Keberagaman di Pelesiran 13

Sedari kecil saya sudah terbiasa bergaul dengan berbagai kalangan, tetapi bergaul dengan berbagai keberagaman saat kuliah di ITB adalah suatu pengalaman paling mengesankan dan menyenangkan yang pernah saya alami dalam hidup saya.

Saya adalah orang pertama dari SMU saya yang masuk ITB, tanpa sanak saudara, benar-benar merantau seorang diri. Sejak pertama kali saya berinteraksi dengan calon mahasiswa ITB waktu pendaftaran ulang di Sabuga, saya sudah sangat yakin saya akan happy sekali menjalani perkuliahan di ITB, sama yakinnya saya kalau saya tidak akan bisa mengejar kecerdasan anak-anak ITB yang sangat luar biasa (belum apa-apa udah keder, ya harus tahu diri lah ya sama kemampuan diri yang memang gak seberapa). Di ITB berkumpul mahasiswa dari Sabang sampai Merauke : beragam bahasa, beragam suku, beragam agama, beragam karakter, beragam tingkat ekonomi, beragam-beragam banget lah pokoknya. Percakapan dengan gampangnya mencair hanya dengan menertawakan bahasa dan logat masing-masing. Saya bisa puas menonton pertunjukan atau pegelaran dari berbagai propinsi untuk pertama kalinya adalah saat kuliah di ITB. Sunguh cantik luar biasa budaya Indonesia yang sangat beragam ini, sungguh suatu kekayaan sangat tak ternilai!

Selain di kampus, miniatur mini keberagaman yang sangat saya nikmati adalah keberagaman di kosan. Saya bersama enam orang lainnya yang berbeda latar belakang dan belum pernah bertemu sama sekali dipaksa untuk saling menghargai, memahami dan menyayangi karena berada dalam satu atap. Pelesiran 13 adalah rumah kosan kami. Rumah dengan enam kamar tidur (yeah … tidak bisa dibilang kamar tidur lagi bukan kalau semua aktivitas dilakukan di dalam kamar?), dua kamar mandi, ruang tamu, dapur kecil dan laundry room. Rumah dengan penghuni beragam suku : ada orang Palembang (yang asli Bangka), ada orang Jawa, orang Ambon, orang Jakarta (yang asli Tegal), orang Cimahi, orang Buton, orang Padang Sidempuan, orang Padang, dll. Loh koq lebih dari enam? Karena usia kami juga beragam, maka selalu ada yang masuk dan keluar tiap tahunnya. Setiap ada anak kosan baru yang bergabung selalu berasal dari daerah yang berbeda dengan penghuni lama. Kebayang ya gimana ramenya kosan yang hanya berpenghuni enam orang itu? Selain itu, kami juga berasal dari universitas dan jurusan yang berbeda. Wuihh … seru rasanya saat saling “ejek” mana yang lebih keren : anak ITB dengan sepatu kets kayak anak TK atau anak Unisba dengan sepatu kletak-kletok kayak artis? Setelah sibuk saling “ejek” lalu dilanjutkan dengan masak bareng, nonton bareng, makan bareng, liat katalog kosmetik bareng, dll.

Tidak selamanya kami rukun-rukun juga, seringkali juga kami bermasalah. Tentunya itu bukan karena perbedaan budaya kami, tapi sungguh semata karena karakter atau kepribadian kami. Saya misalnya yang sudah beberapa minggu harus berangkat subuh dan pulang malam karena banyak sekali tugas kuliah dan kegiatan di unit mahasiswa, jadi melewatkan menyikat kamar mandi, menyapu, mengepel dan membuang sampah yang seminggu sekali menjadi kewajiban saya di kosan. Terkadang ada yang tidak patuh terhadap aturan, seperti tidak izin ke anak kosan saat ada teman laki-laki akan masuk ke ruang tamu. Yah … semua itu coba kami selesaikan dengan kepala dingin, walau beberapa masalah malah tidak terselesaikan. Namun tak mengapa, karena toh tidak semua perbedaan itu harus selalu indah bukan? Tidak selamanya konflik itu harus diselesaikan. Semua menjadi pembelajaran yang berharga untuk kami.

Dari Pelesiran 13 saya belajar banyak hal tentang keberagaman. Saya belajar untuk saling menghargai, mengatasi konflik, belajar bahasa daerah lain, masakan daerah lain, dan banyak hal indah lainnya. Pelesiran 13 adalah keluarga saya, orang-orang yang pertama kali akan membantu jika salah satu dari kami sakit atau bermasalah.

