemindahan program kesehatan ke BPJS aja dah bener-bener nguras energi dan stok sabar (berbulan-bulan masukin database BPJS Kes hampir 7000 karyawan dan keluarga, krang kring telpon gak berhenti sepanjang hari ngelayanin pertanyaan karyawan ampe gw gak bisa kerja padahal kerjaan bener-bener menumpuk dan deadline semua, gak jarang gw dimarahin habis-habisan sama karyawan). Apalagi harus ditambah dengan ngurusin build up RS Perusahaan untuk Top Up BPJS Kes. Pyuhh…

*** daripada pucing, mari kita nonton dodit stand up comedy aja nyukk….xixixixi….

Cuti…cuti…minggu depan gw cuti.. ihiyyyy…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s