Ketahanan Pangan : Mungkinkah Pertanian Tanpa Pupuk Kimia?

Akhir-akhir ini berseliweran berita tentang mulai terjadinya krisis energi di beberapa negara yang diperkirakan akan terjadi dalam masa yang panjang. Krisis energi ini akan memperburuk upaya kebangkitan ekonomi imbas dari pandemi covid-19. Penyebab krisis energi ini diantaranya adalah adanya penurunan jumlah produksi bahan baku pembangkit listrik yang berdampak ke harga komoditi bahan baku menjadi mahal. Selain itu, mulai digalakkan upaya untuk mengubah pembangkit energi berbahan bakar fosil ke energi bersih atau energi hijau. Ternyata komitmen peralihan ke energi bersih ini berdampak signifikan terhadap krisis energi. Peralihan ini harus dicanangkan dengan matang, terutama kesiapan energi bersih penggantinya. Produksi energi bersih belum dapat memenuhi kebutuhan energi yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Setelah lebih dari tiga abad sejak dimulainya revolusi industri kita berupaya mengeksplorasi Sumber Daya Alam besar-besaran, sekarang kita diingatkan kembali bahwa ekspolarasi itu sungguh merusak dan menyakiti bumi tempat kita hidup dan bertumbuh.

Sama halnya dengan energi, demikian juga dengan pupuk kimia. Nasibnya sama : simalakama. Di banyak penelitian, pupuk kimia dikatakan memperburuk kondisi hara tanah dan tidak baik bagi kesehatan manusia, tetapi mau ditinggalkan juga tidak bisa karena produksi pupuk organik masih kalah telak dengan kebutuhan akan pupuk untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Pupuk organik yang dibangun perusahaan tempat saya bekerja misalnya, terpaksa gulung tikar karena kekurangan bahan baku kotoran hewan. Simalakama pun berlanjut karena peternakan hewan sendiri merupakan penyumbang terbesar atas penyebab krisis iklim (daya rusak nitrat oksida yang berasal dari urin hewan memiliki daya rusak 310 kali lipat dibandingkan karbon dioksida terhadap atmosfer bumi). Duh … pusing kan ya?

Kalau pusing, bagaimana kalau kita mencoba untuk lebih bijaksana dalam menggunakan energi dan mulai mencoba ketahanan pangan dari dalam rumah kita sendiri. Bagaimanapun, cepat atau lambat kita dituntut untuk mulai beralih ke segala hal yang lebih ramah lingkungan dan itu hanya dapat terwujud jika kita mulai mengurangi konsumsi dan bijak dalam konsumsi (yang tentu akan berdampak ke proses produksi). Saya misalnya, mencoba memanfaatkan pekarangan rumah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Walau belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari, tetapi hasilnya sangat lumayan, minimal untuk kepuasan batin.

Pempek Palembang : Favorit Berjuta Umat

Adakah makanan khas suatu daerah yang setiap hari tidak pernah bosan disantap oleh penikmatnya? Sepanjang yang saya tahu sih belum ada ya, kecuali pempek. Bagi orang yang tinggal di Palembang, baik itu pendatang sekalipun, makan pempek itu seperti sebuah keharusan setiap harinya. Terasa ada yang kurang jika hari itu tidak makan pempek. Pagi makan pempek, sore makan pempek, besok makan pempek, lusa makan pempek lagi, kemarin makan pempek, mereka tidak pernah merasa bosan. Kalau pun bosan, biasanya mereka beralih ke makanan pengganti yang bahan dasarnya sama dengan pempek, hanya berganti kuah saja, seperti tekwan (pempek dengan kuah kaldu udang), model (pempek ditambah tahu dengan kuah kaldu udang juga), celimpungan (pempek dengan kuah bersantan kuning dicampur sedikit daging ikan giling), dan laksan (pempek dengan kuah santan pedas).

Tekwan
Tekwan : Pempek Kuah Kaldu Udang
Sumber : Liputan6.com/IG/fenita.d2

Mengapa pempek Palembang lebih terkenal dibanding pempek daerah lain? Padahal, rasa pempek daerah lain biasanya lebih kuat/nendang rasa ikannya. Pempek berbahan dasar ikan laut akan lebih terasa “ikan”-nya, tetapi biasanya lebih liat/alot jika dibuat pempek. Beberapa ikan laut (seperti ikan sarden/makarel) jika dibuat pempek lebih terasa “gemuk” dan lembut. Pempek khas daerah Palembang teksturnya halus dan lembut dengan rasa yang lebih hambar karena biasanya terbuat dari ikan gabus. Mungkin banyak yang lebih suka pempek Palembang karena banyak orang yang alergi dengan ikan laut atau tidak suka bau “amis-manis” khas ikan laut. Jika membuat pempek berbahan dasar ikan gabus hanya mengandalkan garam saja sebagai perasa, rasanya dipastikan akan hambar. Makanya, pada umumnya pempek ikan gabus butuh penyedap rasa supaya rasanya lebih “nendang” atau biasanya dicampur dengan ikan tenggiri untuk menambah cita rasa khas “ikannya”. Perpaduan pempek dari ikan gabus dan ikan tenggiri inilah yang paling maknyus, rasanya “nendang” tapi tidak liat/alot.

Selain itu, pempek Palembang menjadi terkenal karena rasanya cuko-nya yang pas. Perpaduan pempek yang kenyal-lembut (dan juga garing ketika digoreng) ketika bertemu dengan cuko yang asam-manis-pedas terasa sangat nikmat. Pempek dan cuko menimbulkan rasa kenyang, tetapi tidak membuat eneg. Itulah mengapa pempek selalu nikmat untuk disantap setiap hari. Karbo dari sagu atau tapioka dan protein dari ikan, sudah dianggap pengganti sarapan/makan malam buat sebagian orang.