Hey kalian Pelesiran 13-ers, I miss You All a lot sistaaahh

It needs a nation to raise a kid

Orang tua saya dibesarkan dari keluarga miskin, mereka paham betul bagaimana rasanya sering direndahkan orang. Saat menikah, secara finansial orang tua saya masuk dalam kategori menengah bagi penduduk di suatu kota kecil di pulau Bangka. Sejak kecil saya sudah disediakan fasilitas yang lumayan untuk ukuran kota kecil tersebut : punya CD Player, sepeda, TV beserta parabola, tape yang bisa karaoke, dll, bahkan sandal yang rapi dan cantik (teman-teman saya bahkan banyak yang masih nyeker saat bermain). Rumah saya akan penuh sesak dengan anak-anak kampung saat jam tayang Doraemon, Yankuro, Satria Baja Hitam, Legenda Ular Putih, Kak Yoko, dll. Bahkan, saat telenovela seperti Maria Marcedez tayang, rumah kami akan dipenuhi dengan rombongan ibu-ibu beserta anak-anaknya. Di saat yang lain, orang tua saya juga sering mengajak saya ke rumah teman-teman mereka yang kaya dan berpendidikan tinggi.

Sejak kecil saya dibiasakan untuk berteman dan bersosialisasi dengan siapa saja. Saya melihat langsung bagaimana orang tua saya bergaul tanpa pandang bulu dan bersikap sama baiknya dengan siapa saja. Saya juga jadinya terbiasa bergaul dengan siapa saja, dari yang bodoh sampai yang pintar, yang kaya dan yang miskin, yang alim, yang berbeda keyakinan, bahkan sampai yang nakalnya na’udzubillah. Orang tua saya tidak pernah khawatir jika saya akan salah pergaulan, walau terkadang di rumah saya tiba-tiba didatangi anak-anak punk yang belum mandi berhari-hari lamanya atau anak-anak hard core yang gimbal dan sangar-sangar serta berani makan darah ayam, dll. Rumah saya benar-benar didatangi berbagai kalangan.

Terkadang saya pulang sambil menangis saat cerita ke Mama karena baru pulang dari salah satu rumah saudara teman saya. Saya melihat anak-anak kecil dengan perut buncit tapi badannya kurus yang menandakan mereka menderita busung lapar. Terkadang saya dibikin kesal setengah mati meyakinkan teman saya untuk tidak menyerahkan “keperawanannya” ke pacarnya. Saya pernah terjebak di rumah teman saya saat digerebek polisi yang sedang mengincar ayah teman saya yang merupakan seorang buronan spesialis pencuri rumah. Masih banyak cerita-cerita seru saya yang lainnya tentang anak-anak bermasalah ini. Teman-teman saya yang bermasalah itu pasti akan dijauhi oleh anak-anak baik bukan? Mereka bahkan sering tidak percaya kalau saya mau berteman dengan mereka, mengajak mereka bertandang ke rumah saya dan diterima dengan baik oleh keluarga saya. Saya juga bahkan tidak pernah sungkan untuk bertandang ke rumah mereka.

Ya … anak-anak seperti itu bukan untuk dijauhi, tapi harus didekati oleh anak-anak baik (oke, anggaplah saya anak baik ya!). Mereka harus dibantu dari kehidupan mereka yang kelam. It needs a nation to raise a kid! Kita semua bertanggung jawab untuk membantu mereka, mendidik mereka, mendorong mereka untuk tidak pernah berhenti memperbaiki diri. Mereka berhak untuk mendapat teman yang baik, yang dapat membuka hati, pikiran dan wawasan mereka.

Jika anakmu bergaul dengan anak-anak nakal atau bermasalah, jangan dijauhi! Rangkul mereka, mungkin mereka sedang mengalami masalah yang berat yang membuat mereka berlaku tidak baik.

Belajar dari pengalaman belajar

Saya dan suami memiliki riwayat belajar yang berbeda. Saya sudah pintar sejak kecil (apasih …), maksudnya saya belajar dengan kesadaran sendiri sudah sejak TK, tanpa disuruh-suruh, tanpa dipaksa-paksa. Sejak TK pula orang tua saya tidak pernah mengintervensi saya dalam belajar. Saya belajar secara mandiri dan otodidak. Sebagai anak sulung, saya harus mengalah dengan adik-adik dalam hal perhatian dari orang tua sekaligus juga harus bisa menjadi teladan buat adik-adik saya.

