STOP BLACK CAMPAIGN

Tadi pagi gw habis nge-unfriend beberapa temen di fb, belagu amat ya kayaknya sampe mutusin tali silaturahmi begitu, habis mau gimana donk,  demi ketentraman batin euy, daripada gw harus puasa fb gara-gara mereka. Bagus juga nih pemilu, bisa jadi friend blunder, jadi ketauan mana yang cerdas dan mencerdaskan, mana yang bodoh-gampang dibodohi-dan suka membodohi (dirinya sendiri dan orang lain) *yaelah…sok pinter aja loh nyr, karena gw bodoh makanya gw gak mau jadi tambah bodoh. Pharafrase dikit kata-kata yang lagi ngetrend di socmed gw sekarang ini “lebih baik pilih yang paling sedikit mudhoratnya”, yaa….lebih baik gw unfriend aja daripada otak gw panas mulu baca share link black campaign mereka, yang bener-bener gak cerdas dan provokatif (provokasi perpecahan maksudnya). Hal-hal gak penting dibahas dan jadi bahan olokan. Pliss deh….bahkan akademiknya bagus pun (anggeplah yang udah punya titel S nya sampe keriting itu pinter-pinter) nyinyirnya lebih-lebih dari nyinyirnya emak-emak anak 1 yang lagi PMS – gerdnya lagi kambuh – anaknya begadang tiap malem – kerjaan kantor menggunung – misua jaga mulu (siapa sih? siapa sih? *menolak ngaku). Bahkan sedihnya orang-orang yang gw kenal baik dan dulu gw kagumi pemikirannya juga ikut-ikutan Black Campaign *Shock. Dan gw juga yakin kalo bully-membully-nya gak cuma sampe pemilu selesai aja, pasti tetep akan berlanjut sampe nanti-nanti, ketika pemerintahan yang baru telah berjalan. Jadi amannya, yaa…unfriend aja. Legaaa….

 

Iya sih, gw ngerti kalo presiden itu penting buat suatu negara. Tapi…mbok ya jangan membela sampai membabi buta begitu lah. Yang salah katakan salah, yang benar katakan benar, kita harus objektif dan berjiwa besar donk. Sebenernya gw dah coba untuk ingetin mereka sih untuk hati-hati kalau berpendapat, cari sumber yang baik dan share aja hal-hal yang bermutu yang udah ditelusuri kebenarannya. Jangan asal share dan komen apalagi sampe bawa-bawa SARA,kalian kan tinggal di Indonesia, jadi sudah seharusnya mengerti kalo kita itu BERAGAM. Gak bisa donk dipaksain harus SERAGAM. Tapi yang terjadi, malah gw balik dibully….dikasih dalil-dalil ulama pilihannya kalo menyebarkan aib itu gak apa-apa, terus diserimpit kalo menyiarkan yang negatif itu cuma tools. Gw sih gak mempermasalahkan tools “negatifnya”, tapi tolonglah pakai bahasa yang lebih santun dan gak bawa-bawa SARA. Apa kalian pikir, orang bakal simpatik ya dengan sebaran aib-aib begitu?  Apa orang-orang juga jadi terprovokasi untuk milih capres pilihan kalian? Gw rasa enggak tuh, terbukti dari komen-komennya jarang ada yang bertanya atau mengklarifikasi tapi sibuk dengan debat-debat kusir. Pyuhh…cape deh…

 

Kalo di socmed aja sibuk ngebully, kalo di dunia nyata mereka gimana ya?? Yang jelas gara-gara pemilu presiden kali ini, bakalan banyak sih silaturahmi yang keputus. Apalagi kalo gw iseng baca komen-komennya, pada saling serang tuh, yang tadinya temen sekarang malah saling umpat. Hiii…merinding. Gw aja nih contohnya, dah males aja interaksi sama orang-orang yang suka Black Campaign gak cerdas itu. Yah…setidaknya dari cara mereka berpendapat dan menyaring berita, jadi ketauan kan gimana tipe orangnya. Terutama untuk orang-orang yang suka bahas-bahas SARA, heuuu….kekeuh bakalan gw jauhin, merasa sok suci bingit, padahal dirinya sendiri belum tentu baik *Pasang kaca segede Godzilla

 

Berdasarkan pengamatan gw melalui FB, voter pemilu sekarang terbagi atas 4 golongan :

1. Golongan Tidak Berpihak

Golongan ini tidak berpihak pada kubu manapun, padangannya netral dan objektif. Ini gw sebut sebagai golongan pencari kebenaran. Yang akan mereka pilih biasanya sudah dipikirkan matang-matang baik buruknya. Gak cepat terprovokasi.  Biasanya slogan golongan ini “Kami akan memilih yang paling sedikit mudhoratnya”.

2. Golongan Putus Asa

Golongan ini udah putus asa kalo calon presiden dari kubu manapun gak akan membawa perubahan untuk Indonesia. Biasanya golongan ini menilai dari track record capresnya. Nah…hampir dipastikan golongan ini bakal golput. Slogan golongan ini “Daripada gw milih orang yang salah, lebih baik gak milih sama sekali”.

3. Golongan Berpihak

Golongan ini berpihak pada salah satu kubu. Biasanya mereka seringkali membahas dan mengungkapkan fakta dan argumen tentang capres yang mereka sukai, tapi gak ngoyo-ngoyo amat. Bahasanya masih santun, masih suka membeberkan hal baik dari kubu lainnya dan masih cinta damai. Tapi strong point-nya mereka pengen orang-orang milih capres pilihannya.