Membuat pempek itu gampang-gampang susah. Saya yang bertahun-tahun tinggal di Palembang juga tak pandai membuat pempek. Kalaupun rasanya oke, bentuknya suka gak oke.
(Perutnya gendut ya? itu saya lagi hamil adek usia kandungan 5-6 bulan)

Kunci rahasia cuko Palembang yang enak itu ada pada gula batok yang terbuat dari nira pohon aren. Kualitas gula batok berperan besar dalam menentukan rasa cuko itu nikmat atau tidak. Saya sendiri walau sudah lama tinggal di Palembang, sampai sekarang belum paham mengapa gula batok dan gula aren yang sama-sama terbuat dari nira aren, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda. Gula batok berwarna hitam dan keras, sedangkan gula aren berwarna lebih muda dan lebih lembut. Cuko Palembang itu akan terasa enak kalau teksturnya kental. Cuko pempek khas Bangka misalnya, karena menggunakan gula kelapa, cukonya menjadi encer dan berwarna coklat pucat, rasa asamnya berasal dari jeruk kunci/kalamansi. Kata orang Palembang, cuko yang tidak kental hitam itu bagai “kencing kuda” saja.

Gula Batok (Tokopedia : Aops_Shop)

Memilih Pempek yang Berkualitas

Harga pempek tergantung dengan jenis ikan yang digunakan. Jenis ikan dan tingkat kesegarannya akan sangat berpengaruh pada tekstur, rasa, dan aroma pempek. Pempek ikan gabus biasanya berkisar di harga Rp.3.000-Rp.4.000 per buah. Jika pempek terbuat dari ikan gabus dan tenggiri, harganya akan lebih mahal lagi mencapai Rp.4000-Rp.5000 per buah. Kadang ada pempek ikan kualitas bagus agar terlihat lebih murah ukurannya diperkecil. Pempek yang paling mahal itu pempek yang terbuat dari ikan belido karena ikan belido mahal dan langka. Pempek murah, bukan berarti kualitasnya gak oke. Biasanya pempek yang murah dibuat menggunakan campuran ikan gabus dengan yang lebih murah, seperti ikan kakap, ikan betino, ikan parang-parang, sarden, dll. Ikan yang lebih murah rasanya tetap enak, tetapi aromanya lebih menyengat.

Pengalaman Lucu Dalam Berbahasa

Gara-gara Tantangan Ngeblog Mamah Gajah Ngeblog Bulan September 2021 , saya jadi merenungi kemampuan berbahasa saya. Dua tahun lalu saya sempat ikut tes TOEFL, dan hasilnya nilai saya hanya 500 saja saudara-saudara. Terkezutlah saya liat soal-soal grammar itu. Kosakatanya pun saya banyak blank. Selain bahasa Indonesia dan Palembang, saya hampir tidak pernah lagi berbicara dan menulis in English, demikian juga membaca artikel atau buku berbahasa Inggris. Padahal banyak sekali novel berbahasa Inggris saya yang masih bersegel rapi, belum dibaca sama sekali. Ahh, itu baru Bahasa Inggris yang sebelumnya sering saya gunakan. Apalagi bahasa asing lain yang hampir tidak pernah saya gunakan lagi (saya sempat belajar bahasa Jepang, Arab dan Italia level dasar). Ya sudahlah, tak mengapa, toh belum kepake juga (berharap beneran bisa kepake sih nanti, walaupun dijamin pasti udah lupa semua).

Saya sedang mencoba serius belajar bahasa Arab dalam beberapa tahun ke depan, setidaknya sampai level bisa memahami sedikit-sedikit modul/buku berbahasa Arab perkuliahan saya di International Open University (IOU).

Okeh, kali ini saya mau berbgai cerita pengalaman lucu saya dalam berbahasa saja ya. Semoga dapat menghibur!!!

Pulau Bangka dan Ratusan Bahasa

Buat yang pernah tinggal di Pulau Bangka, ada hal yang sangat unik disana. Setiap desa memiliki bahasanya sendiri-sendiri. Bahasa dan logat tiap desa bisa berbeda signifikan. Desa loh … desa ini, ibaratnya kalo di Bandung, bahasa orang Taman Sari ama bahasa orang Cisitu itu udah sangat berbeda, padahal Taman Sari ama Cisitu itu deket kan? Ehhh … pas ke Dipati Ukur, udah beda lagi bahasa dan logatnya. Di Bangka mudah sekali buat kita mengenali asal desa seseorang dari bahasa dan logat mereka saat berbicara.

Bahasa yang paling lucu menurut saya dari salah satu desa di Bangka itu adalah bahasa “Desa yang gak punya huruf S”. Setiap ada kosakata dengan huruf “S” akan diganti menjadi “H” : Sabun dibilang Habun, Masak jadi Mahak, Susu jadi Huhu, Susi Susanti jadi Huhi Huhanti. Kebayang gak sih gimana mereka bilang “Ssssssstttttttt”? Ya silakan aja dicoba dengan mengganti pelafalan S menjadi H … Hhhhhhhtttttttt …

Apakah logat itu genetik atau faktor lingkungan ya???

Bahasa Palembang : Katek VS Dak Katek, OOO galo, dan Jangan Marah Dong!

Temen-temen kantor saya banyak yang berasal dari luar daerah Palembang. Selain harus beradaptasi dengan pempek dan cuko, mereka juga tak henti-hentinya membahas kosakata bahasa Palembang : Katek VS Dak Katek . Arti kata “Katek” itu adalah “Tidak Ada/Enggak Ahhh”. Mereka sibuk meributkan kenapa “Dak Katek” artinya sama dengan “Tidak Ada/Enggak Ahhh”, seharusnya dengan adanya kata negasi “Dak” di depan “Katek” artinya otomatis menegasikan juga kata “Tidak”. Jadi seharusnya, arti “Dak Katek” itu adalah “Ada”. Orang Palembang bantah lagi, kan ada kata “Dak” yang artinya “Tidak/Enggak”, masak arti “Dak Katek” jadi “Ada”? Bingung? Sama, tapi saya males mikir, ya udah lah ya biarin aja, hanya gara-gara “Katek” dan “Dak Katek” bikin mereka terbahak-bahak bahagia. Lebih baik saya mikir, besok makan pempek dimana lagi, itu jauh lebih penting!!!!