Jangan dikira pembelajar mandiri itu cerdas ya, saya termasuk yang lemot (red : lemah otak) dalam menangkap pelajaran. Tak jarang saya baru mulai bisa memahami pelajaran setelah beberapa bab pelajaran selanjutnya selesai dipelajari. Teman-teman saya sudah belajar bab lima, saya masih gak paham-paham bab satu. Saya juga punya kesulitan menghapal, dipastikan pelajaran yang ujiannya ada hapalannya nilai saya akan jeblok. Namun, kekurangan itu seringkali juga menjadi kekuatan saya : karena tidak bisa menghapal, mau tidak mau saya harus bisa “memahami konsep”. Sampai saat ini misalnya, saya tidak hapal rumus trigonometri dasar (sin 30, cos 45, dsb), tapi saya hampir bisa menjawab semua soal terkait trigonometri dengan benar dan cepat, bahkan yang sulit sekalipun, karena saya paham konsepnya. Masalahnya memahami konsep ini cukup menguras waktu, tenaga dan pikiran, saya selalu roaming di kelas dalam pelajaran apapun. Alhasil, gak ada satu guru pun yang saya perhatikan pelajarannya, saya sibuk aja sama pikiran saya sendiri. Guru-guru saya gak bisa protes karena nilai ujian saya selalu memuaskan bahkan seringkali outstanding karena bisa memecahkan soal-soal sulit. Eits … karena dari tadi saya bahas metode belajar saya, bukan berarti saya hobinya belajar ya, saya seorang good player loh alias tukang main dan hobi berpetualang. Preman sekolah mana sih yang gak bertekuk lutut sama saya, bahkan para pecandu dan pengedar narkoba pun banyak yang jadi anak buah saya (yah, ketahuan deh nakalnya).

Suami saya beda lagi. Seperti anak laki-laki pada umumnya, suami saya masa kecilnya lebih banyak dihabiskan dengan bermain. Dia sendiri baru bisa membaca di kelas 3 atau 4 SD dan baru bisa membaca teks terjemahan film saat kelas 6 SD. Seperti anak laki-laki pada umumnya juga, suami saya mulai cemerlang akademiknya saat memasuki masa SMP, saat pelajaran-pelajaran seperti fisika, kimia, matematika rumit mulai sulit dimengerti anak-anak perempuan. Ia dibebaskan bermain oleh orang tuanya, bahkan di-support penuh. Ketika suami saya (eh … belum jadi suami dink ya saat itu) sedang hobi main sepeda, ayahnya akan menemani dia memodifikasi sepedanya. Saat dia sedang hobi melihara ayam, ayahnya akan menemani dia membuat kandang ayam impiannya dan mendengarkan cerita-cerita anaknya tentang ayam peliharaannya. Sejak SD juga dia sudah harus belajar mandiri karena orang tuanya bekerja di luar kota dan hanya pulang seminggu sekali. Karena lambat membaca dan hobi main (dan juga sangat hobi makan), banyak yang menganggap suami saya itu bodoh, apalagi dia juga dulu sering dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang selalu outstanding prestasinya (selalu ranking 1). Keluarga suami gak ada yang menyangka kalau akhirnya dia bisa lulus SPMB dan menjadi dokter (dan tentunya berhasil meminang saya yang konon menurut gombalannya sih itu prestasi buat dia, hahaha)

Dari pengalaman belajar kami tersebut, kami menyepakati beberapa hal untuk pendidikan anak-anak kami :

1. Puaskan (sepuas-puasnya) anak dengan bermain di usia Sekolah Dasar. Bermain adalah stimulasi paling tepat untuk membangkitkan imajinasi, kreativitas, kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab; memahami alam; belajar sosialisasi, bahkan merangsang kognitif; serta segudang manfaat lainnya yang tidak bisa didapatkan di ruang kelas yang terstruktur dan rigid. Kami tidak takut anak kami akan tertinggal dengan anak-anak lainnya karena terlalu banyak bermain.

2. Lambat belajar atau memahami bukan berarti bodoh. Memahami konsep itu sangat penting! (Kalo bisa belajar lebih cepet dari mamakmu pasti lebih baik donk nak, jangan ketiplek ditiru atuh lemotnya!)

3. Kompetitor utama itu adalah diri anak sendiri bukan anak orang lain (gak ada anak yang lebih hijau kan? Emang Hulk apa!)

4. Gak ada anak yang bodoh, semua anak pintar jika dia sudah memahami hakikat belajar dan berkesadaran penuh untuk belajar.