4. Golongan Black Campaign

Golongan ini merupakan golongan ketiga, tapi yang sudah tersesat. Nah…ini yang paling susah, golongan ini mau diserang dengan fakta atau argumen apapun dan bagaimanapun cenderung frontal dan biasanya gak menerima ketika dikritik. Semua hal dari kubu lawan dianggep salah. Kuacaw kalo begindang kan? Gak ada objektivitas. Atau Kadang-kadang bersikap pura-pura objektif untuk mengejek kubu lain. Huahahaha… . Sayangnya golongan ini hampir 80% di TL gw *tepok jidat

 

Kalo gw tipe yang mana? Tipe ketiga donk, tapi tidak berpihak, hahaha…*ini namanya cari aman. Yaaa…abis mau gimana lagi, salah satunya kan pasti akan jadi presiden, masak kalo capres pilihan gw kagak jadi presiden nantinya gw bisa ngambek dan mogok jadi warganegara.  Masalahnya gw menilai kedua calon presiden itu baik, dan gw pilih yang terbaik menurut versi gw. Jadi…kalo seandainya jagoan gw gak kepilih, gw masih yakin kalo yang satunya akan membawa kebahagiaan untuk Indonesia (dan kesengsaraan untuk fans fanatik kubu sebelah tentunya).

 

Saran gw, boleh sih mendukung salah satu capres dan jadi jadi tim kampanya hore-hore. Tapi mbok ya jangan membabi buta donk ya. Sadarlah kalo persepsi dan pengetahuan kita tentang mereka hanya berdasarkan berita dari media, kita tidak pernah berhubungan dan bekerjasama langsung dengan mereka, jadi kemungkinan biasnya masih sangat besar. Ketika kita mendukung seseorang dengan membabi buta, berarti kita udah siap dengan konsekuensi baik dan buruknya. Someday, ketika mereka baik kita telah berlaku benar, tapi ketika mereka bertindak mengecewakan (korupsi dll misalnya) padahal dulunya kita udah membela mereka habis-habisan, apa cukup dengan kata “saya menyesal memilih dia”? Apa kalo mereka salah akan kita ingatkan atau malah sebaliknya, lagi-lagi kita membela kesalahan mereka (sampai membabi buta juga)?

Gw sih berharap, siapapun yang terpilih nanti, kedua kubu itu bisa bersinergi membangun Indonesia yang lebih baik.

Dan gw lebih banyak berharap kalo kita gak sibuk perang-perang jari doank, tapi siap berkontribusi lebih kepada negara. Walaupun punya pemimpin yang baik, tapi tidak didukung oleh masyarakan yang baik juga percuma. Jangan pernah menunggu untuk dipimpin, tapi pimpinlah diri sendiri untuk berbuat yang terbaik untuk negara. Jadilah eksekutor-ekskutor pembangunan. Setiap kita adalah pemimpin, maka setiap kata dan laku kita akan mempengaruhi apa yang kita pimpin. Kalo lo suka membully, maka jangan harap anak lo akan jadi anak yang bisa berempati *loh koq nyerimpit-nyerimpit anak…

 

Gw kutip artikel dari David Rumeser di FB, artikel ini merupakan potongan artikel bagaimana Sen. McCain “membela” saingannya (senator Obama) dari issue SARA dan gosip menjelang Pilpres di AS. Beliau lakukan ini sekalipun mendapat “BOOOOOS” dari banyak orangg republikan pendukungnya. Bisakah kita budayakan sikap SPORTIF dan anti racism di Indonesia? Mari mulai dr sikap individu dan posting yg POSITIF.

At the town hall meeting, one audience member said that he and his wife are expecting a child next year. “Frankly, we’re scared. We’re scared of an Obama presidency,” the questioner said.

Sen. McCain replied that of course he hopes that Sen. Obama isn’t elected but added: “I have to tell you he is a decent person and a person that you do not have to be scared (of) as president of the United States.” The crowd replied with a chorus of boos.

And when another questioner said he couldn’t trust him because “he’s an Arab,” Sen. McCain took the microphone from her and said, “No, ma’am: no ma’am. He’s a decent family man, citizen that I just happen to have disagreements with on fundamental issues, and that’s what this campaign’s all about. He’s not.”

*pray for Indonesia

Salam Indonesia Damai, Indonesia Sejahtera, Indonesia Bahagia

Iklan

2 thoughts on “STOP BLACK CAMPAIGN

  1. Setujuuuh Nyyyyyyyr akupuuuun lagi bebersih fesbuk. Aku sebenernya udah ninggalin fesbuk, tapi belakangan keluarga deket make ini buat bekirim kabar dan foto anak-anak. Eeeh pas pula lagi musim kampanya dan aku muaaaak. Aku udah ngblok banyak temen (yap, banyaaak ternyata yg begini yaaaa sumpe deh aku aja malu bacanya apalagi sesama almamater dan bener gelar gak menjamin ish) Sungguh deh, selama ngomongin yg postifi tentang Prabowo atau jokowi, aku okeeeh aja. Yang nyebelin pas baca yg menjelekkan Jokowi maupun Prabowo. Plisss deeeeh aura negatifnya ke mana-mana. Lebih enak denger orang sombong daripada orang jelek-jelekin orang lain, kalau bisa milih ya. Aku inget kalimat dosenku dulu di STAN, nggak ada orang sebaik yg diceritakan di Media masa, tapi juga nggak ada orang yang sejahat yang diceritakan media masa. Jadi be fair lah ya.

  2. gw sih berharap tuh capres dari dulu tuh suka ngeblog…jadi keliatan track record hasil tulisan mereka sendiri. xixixixi.
    iya mbak…capek ya bacanya, udah coba skip-skip sih, tapi karena 95% isi TL kampanye semua, gimana gak kebaca coba? sebenernya mau puasa fb juga…tp masih butuh grup fb-nya sih.
    Media massa kan gak ada yang bener-bener netral, rata-rata semua berpihak, manalah bisa kan sekarang media itu dipercaya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s