Bahasa Palembang juga identik dengan akhiran A yang diubah menjadi O. Semua kata berakhiran A diubah menjadi O. Saat kita melafal kata dengan akhiran A, bentuk bibir kita terbuka dan menarik ke atas, secara otomatis kita seakan seperti tersenyum. Ketika kita melafalkan kata dengan akhiran O, otomatis bentuk mulut kita menutup, memonyong dan mengeras, seakan-akan seperti sedang marah. Okeh, bolehlah kita coba ya. Coba kalian lafalkan kata “dimana” dan “dimano”, kerasa kan beda auranya? Nah … karena mostly bahasa Palembang berakhiran O, maka setiap kali orang Palembang berbicara seakan-akan seperti mau marah. Bertahun-tahun sejak saya pindah ke Palembang (pindah sejak kelas 3 SD), saya menghindari menggunakan bahasa Palembang. Saya sendiri suka terkezuuut kalau berbincang dengan teman-teman sekolah saya. Kerasanya mereka mau marah-marah terus sama saya, padahal enggak, ya itu karena efek akhiran O.

Herannya, setelah saya punya anak, malah saya sendiri yang sekarang hobi berbahasa Palembang, even di kantor sekalipun. Saat presentasi saya bahkan sering menyelipkan bahasa Palembang. Apalagi kalo lagi marah-marah, cas cas cis keluar semua rentetan O O O O O O. Kenapa saya sekarang saya jadi hobi berbahasa Palembang ya? Enggak ngerti juga sih. Yang penting, besok kita makan pempek lagi kan!!!

Gemetaran Gara-Gara Guru Bahasa Inggris

Ehhh ada yang kenal drummer grupband Armada gak? Saya kenal donk, dia teman sekolah saya (terus hubungannya apa, wkwkwkw?). Waktu saya kelas 1 SMP, dia suka jadi penyelamat saya di pelajaran Bahasa Inggris. Saya termasuk siswi yang Bahasa Inggrisnya sungguh sangat payah, dan si drummer Armada itu pinter Bahasa Inggris. Setiap ada tugas LKS Bahasa Inggris, pek ketiplek saya nyontek dia aja. Selamatlah saya di kelas 1 SMP dengan nilai yang gak terlalu jelek karena berhasil mencontek dengan smooth.

Kelas 2 SMP, ternyata Tuhan menakdirkan saya untuk hobi shaking alias gemetaran. Apa sebab? Guru Bahasa Inggris-nya strict abis. Dia tahu betul anak-anak yang payah Bahasa Inggrisnya, dia pepetin terus di setiap jam pelajarannya. Nama saya berulang-ulang disebut saat jam pelajaran guru Bahasa Inggris itu. Alamaaaak Mateeeek sayaaa!! Manalah ngerti saya Bahasa Inggris, “The” aja saya baca “te” bukan “de”. Mati saya, mati saya!! Apalagi setiap ujian (sekali lagi, setiap ujian, setiap) si Bapak hobi sekali berdiri di samping saya sambil senyam-senyum memandang saya yang gemetaran menulis jawaban, sampai-sampai pulpen saya bolak-bolak jatuh ke lantai. Si Bapak tampak sangat menikmati momen-momen shaking saya. Urgghh, helpppppp!!! Kenapa pulak si Bapak ini gak pernah bolos ngajar seperti guru-guru lainnya sih? Stres tauk saya dibuatnya!!!

Cinta Monyet VS Bahasa Inggris

Sejak sering dibuat stres oleh si Bapak Guru Bahasa Inggris kelas 2 SMP, saya jadi terobsesi belajar Bahasa Inggris. Sehari sebelum pelajaran si Bapak, saya pasti sudah mencari satu per satu arti kata artikel yang akan diajarkan si Bapak. Singkat cerita, saya harus berterima kasih sama si Bapak, berkat beliau saya jadi gak bodoh-bodoh amat lah Bahasa Inggrisnya.

Suatu hari, saya mencoba ikut tes beasiswa yang diadakan suatu tempat kursus Bahasa Inggris. Lumayan, beasiswanya kursus gratis selama setahun. Setelah mengikuti serangkaian tes, saya pun berhasil meraih beasiswa tersebut. Saya bebas memilih kelas/level apa yang mau saya ikuti. Saya akhirnya memilih kelas persiapan menjadi guru Bahasa Inggris, trial dulu lah karena Mama menyuruh saya untuk jadi guru Bahasa Inggris saja nanti. Setelah serangkaian pelatihan menjadi guru, tiba waktunya saya untuk magang di kelas-kelas dengan level yang berbeda-beda, mulai dari Elementary sampai level Advanced. Suatu hari saya harus mengajar di kelas Intermediate. Level Intermediate biasanya diisi oleh anak-anak SMU, anak kuliahan, bahkan beberapa sudah bekerja. Supaya tidak disangka anak SMU dan murid bisa respect sama saya saat mengajar, penampilan saya buat sok tua dan sok bijaksana. Salah satu murid laki-laki yang seumuran dengan saya, sepertinya tahu kalo saya masih guru abal-abal aka magang, jadi sepanjang pelajaran dia bolak balik senyum melihat saya, gak tahu karena meremehkan atau apa. Setiap saya mengajar, dia selalu seperti itu.

Suatu hari, dari dalam angkot, saya melihat murid cowok itu (selanjutnya saya sebut “Dia” saja ya) beserta rombongan teman-temannya sedang menunggu angkot di halte. Dari jauh saya sudah komat-kamit berdo’a jangan sampai Dia seangkot sama saya. Nanti jadi ketahuan donk kalau saya cuma anak SMU karena saat itu saya sedang menggunakan seragam SMU. Untunglah Dia dan teman-temannya tidak jadi naik angkot yang sedang saya tumpangi.