5.Belajar mandiri dan bertanggung jawab sedari dini itu sangat penting (oalah … tapih mengapah anakh sayah malah manjah-manjah semuah ginih yah)

6. Nilai akademik bukan satu-satunya penentu masa depan seorang anak!

Ya udah segitu dulu deh, pengalaman belajar kami sebagai orang tua masih sangat dangkal dan mungkin bisa salah disini dan disitu, yang jelas dalam mendidik anak-anak, kami gak mau stres, kami pengen mendidik dengan bahagia agar mereka juga bahagia.

Si Barokokok

Di masa-masa akhir perkuliahan di tingkat empat, biasanya kuliah cenderung gak banyak lagi, tinggal mata kuliah pilihan gitu kan ya paling. Mahasiswa mahasiswi yang tadinya sibuk memikirkan studinya, sudah mulai sibuk memikirkan “jodohnya”. Isi diskusi dan obrolan bukan lagi sekitar pelajaran, ujian, nge-gibah dosen, dsb, tapi udah mulai bahas “si A yang dilamar si X”, “si Anu ngecengin si Ono”, yah begitulah pokoknya, seputar itu. Tiba-tiba semua orang mulai ke-ganjenan, gak laki-laki, gak perempuan. Apalagi, gak sedikit yang nargetin pengen dapet jodoh anak sekampus juga kan? Banyak yang secara terang-terangan menjawab ketika dulu pas awal kuliah ditanya dosen alasan masuk ITB, yaitu “pengen cari jodoh”. Katanya sih biar sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Sayangnya, sampai tingkat empat, banyak juga yang masih berstatus jomblo. Maklum, mungkin selama ini para mahasiswa mahasiswi itu terlalu sibuk kuliah dan memikirkan masa depan, sehingga lupa memikirkan yang “di depan” (uhukkk). Masalahnya, di kalangan anak tingkat empat yang belum menemukan “calon jodohnya” ini, santer dihembuskan guyonan menohok tingkat tinggi, yang kurang lebih begini bunyinya :

Tingkat 1 : “Siapa Saya?”

Tingkat 2 & 3 : “Siapa Anda?”

Tingkat 4 : “Siapa saja!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Akibat bermunculannya gelombang “virus sibuk mencari jodoh” di kalangan mahasiswa tingkat empat itu, saya tak terkecuali jadi ikutan sibuk keganjenan membaca buku tentang nikah, salah satunya “Men are from Mars and Women are from Venus”. Di situ saya mulai mempelajari karakter para lelaki, salah satunya “mata lelaki yang jelalatan” yang sering saya buktikan melalui kisah nyata si Barokokok.

Mata si Barokokok

Barokok (tentu bukan nama yang sebenarnya) adalah salah satu teman laki-laki saya di kampus. Beliau beberapa kali satu kelompok tugas dengan saya. Suatu hari, Saya – Barokokok – Mas “Yang Sudah Punya Calon”, yang tergabung dalam satu kelompok tugas, pergi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk mengumpulkan data terkait tugas kami. You know lah ya, cowok ITB yang biasa liat cewek-cewek ITB yang hobi ber-kets, ber-backpack, yang kemana-mana bangga ber-jahim belel ria walau kayaknya sudah 3 bulan belum dicuci, yang makannya porsi kuli, yang kalo marah suka nimpuk pake buku ribuan halaman, yang mungkin celana dalamnya pakai Side-B karena belum sempet nyuci baju selama seminggu, dan curiga gak mandi dari kemaren lusa (tenang Mamah, agak hiperbolis dikit biar ceritanya seru, walau tentang gak mandi 3 hari dengan berat hati saya sampaikan bahwa itu benar adanya), begitu liat para koass dan dokter-dokter cantik yang rambutnya keriwil-keriwil, jilbab warna-warni, pakai rok lucu-lucu, wangi-wangi, bergincu merah-merah delima, bersepatu lancip-lancip, berjalan lemah gemulai, bertutur kata lemah lembut, membawa stetoskop bukan tabung bazoka atau buku-buku bantal, dan sepertinya mandi dua kali sehari, matanya langsung jelalatan. Sepanjang koridor Rumah Sakit, ya Allah, omongan Saya dan Mas “Yang Sudah Punya Calon”, gak digubris sama sekali sama si Barokokok, matanya sibuk kesana-kemari, berputar 360 derajat, malu-maluin deh pokoknya, noraaaak. “Aji mumpung”, kata si Barokokok, “Sekalian cuci mata”.

Melihat kelakuan si Barokokok yang gak jelas itu, saya mulai sok pinter bahas isi buku “Men are from Mars and Women are from Venus” sama Mas “Yang Sudah Punya Calon” : “Eh tau gak, kalo menurut buku ya, kalo cewek selingkuh itu gak bakal ketahuan loh, soalnya pas ada cowok cakep lewat yang dia taksir, cewek mah paling liat pake ekor mata doang, beda ama cowok, kalo cowok selingkuh tuh gampang ketebak karena pas liat cewek cantik, kepala dan badannya ikut muter ngikutin arah si cewek cantik”.

Tau gak sih, itu pas banget saya lagi ngomong gitu ke Mas “Yang Sudah Punya Calon”, si Barokokok (yang tentunya sedang tidak menggubris obrolan kami), tiba-tiba menghilang. Saat kami menoleh ke belakang, kami melihat si Barokokok sedang melangkah dengan gontai mengikuti salah satu dokter cantik berambut keriwil-keriwil berbodi aduhai. Kami sampai teriak-teriak memanggil si Barokokok, baru kemudian dia tersadar dan menoleh ke arah kami sambil tersipu malu. Untung cuma si Barokokok yang berulah begitu, kalo si Mas “Yang Sudah Punya Calon” ikutan ganjen juga, alamaaaaak, mati saya nahan malu.

Ternyata, kejadian begini bukan sekali dua kali terjadi sama si Barokokok. Pernah saat saya dan si Barokokok pergi berdua melamar kerja di Jakarta, selesai di-interview, si Barokokok disuruh untuk melakukan Medical Check-Up (saya belum dapat jadwal, jadi tidak bareng si Barokokok medcheck di hari itu). Lokasi tepatnya saya lupa dimana, tapi dijelaskan sama HRD-nya mesti naik kendaraan umum apa aja dan berhenti dimana patokannya. Saat itu, kami disuruh naik Busway dan patokan berhentinya kalau sudah keliatan tugu pancoran kalau tidak salah (maklum buta Jakarta, euy!). Naasnya, di tengah jalan ada penumpang cewek nan cantik rupawan ikutan naik Busway dan berdiri di depan si Barokokok. You know lah ya ending-nya gimana. Intinya si Barokokok terkesima dan tersihir, dia tidak berhenti di lokasi yang seharusnya, tapi ikut turun saat si Cantik turun, lalu ngekorin si Cantik jalan sampai jauh. Si Barokokok pun akhirnya tersadar. Hari itu nasib Barokokok berakhir dengan “NYASAR” karena sibuk terpana sama penumpang cantik.

Bagaimana Mamah, apakah juga punya temen seperti si Barokokok? Malu-maluin bener ya, Mah! Ekspresinya si Barokokok juga cuma ketawa-ketiwi aja loh Mah kalo saya ceritain ke temen-temen yang lain. Tapi, emang masa kuliah itu masa yang menyenangkan sih, apa aja bisa jadi bahan becanda dan ketawa, sekaligus bahan tangisan dan bahan bikin stres. Saya hobinya ngoleksi nilai rantai carbon sih, hari-hari kuliah mah pasti penuh drama buat saya.

Tulisan ini ditulis untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Juli 2021.

Temani aku bermain, yuk!

Aihh … kesempatan lagi nih untuk cerita tentang autis pada tantangan bulan ini!

Salah satu (dari sekian banyak) masalah yang dihadapi anak autis adalah kesulitan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Kompleksitas permasalahan komunikasi dan sosialisasi yang dialami tiap anak autis berbeda-beda dan sangat unik. Kakak contohnya, dia sudah bisa berbicara, bernyanyi dan melabel benda-benda sejak usia kurang dari 2 tahun. Tapi ternyata, mampu berbicara tidak serta merta berarti mampu berkomunikasi. Sampai saat ini, di usia Kakak yang sudah mencapai 9 tahun, Kakak belum mampu menyampaikan (biasa disebut dengan bahasa ekspresif) apa yang ingin dia sampaikan, seperti perasaannya, keinginannya, dan pemikirannya. Misalnya, untuk mengekspresikan keinginan “mau/minta minum”, sampai saat ini Kakak masih kesulitan menyampaikannya dalam bahasa ekpresif verbal. Tak ayal, setiap Kakak ingin sesuatu, Kakak akan mengeluarkan jurus pamungkasnya (salah satu ciri khas anak autis), yaitu menarik tangan orang yang dia mintai tolong lalu meletakkan tangan orang tersebut ke benda yang dia inginkan.