Tak berapa lama, di suatu kompetisi debat Bahasa Inggris, tiba-tiba saya dihampiri oleh salah satu cowok yang senyam-senyum melihat saya. Ya Tuhan, akhirnya ketahuan juga kalau saya baru anak SMU sama si Dia. Untung Dia tidak jadi lawan debat saya, tapi saya tahu kalau Dia menonton saya lomba debat. Tak berapa lama berselang, saya bertemu lagi dengan murid saya itu di suatu tryout SPMB. Arghh, saya jadi gak bisa jaim lagi donk saat mengajar di depan cowok yang bikin saya jadi debar-debar dan salah tingkah itu, entah karena malu ketahuan atau karena cinta monyet. Saya tahu koq, setelahnya, diam-diam kita masih suka saling mencari dan mencuri pandang, uhuyyy!!! (itu pertama kalinya saya merasa salah tingkah di depan cowok dan untung gak berlanjut! Salah tingkah itu bikin gak bisa konsentrasi, euy!)

Mouth to Mouth

Ini cerita memalukan saya yang jadi favorit suami, soalnya paling sering dia ungkit-ungkit. Suatu hari, teman saya meminta bantuan saya untuk membuat proposal bisnis untuk suntikan modal usaha yang akan dia ajukan ke inkubator bisnis. Proposal yang saya buat cukup keren lah karena berhasil menarik perhatian para juri. Presentasi hari itu menjadi momen tak terlupakan buat saya karena saya ditertawakan sampai mampus sama para juri karena sok Meng-English-kan Bahasa Indonesia. Maksud hati ingin bilang, salah satu metode pemasaran yang akan kami lakukan adalah dengan cara “dari mulut ke mulut” dan dengan pede-nya saya tulis “Mouth to Mouth“. Oalahhh, jadi ketahuan deh amatirannya. Saya bahkan baru tahu kalau in English “pemasaran dari mulut ke mulut” itu adalah adalah “Word of Mouth”.

Sumber : blog.okutamarketing.com

Belajar Bahasa Italia, demi …

Dulu saya pernah ikut kursus Bahasa Italia di Lembaga Bahasa ITB. Iseng aja sih, biayanya murah soalnya, cuma Rp.100.000 per bulan atau per tiga bulan (saya lupa tepatnya). Lumayan kalau bisa buat nambah panjang CV, kan?

Suatu hari, Insengante-nya membahas pelajaran tentang bagian-bagian tubuh. Lalu dibahas lah tentang hobi orang Itali melakukan operasi plastik atas “kelebihan-kelebihannya”. Yah, maksudnya begini, orang Itali hidungnya terlalu mancung, sehingga mereka melakukan operasi untuk “mempesekkan hidungnya” (ngerti kan ya maksudnya?). Orang Italia bibirnya tipis-tipis, sehingga mereka melakukan operasi plastik untuk “mememblekan bibirnya”. Insengante tak habis-habisnya mencontohkan saya sebagai favorit orang Italia karena berhidung pesek mengembang dan berbibir tebal. Sejak saat itu saya jadi rajin belajar Bahasa Italia. Saya berhayal, siapa tahu nanti saya bisa menikah dengan orang Italia dan memperbaiki keturunan saya. Pede saya meningkat drastis. Sebagai cewek yang kurang laku secara fisik di Indonesia, saya bisa dianggap cantik koq di Italia! Padahal mungkin, Insegnante hanya iseng saja menjadikan saya contoh, membuat saya ge-er. Hahaha, dasar anak muda!!!

Media Sosial : Masih Perlukah?

Ayo Baca Al-Quran

Suatu ketika saya dibuat tertohok salah satu postingan di Instagram yang isinya kurang lebih bertanya tentang berapa banyak waktu yang saya habiskan untuk membaca dan memahami Al-Qur’an yang merupakan petunjuk dan pedoman hidup saya dibanding dengan membuka dan membaca media sosial. Tangan saya langsung gemetaran saat itu karena saya sedang memegang Al-Qur’an yang satu jam lalu ingin saya baca, tetapi akhirnya saya lupa membacanya karena keasyikan scrolling media sosial.

Sebenarnya, sudah beberapa tahun terakhir saya membatasi diri dengan media sosial, hanya sedikit aktif di Instagram. Setiap saya membuka Instagram, niat awalnya hanya untuk stalking sebentar saja, tetapi sayangnya selalu berujung dengan kebablasan, tidak terasa waktu berlalu begitu saja. Terkadang, saya menutup media sosial saya dengan hati yang bahagia karena mendapatkan informasi yang sangat berguna, tetapi seringkali juga berujung dengan rasa frustasi karena mulai membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain (yang mungkin juga sedang pura-pura bahagia dan sejahtera).

Melansir data dari datareportal.com, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktunya menggunakan media sosial dalam sehari adalah 3 jam 14 menit dari total waktu harian mengakses internet yang rata-rata mencapai hampir 9 jam per hari.

Daily Time Spent Using Social Media by Country January 2021 DataReportal

Sayangnya, dengan waktu yang kita habiskan berjam-jam di media sosial tersebut, walaupun sudah kita filter sedemikian rupa, tidak semua informasinya kita butuhkan, banyak diantaranya adalah junk information yang sangat mungkin akan mengganggu stabilitas emosi, pikiran dan hidup kita. Saya termasuk salah satu yang sangat terganggu dengan disrupsi informasi era post-truth saat ini. Rasanya gampang sekali emosi saya tersulut untuk meng-interupt pendapat-pendapat yang tak berdasar. Berdebat dengan orang-orang yang tidak paham apa yang dia tulis atau share rasanya bikin hati panas. Ihhh … gemessshh deh.

Reasons for Using Social Media January 2021 DataReportal

Daripada pusing melihat “apa yang tidak kita sukai atau setujui”, saya sendiri lebih baik menutup aksesnya sekalian. Somehow, sejauh ini penilaian saya tidak salah. Orang-orang yang saya “tandai” sebagai orang-orang yang suka “ribut gak jelas” di media sosial adalah orang-orang yang biasanya juga kurang atau bahkan tidak kompeten dalam kehidupan nyata.

Mempersiapkan Dana Pensiun Itu Penting!

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat. Jika merunut pada konteks ini maka mempersiapkan dana pensiun juga merupakan salah satu hal krusial karena menyangkut kesejahteraan masa tua.