Lalu, apakah Kakak paham dengan apa yang kita tanya atau sampaikan? Alhamdulillah Kakak paham, tentunya dicapai setelah melalui perjuangan panjang, dengan diet dan terapi yang sangat intens sejak usia 3 tahun. Kadar tingkat kepahamannya juga tentu tidak se-level dengan anak “normal”. Ada yang sekali kita sampaikan dia langsung paham, ada yang harus disampaikan ribuan kali (minimal ini, loh!) baru paham, ada yang sampai apapun yang kita sampaikan dia gak paham-paham. Ini yang suka bikin Emaknya sering senewen pengen nangis guling-guling, hahaha. Ya … gimana gak senewen coba, membiasakan untuk pakai sandal saja setiap keluar rumah membutuhkan waktu sampai 7 tahun baru Kakak terbiasa. Kebayang kan ya mulut saya dower-dower gak berhenti merepet sepanjang hari ingetin dan ngajarin dia ini itu?

Loh, jadi kapan cerita dunia mainnya anak autis?

Ya … kalau dalam hal komunikasinya saja masih banyak yang bermasalah apalagi sosialisasinya, sedangkan kunci utama sosialisasi adalah komunikasi dan pemahaman aturan sosial. Kalau ada anak lari-lari main petak umpet, Kakak hanya ikutan ketawa-ketawa dan lari-lari, dia tidak paham aturan mainnya bagaimana. Saya sedih sekali setiap kali dia ingin berinteraksi dengan anak-anak lain, biasanya hanya dicuekin atau di-bully karena dianggap “aneh”, bahkan tidak jarang ada yang memukul. Dan itu semua terjadi di depan mata saya, dalam pengawasan saya. Entah apa yang akan terjadi nanti saat Kakak harus mandiri tanpa pengawasan kami lagi?

Bahagia di Klub Sepatu Roda

Setelah sekian lama kami mendaki gunung lewati lembah mencari “teman” untuk Kakak, akhirnya Allah tunjukkan jalannya melalui klub sepatu roda. Awalnya saya hanya berambisi mengajarkan Kakak sepatu roda sebagai sarana terapi untuk melatih motorik kasar, keseimbangan, dan koordinasinya. Biasanya, apapun yang kami ajarkan, butuh waktu tahunan untuk kakak bisa mahir dan paham. Kami tidak pernah menyangka kalau Kakak sangat senang bermain sepatu roda. Hanya dalam dua kali sesi latihan oleh pelatih amateur (Ayahnya dan Wak Idut) Kakak langsung bisa main sepatu roda. Saya sampai amazing lihat Kakak jatuh bangun berusaha belajar.

Saya lalu mencoba mendaftarkan Kakak di klub sepatu roda. Kebat-kebit rasanya saat itu, maklum pengalaman saya mendaftarkan Kakak dalam suatu kegiatan biasanya 99% ditolak, apalagi sepatu roda ini olahraga yang agak ekstrim, kalau tidak taat aturan akan membahayakan diri Kakak sendiri dan orang lain. Alhamdulillah, mereka bersedia menerima Kakak sebagai “anak bawang” (mungkin mau nolak gak enak, jadi disuruh coba-coba dulu). Kami sampaikan ke pelatih, teman-temannya dan para orang tua di klub kalau anak kami autis dan punya masalah ini-itu-ini-itu-ini-itu (panjang daftarnya). Ternyata, penerimaan mereka di luar ekspektasi kami. Pelatih, teman-temannya dan para orang tua-nya sangat perhatian dan tulus men-support Kakak. Mereka bahkan antusias memantau progress Kakak dan mengajarkan Kakak banyak hal. Kakak jadi berkembang pesat disana. Sungguh suatu hal yang sangat membahagiakan kami, tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Terima kasih untuk klub sepatu roda telah memberikan Kakak kesempatan!

Terima kasih telah mau menerima dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk Kakak dapat bersosialisasi dan berkembang!

Terima kasih telah menerima Kakak apa adanya!

Semoga kami juga selalu bisa mendapatkan lingkungan sehangat ini dimanapun Kakak nanti berada.

Kehadiran Anak Autis

Anak sulung saya merupakan anak autis.

Hayoooo ngaku, pasti gatel kan pengen nanya, kira-kira dulu waktu hamil saya punya salah treatment atau dosa apa sampai melahirkan anak autis?

No hard feeling ya, saya mah udah terbiasa kalau ditanya begitu.