Sebelas tahun ini saya berkecimpung dalam mengelola program-program kesejahteraan karyawan, salah satunya adalah program pensiun. Banyak kisah menyedihkan yang terjadi pada para pensiunan akibat kurang aware dengan persiapan masa pensiunnya. Banyak pejabat penting di perusahaan tempat saya bekerja karena sejak awal bekerja di perusahaan sudah disiapkan fasilitas rumah dinas dan segala fasilitas pendukungnya (seperti furniture, pemakaian listrik dan air yang tak terbatas), jadi terlena tidak mempersiapkan masa pensiunnya dengan baik. Mereka ketika memasuki masa pensiun baru sibuk mau membeli rumah. Uang pesangonnya pun jadi habis tak bersisa untuk membeli rumah, bahkan banyak diantaranya yang menolak untuk dikeluarkan dari rumah dinas, sampai-sampai harus kami usir. Sungguh menyedihkan bukan?

Selain pesangon, perusahaan tempat saya bekerja juga menjamin dana pensiun bulanan, walaupun nilainya tidak sebesar gaji bulanan seperti pada saat masih aktif bekerja. Manfaat pensiun yang dijamin perusahaan tempat saya bekerja terhitung lumayan besar dibanding perusahaan lain, bahkan dijamin dengan kenaikan sampai 6% compound per tahun (ini tertinggi se-Indonesia, loh!). Sayangnya lagi, banyak pensiunan yang merasa kekurangan. Tidak sedikit yang akhirnya berhutang sana-sini, bahkan sampai ada kasus pensiunan memalsukan kematiannya supaya hutangnya bisa dianggap lunas oleh Bank dan istrinya bisa berhutang lagi. Double menyedihkan kan ya?

Okeh, cerita ke-tiga yang tidak kalah menyedihkannya. Ada pensiunan yang memalsukan kondisi kesehatannya sedemkian rupa sehingga bisa mengambil dana pensiun bulanannya sekaligus. Sayangnya dana itu dia serahkan sepenuhnya ke selingkuhannya. Tak berapa lama pensiunan itu pun ditinggalkan selingkuhannya. Yup, ending-nya ngeri, si pensiunan sampe harus ngemis-ngemis ke siapa pun karyawan kantor yang melintas, dikasih Rp. 2.000 pun oke.

Banyak kisah pensiunan (tapi kejadiannya bukan pensiunan perusahaan saya bekerja ya) yang setiap bulan berpura-pura sakit hanya supaya ia bisa mendapat makanan gratis di Rumah Sakit karena tidak punya uang untuk membeli beras.

Ada banyak sekali cerita menyedihkan lainnya tentang para pensiunan itu. Tidak sedikit yang terpaksa menjadi tukang ojek, buruh cuci dan jadi terlantar (eh, tapi ini sudah general ya, bukan terjadi di perusahaan saya bekerja saja). Mempersiapkan dana pensiun itu sangatlah penting dan sudah harus disiapkan sejak kita aktif bekerja. Jika usia harapan hidup masyarakat Indonesia saat ini rata-rata mencapai usia 71,5 tahun, yuk coba kita mulai menghitung berapa yang harus kita tabunh mulai saat ini agar kehidupan masa tua kita juga sejahtera. Teman-teman yang sudah dijamin manfaat pensiunnya oleh perusahaan tempat bekerja, yuk mulai menganalisis apakah kesejahteraan hari tua yang diberikan perusahaan cukup untuk menyokong kebutuhan hidup dan lifestyle kita. Teman-teman yang sekarang berwirausaha, mungkin boleh melirik program Jaminan Pensiun di BPJS Ketenagakerjaan atau lembaga lain yang kredibel.

Ahh … kapan-kapan saya sharing ya bagaimana mempersiapkan dana pensiun, lembaga apa saja yang kredibel untuk mengelola, dana apalagi yang harus dipersiapkan untuk kesejahteraan hari tua, dll. (PS : kalau sempat dan ingat, hyaaaaa)

Belajar menulis gara-gara pak bos

Kenapa ya dulu tugas mengarang itu hanya diberikan pada saat hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang akhir tahun pelajaran? Tugasnya juga sama bertahun-tahun : ceritakan pengalaman liburan, dikerjakan di kertas folio bergaris dan ditulis minimal sekian halaman. Setelah memberikan tugas mengarang tersebut, gurunya ninggalin kita seharian dengan alasan rapat guru di awal tahun pelajaran. Setelah itu pun, tugas mengarang itu hanya diganjar dengan nilai seadanya tanpa feedback apapun. Seandainya guru-guru dulu lebih kreatif dengan sering meminta muridnya untuk menulis, seperti menulis tentang hal-hal favorit, membuat laporan investigasi, menuliskan hasil wawancara, membuat naskah parodi, dsb, tentu menulis akan menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan. Yah, tidak semua anak punya passion untuk menulis, tapi lingkungan dapat memecutnya, setidaknya sampai pada kemampuan menulis dengan struktur kalimat yang baik dan benar.

Saya juga termasuk yang kemampuan menulisnya sangat parah. Kemampuan saya mulai membaik saat saya di-coach oleh manajer saya selama beberapa bulan. Setiap surat dan laporan yang saya tulis jika sudah sampai ke tangan manajer saya hanya akan tersisa kalimat “Dengan hormat” dan “Terima kasih”, isinya bahkan sampai ke penutupnya habis babat-bingkas dicorat coret sana sini. Lama-lama saya paham bagaimana constract berbagai jenis surat dan laporan, menyiapkan data, menyampaikan argumentasi bahkan mengarahkan konklusi.

Seiring kemampuan literasi menulis saya meningkat, meningkat pula kemampuan numerasi saya. Setiap menulis laporan, saya terlebih dahulu harus mengevaluasi, mengkritisi, mendesain program, dan menghitung setiap usulan yang saya propose termasuk semua resikonya. Tadinya saya hanya menulis laporan hitungan konsultan, lama-lama saya bisa sendiri menghitungnya. Alhasil, saya jadi sangat dicintai unit kerja saya, sampai tidak pernah dibolehkan rotasi atau mutasi hampir 11 tahun ini walau saya sudah sampai memohon kemana-mana agar diizinkan mutasi. Sedih ya, alasannya sih selalu karena belum ada yang mampu menggantikan kemampuan saya. Duh, jika berkaca dari pengalaman saya, asal mau belajar, dari yang tidak paham sedikit pun, jika terus berlatih, lama-lama akan mampu, koq!

Pelajaran bersama pak bos itu juga akhirnya mendorong saya untuk belajar menulis dan mendorong anak-anak saya nanti untuk suka menulis. Saya jadi teringat dengan cerita teman saya tentang salah satu konsep literasi yang ingin dia bangun saat berkeluarga : “Saya ingin anak-anak saya suka membaca, tapi lebih ingin lagi anak-anak saya bisa menuliskan ide dan pikirannya dalam bentuk tulisan”. Setiap satu buku yang dibaca anak saya, harus dia tuliskan summary dan kesannya, lalu akan teman saya diskusikan bersama anaknya. Suatu ide sangat menarik menurut saya. Selain melatih anak untuk menulis juga membuka ruang diskusi orangtua dan anak.

Kalau kamu, gimana perjalanan literasimu?

Saya dan Literasi

Berdasarkan hasil survei UNESCO, hanya 1 dari 1.000 masyarakat Indonesia yang gemar membaca, what a shock! Demikian juga dengan riset yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, yang menyatakan Indonesia berhasil menyabet peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca (untung nih ya, untung nih, gak masuk peringkat terakhir). Walaupun belum ada pengukuran peringkat bertaraf Internasional terbaru, tetapi berdasarkan pemeringkatan nasional, Indek Kegemaran Membaca (IKM) Indonesia sudah menunjukkan peningkatan dari skor 26,5 di tahun 2016 menjadi 55,74 pada 2020. Jika dalam hal minat dan kegemaran membaca saja kita masih ketinggalan jauh, apalagi dalam hal literasi.

Indonesia menempati rangking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi

Survei Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 yang dilirilis oleh OECD

Sayangnya sampai saat ini belum ada survei yang dapat mengukur tingkat literasi suatu bangsa. Jika ditilik lebih dalam lagi, tentunya tingkat literasi masyarakat Indonesia bisa jauh lebih mengenaskan karena responden data di atas adalah anak sekolah usia sekitar 15 tahun yang memiliki waktu dan sarana yang cukup untuk mengakses beragam produk literasi. Padahal, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk di Indonesia di atas 15 tahun yang melek huruf mencapai 96,07%. Penilaian kemampuan literasi pada PISA tidak hanya mengukur minat dan kemampuan membaca, tetapi lebih didominasi keterampilan berpikir tingkat tinggi berupa kemampuan interpretasi, refleksi, dan evaluasi. Kemampuan membaca yang diujikan adalah mengungkapkan kembali informasi; mengembangkan interpretasi dan mengintegrasikan; dan merefleksikan dan mengevaluasi teks. Sedihnya, sejak tahun 2000, survei PISA yang dilakukan tiap tiga tahun sekali itu menunjukkan tingkat literasi anak Indonesia semakin menurun dari tahun ke tahun.

Pengertian literasi sendiri menurut UNESCO adalah “seperangkat keterampilan nyata, terutama keterampilan dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks yang mana keterampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya”. Jika saya membaca lebih lanjut pengertian literasi dari beberapa pakar dan pengertian literasi dasar yang ingin dikembangakan oleh Kemendikbud, konteks literasi tidak terbatas dan hanya mencakup membaca dan menulis saja, tetepi lebih kompleks dari itu karena mencakup berbicara dan menyimak (Elizabeth Sulzby, 1986); mengenali serta memahami ide-ide secara visual (kamus online Merriam – Webster); interaksi dengan seseorang yang menguasai literasi (NAEYC); kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya (EDC).

Kemampuan Literasi Saya?

Saya sendiri walaupun sedari kecil sudah gemar sekali membaca, tetapi lingkungan saya dan diri saya sendiri tidak membiasakan dan memecut saya untuk berfikir kritis. Jangankan berfikir kritis, kadang menginterpretasikan atau menyimpulkan apa yang saya baca pun saya mengalami kesulitan. Demikian juga dengan menulis, saya sangat tidak terbiasa menulis, bahkan menulis buku harian pun tidak, apalagi jurnal-jurnal yang sungguh membutuhkan kajian literatur ilmiah dan data pendukung yang valid dan akurat. Orang-orang seperti saya, jika ikut menjadi responden survei PISA, tentu akan memperburuk nilai yang memang sudah buruk. Sungguh ironis, padahal secara akademik (jika pengukuran hanya berdasarkan nilai-nilai konkret saya saat sekolah) saya termasuk anak yang berprestasi. Bisa dibayangkan bagaimana dengan teman-teman saya yang secara akademik jauh di bawah saya yang hampir dipastikan malas membaca dan menulis?

Selain makanan, amunisi saya di kantor adalah buku-buku (walau kadang berbulan-bulan gak sempet dibaca)

Menulis adalah kewajiban dalam literasi

Menulis tantangan dengan tema literasi ini memberikan saya sebuah kesadaran bahwa ternyata menulis itu merupakan salah satu bagian dari literasi yang tidak dapat dipisahkan. Menulis bukan suatu pilihan tetapi suatu keharusan, sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (interpretasi, refleksi, dan evaluasi). Saya sendiri awalnya menulis karena dorongan dari suami saat melihat saya kesulitan mengingat dan memahami apa yang sudah saya baca. Ternyata, menulis itu cukup sulit, loh! Banyak teman saya yang bahkan menulis status di social media pun mengalami kesulitan. Tentunya, menulis itu akan jauh lebih sulit jika tidak pernah dibiasakan.