Sama misteriusnya dengan “autis” itu sendiri, penyebabnya juga sampai saat ini tidak diketahui pasti. Ada yang bilang karena faktor keturunan, ada dokter yang bilang karena paparan logam berat yang mempengaruhi perkembangan otak anak saat dalam kandungan, ada yang bilang karma orang tuanya, yah … macam-macam lah.

Dibilang saya gak pengen tahu kenapa anak saya bisa autis sih gak mungkin, ya! Seriuously, gak enak sih sering disudutkan menjadi penyebab autis-nya anak saya, bikin saya rungsing dan stres. Bertahun-tahun akhirnya saya kelelahan juga mencari penyebabnya, ini bukan lagi perkara saya penasaran atau pengen membela diri atau apa, preparation saja, jika suatu saat saya hamil lagi saya bisa antisipasi agar adeknya tidak autis juga. Perkara penyebab kakak autis mah sudah jangan diperdebatkan lagi, case closed, walaupun nanti ternyata diketahui berujung dengan kesalahan saya atau suami saya atau apapun dan siapapun itu, yang jelas Kakak lahir karena Tuhan memang memperkenankaannya lahir, tidak ada secuil keraguan pun akan hal itu. TUHAN TIDAK PERNAH SALAH DESAIN (pinjem istilah Ibu Ning Nathan). Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini sudah ditakdirkan olehNya. Setiap orang diberikan masalah tertentu yang harus dia hadapi (coba bayangkan kalau semua orang tidak punya masalah atau punya masalah yang homogen, tentu gak asyik bukan?), tinggal view kami melihatnya bagaimana, apakah autis ini sebagai “musibah”atau “berkah”. Yah, tentu di awal kami akan menganggapnya “musibah” karena sudut pandang “normal” kami dengan anak kami yang berbeda (mungkin dari sudut pandang Kakak, kami lah sesungguhnya yang tidak normal. Terkait hal ini akan saya ulas terperinci pada tulisan-tulisan saya selanjutnya), tapi tidak mungkin keterusan begitu, bukan? Kufur nikmat saya, mbok kami yang berdoa siang malam meminta agar Kakak dihadirikan ke dunia ini sama Tuhan.

Sebenarnya, saya sudah lama sekali ingin menulis di blog ini tentang “autis”, dari mulai apa yang kami tahu tentang autis, deteksi dini autis, diet anak autis, upaya terapi, dll. Saya bukan ingin menarik simpati atau sejenisnya, tetapi jujur saya capek juga sih kasih penjelasan panjang lebar berulang-ulang kalau ada yang tanya-tanya ke saya tentang “autis” dan pengalaman kami menangani Kakak (percayalah, itu bisa sampai ratusan chat dan percakapan begitu bisa makan waktu berhari-hari dan tentu bisa jadi berbulan-bulan kalau orang tua-nya pengen segala dicurhatin atau galau berlarut-larut). Selain itu, perlu juga untuk menambahkan wawasan ke masyarakat tentang “autis”, supaya anak saya dan anak-anak ABK lain pada umunya, tidak lagi dianggap “aib” atau “anak tidak tau diri” atau “anak tidak tau malu” atau “sumber penularan penyakit” dan lain-lainnya. Anak saya sendiri dengan perawakan normal, ganteng – klaim emaknya sendiri, tapi perilakunya kadang-kadang weird aja suka jadi bulan-bulanan masyarakat, apalagi anak-anak yang lebih parah dari anak saya (minimal orang-orang sering sekali bilang “amit-amit”. Sumpah, itu menyakitkan sekali, loh!).

Contohny saja, anak saya sering mendapat pukulan atau hinaan dari orang lain, tentunya sepaket dengan hinaan ke orang tua-nya karena dianggap tidak becus mendidik anak dan sebagainya. Ya, memang anak saya terkadang aneh sih, misal tiba-tiba dia cuci tangan di air minum customer yang duduk di meja sebelah kami. Gerutuan atau makian ke anak saya dan saya kadang berlebihan dan menyakitkan walau sudah saya jelaskan kondisinya (tentunya dengan berulang kali minta maaf dan menawarkan untuk mengganti minumannya). Kami hanya minta dimaklumi saja (gak minta duit, makan dan lain-lain, kan?), bahwa banyak keluarga yang tidak seberuntung Anda yang dikarunia anak-anak “normal” , sehat, cantik-ganteng, lucu dan pintar.

Let’s make a better place for U, my son and any other creatures!

NO EXCEPTION.