Sumber :

Kantor, Me Time, dan Haha-Hihi

Wah … tampaknya saya sudah melipir dari dunia “persosialisasian” satu dekade terakhir. Sejak saya menikah, sakit-sakitan, punya anak autis, saya hampir tidak pernah duduk manis ngobrol-ngobrol santai dengan siapa pun, termasuk dengan suami sekalipun. Hidup saya seperti selalu berkejaran dengan waktu. Bekerja di kantor yang setiap hari selalu dikejar deadline, harus sering dinas, harus standby 24 jam melayani karyawan, dan sedihnya juga harus mengerjakan pekerjaan rekan-rekan kerja saya yang kurang bertanggung jawab itu saja rasanya sudah sangat melelahkan. Sampai rumah, saya harus kerja keras lagi membagi waktu mengurus rumah tangga dan anak, dalam keadaan sakit-sakitan pula.

Buat saya yang memiliki kepribadian sanguin dan koleris yang dominan, tentu menjadi pribadi yang jarang bersosialisasi itu sebuah siksaan buat saya. Sebelumnya, hidup saya bergelimang ajakan nongkrong sana nongkrong sini, punya teman di pojokan sana-sini dan punya segudang aktivitas. Katanya suami sih, salah satu hal yang dulu menjadi hal yang memberatkan dia waktu mau melamar saya karena saya itu pecicilan, gak bisa diem. Sok sibuk sedunia. Sok penting sedunia. Sok ngatur sedunia. Gak tau apa yang diatur, dipentingin dan disibukin. Hahaha … yayayayaya. Omongan suami itu setelah saya renungkan ada benernya juga, dari segala ke-sok-sibukan saya itu saya udah “menghasilkan prestasi” apa aja juga gak jelas.

Selama sepuluh tahun, saya benar-benar tidak berteman dengan siapapun kecuali teman kantor dan mamah-mamah dari teman anak saya terapi (yang artinya orang tua ABK juga). Kehidupan sosial saya dari hari ke hari diisi dengan chit-chat dengan orang tua anak ABK yang isinya kalau tidak curhat ya sharing treatment apapun yang mungkin dapat kami upayakan untuk perkembangan anak kami.

Satu-satunya tempat saya bisa bersosialisasi adalah di kantor. Sayangnya, hanya ada segelintir anak muda di Departemen tempat saya bekerja, selebihnya adalah para suhu dan sepuh. Dua kubu tua-muda ini jarang bersatu padu, kecuali saat menyantap “traktiran” sore. Para sepuh yang merasa sudah banyak makan asam garam, hobinya hanya sibuk ceramah dan ber-hahahahaha, tapi selalu sigap menyiapkan kudapan penggugah selera. Para muda yang selalu merasa diperdaya, hanya bisa pasrah menerima sogokan makanan para sepuh yang selalu menggoda.

Saya sendiri? Sudahlah, hidup saya sudah banyak drama, mending gak ikut kubu-kubuan. Sebisa mungkin saya bersikap baik ke semua orang di kantor karena di kantor lah satu-satunya tempat saya bisa me time duduk nongkrong di toilet sambil membuang hajat yang sudah saya tahan berjam-jam di rumah, tempat saya bisa duduk sambil mengangkat kaki saat mengetik, tempat saya bisa bekerja sambil mendengarkan siaran berita atau drama India dari TV yang tidak pernah berhenti dihidupkan sejak masuk kantor sampai waktunya pulang, tempat kami mengeluarkan celetukan dan candaan tanpa henti (tangan kerja keras, mulut kerja lebih keras), tempat kami menonton pertandingan bola atau badminton sambil beryel-yel ria ditemani dengan segelas kopi atau coklat hangat dan bertumpuk-tumpuk kerjaan deadline, tempat kami terkadang berantem dengan karyawan lainnya (oiya, saya kerjanya di Dept. HR ya), tempat saya bisa membahas tanaman sampai puas (oh … bersyukurlah setengah isi Departemen saya adalah penggila tanaman). Ya … di kantor lah satu-satunya tempat saya bersosialisasi, itu pun seadanya. Selain di kantor, saya bahkan tidak pernah berinteraksi dengan teman-teman kantor, saya tidak pernah ikut kegiatan apapun. Mereka paham kerempongan saya karena mereka sendiri pun suka pusing liat saya ngejer-ngejer anak saya kesana kemari tanpa henti.

Jadi … gimana kehidupan sosialisasi saya saat pandemi? Ya … sami mawon, gak ada yang berubah karena pada dasarnya emang udah jarang bersosialisasi. Untunglah saya masih bisa ngantor setiap hari (dengan protokol ketat tentunya, dan bersyukur sampai saat ini walau kami satu persatu terjangkit Covid-19, tetapi tidak ada yang berasal dari cluster kantor), walau pekerjaannya sudah membuat saya demotivasi parah dan seringkali harus menangis, tapi rekan-rekan kerja saya selalu bisa membuat saya tersenyum dalam hitungan detik.

Perayaan Tujuh Belasan

Tahun ini adalah tahun ke-dua masyarakat Indonesia merayakan hari kemerdekaannya dalam kondisi pandemi covid-19. Bagaimanapun, walau dalam suasana berkabung karena lebih dari 100.000 rakyat Indonesia meninggal karena covid-19 terhitung sejak Maret 2020 lalu, tetapi tidak akan menyurutkan rasa syukur dan bahagia kita atas kemerdekaan yang telah kita nikmati selama 76 tahun ini.

Lalu, mengapa kemerdekaan itu harus selalu dirayakan? Ahhh … sungguh suatu nikmat kemerdekaan itu tiada taranya, makanya patut untuk dirayakan! Lihatlah negara-negara yang sampai saat ini mengalami konflik atau penjajahan (secara tidak langsung). Bergidik rasanya menyaksikan begitu banyak nyawa yang dikorbankan; begitu susahnya mereka mendapat akses untuk hidup layak (sandang, pangan dan papan) dan pendidikan; begitu suram dan seramnya hidup mereka di bawah ancaman dan tekanan; begitu mengerikannya hidup dengan bombardir senapan, misil, bom, ranjau; dsb. Di Indonesia, kita bisa bebas, yah walaupun masih belum bebas dalam banyak hal seperti bebas dari kemiskinan, bebas buta aksara, dsb, tetapi setidaknya kita bebas untuk kemana saja tanpa pernah takut dengan ancaman dan suara senapan (wkwkwk … walau mungkin takut juga sih dengan copet atau begal).

Perayaan hari kemeredekaan selalu ditunggu-tunggu segenap rakyat. Suasana dekorasi perayaaan di tengah pandemi kali ini masih semeriah biasanya, walau hampir semua kegiatan fisik dan berkumpul yang menimbulkan kerumunan ditiadakan. Biasanya perayaan kemerdekaan di perusahaan tempat saya bekerja dilaksanakan sampai berhari-hari lamanya, tetapi sejak pandemi melanda semua perayaan dilaksanakan secara virtual, baik itu halabilhalal, kuis, lomba, dsb. Perayaan-perayaan virtual ini ternyata sama serunya dengan perayaan fisik. Sayangnya, pada perayaan kemerdekaan kali ini, perusahaan tempat saya bekerja malah tidak melangsungkan lomba-lomba seperti biasanya. Entahlah apa sebabnya, mungkin sedang sibuk menggenjot produksi oksigen medis dan dan pelayanan oksigen gratis ke masyarakat. Bagaimanapun, dengan perayaan atau tanpa perayaan kita tetap akan selalu bahagia dan bersyukur akan anugerah kemerdekaan. Bagaimanapun, kami akan selalu bangga menjadi bangsa Indonesia.

ITBMotherhood, MaGata dan MGN

Saya jadi teringat tujuan saya membuat blog beberapa tahun lalu. Saya yang sedang mengalami depresi membutuhkan ruang untuk curhat sebagai bagian dari healing. Ya … habis mau gimana lagi, kondisi saya saat itu tidak memungkinkan saya untuk berteriak minta bantuan siapapun selain diri saya sendiri dan Tuhan, jadi saya harus punya wadah untuk mengeluarkan semua “sampah” yang ada dalam hati dan fikiran saya. Isi postingan blog saya gak jauh-jauh dari seputaran curhat kelelahan dan kemarahan saya di kantor, tentang anak, dan curhat penyakit gerd yang saya alami sampai tujuh tahun lamanya.

Saat tahu ternyata kita juga bisa blog walking ke blog orang lain, saya akhirnya “terjebak” dalam lingkaran pergaulan para karyawan Departemen Keuangan. Dari mereka saya mulai belajar banyak hal dan secara tidak langsung mendapat suntikan semangat untuk bangkit dari keterpurukan saya. Namun, seringkali malah saya dibuat terpuruk lagi. Habis baca tulisannya mereka bagus-bagus sih, anak-anak mereka hebat-hebat, karir mereka keren-keren, kehidupan mereka sepertinya sangat menyenangkan, jauh berbeda dengan kehidupan saya. Eeaaa … lagi-lagi kalau sedang depresi itu, kita sepertinya amat sangat mudah iri dengan kehidupan orang lain, ya!

Akhirnya saya coba buka-buka Facebook, satu-satunya media sosial yang saya ikuti saat itu. Dilla Satya adalah teman dekat saya saat kuliah dan beliau memang cukup aktif di Facebook (FB). Atas dasar suka curhat di FB dan dapet pencerahan keren-keren dari para mamah gajah, beliau kemudian menginisiasi grup ITBMotherhood. Awalnya grup itu membahas seputar pengasuhan- pendidikan anak dan ASI, tetapi lama kelamaan membesar dan mencakup hampir semua aspek. Duh, cobalah tanya apapun ke grup itu, pasti akan dijawab panjang kali lebar kali tinggi sama para mamah gajah. Semua bebas mengekspresikan pendapatnya dengan tetap santun. Saya belum pernah ngerasain se-tercerah dan se-bahagia itu bergaul di dunia maya, serasa dekat aja satu sama lain, padahal gak saling kenal dan terkadang sangat terpaut jauh usianya. Satu-satunya hal yang bikin pusing tujuh keliling bergabung di ITBMotherhood itu cuma satu : jualan para mamah yang selalu menggoda.

Semenjak saya puasa buka FB (kira-kira sejak pilpres periode ke-dua duel Jokowi dan Prabowo), otomatis saya jadi ikut puasa dari grup ITBMotherhood. Too much information will kill you, hal tersebut berlaku untuk saya. Lama-lama saya pusing baca semua posti ngan disana, bingung mana info yang penting buat saya dan mana yang enggak. Awalnya berat untuk gak cheating buka FB saat market day di ITBMotherhood, tapi lama-lama saya jadi terbiasa juga. Sejak saat itu, saya jadi tidak terkoneksi dengan mamah gajah manapun, kecuali melalui instragram yang hanya saya buka sekali-sekali.

Suatu hari, Nika mem-posting tentang Mamah Gajah Bercerita (MaGaTa) di posting-an IG-nya, sebuah sub-grup di ITBmotherhood untuk mewadahi para mamah gajah yang suka tantangan dan bercerita. Beberapa kali saya mem-posting tulisan tantangan MaGaTa di IG, tapi sepertinya tidak pernah mendapat respon, terlebih IG saya digembok. Ternyataaaa … saya belum terdaftar resmi di grup untuk menjadi “anggota yang tertantang”, gubrakkk. Tak lama kemudian, berseliweran juga iklan sub-grup Mamah Gajah Ngeblog (MGN) di IG, tanpa pikir panjang saya pun mendaftar. Sungguh nekat ya Mah, padahal saya itu gak berbakat menulis, tidak punya passion menulis dan blog saya juga udah hiatus lama bangeeeettt.

Jadi, kenapa nekat ikutan MaGaTa dan MGN kalo gitu?

Awalnya sih karena saya pengen eksis sekali-sekali di IG dengan menulis caption agak berbobot, tapi malah tulisan tantangannya saya tulis di blog. Mungkin saya pengen bisa menulis artikel atau fiksi dengan baik, tapi sampai sekarang antena inspirasinya gak muncul-muncul dan kemampuan nulis saya masih zonk besar. Mungkin saya kangen aja sih bercengkrama sama para Mamah, tapi dengan format yang lebih gak nge-jlimet bahasannya. So far, saya bahagia aja gitu kalau berhasil menuntaskan tantangannya walau kualitasnya masih terseok-seok bingiiitzzz.