Review Film “Room”

Mendapat tantangan Review Film dari Tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni buat Emak yang hampir 10 tahun belakangan jaraaaaang banget melipir ke bioskop, jarang nonton TV atau bahkan jarang nonton dari handphone sekalipun itu bener-bener bikin desperado ya ternyata. Referensi film saya hanya terbatas pada film on board yang saya tonton di pesawat saat PP perjalanan dinas atau chanel film di TV kabel hotel (sebut saja HBO, Fox Movies, dkk) yang biasanya lebih banyak TV-nya yang menonton saya tidur daripada saya yang menonton TV atau saat saya terperangkap tidak bisa pulang hari saat dinas dan pekerjaan selesai sebelum jam 7 malam, saya bisa “me time” dengan melipir ke bioskop terdekat, menonton film apa saja yang sedang tayang malam itu (tapi kejadian begini belum tentu terjadi setahun sekali).

Baiklah, mengingat perbendaharaan film saya sangat sedikit, pilihan saya untuk review film kali ini jatuh pada film Room. Pilihan ini tentu tidak sembarangan, konon menurut ilmu cocoklogi, film ini mengusung tema “keluarga” karena kekuatan cerita ada pada bonding ibu-anak yang sangat menggugah ditambah dengan tema ‘lockdown” dalam artian yang sebenarnya, relate dengan kehidupan kita saat ini di masa pandemi covid-19, waktu yang pas untuk kita dapat membayangkan “penderitaan” tokoh dalam film ini. Bagaimana rasanya jika kita disekap dalam satu ruangan kecil yang kedap suara tanpa ventilasi, tanpa jendela, dengan fasilitas seadanya selama 7 tahun, tidak bisa melihat dunia luar dan tidak bisa berinteraksi dengan siapapun kecuali si penyekap? Hidup kita benar-benar harus pasrah dan bergantung sepenuhnya dari “kebaikan hati” si penyekap.

Film “Room” merupakan salah satu film favorit saya. Film yang membuat saya banyak merenung dan sedikit banyak telah mengubah pola pikir saya terutama saat saya mengalami masa-masa berat mendidik anak sulung saya yang autis. Magically, film ini dapat membangkitkan lagi kepercayaan diri saya saat berkali-kali merasa gagal, terpuruk dan tidak pantas karena “merasa belum” melakukan yang terbaik untuk anak saya. Saat saya mendengar percakapan Ma dan Jack di akhir film, tangis saya pun meledak.

Ma : I’m not a good mother

Jack : But you are a mom

Bagaimana? Penasaran dengan sinopsis dan review-nya?

Let’s Cekidot

Sinopsis (Half Spoiler)

Ma atau Joy (Brie Larson) merupakan korban penculikan dan penyekapan seorang pria bernama Old Nick (Sean Bridgers) saat Joy berumur 17 tahun. Joy kerap diperkosa berulang kali hingga hamil dan melahirkan anak laki-laki bernama Jack tanpa bantuan medis. Old Nick menyekap Joy dan anaknya di dalam gudang yang kedap suara di halaman belakang rumahnya. Satu-satunya akses Joy dan Jack dengan dunia luar adalah skylight kecil di bagian atap yang tinggi dan tak terjangkau serta kabur kacanya. Old Nick secara berkala setiap minggu mendatangi Joy di gudang penyekapan (yang Joy dan Jack sebut dengan “Room“) melalui pintu kecil yang kombinasi kuncinya hanya diketahui Old Nick, untuk memberikan suplai makanan, vitamin dan obat-obatan serta “memperkosa” Joy.

“Room” – Gudang Penyekapan Joy dan Jack
Skylight : satu-satunya sarana interaksi Joy dan Jack dengan dunia luar

Joy sendiri sebenarnya sudah berkali-kali mencoba mencari cara untuk keluar, dari mulai mencoba kombinasi kunci pintu, mencuri lihat kombinasi kunci saat Old Nick membuka pintu sampai berteriak setiap hari berharap agar ada yang mendengar, tapi hasilnya NIHIL. Untunglah Old Nick melengkapi Room dengan perabotan, walau seadanya, seperti : tempat tidur, lemari, pantry, toilet, meja-kursi kecil dan televisi. Satu-satunya hiburan Joy adalah televisi.

Kehidupan Joy di dalam Room mulai berubah setelah lahirnya Jack (Jacob Tremblay). Joy menyayangi Jack dengan sepenuh hati walaupun Joy sangat membenci Old Nick, ayah biologis Jack. Joy sendiri tidak pernah ingin Old Nick melihat atau menyentuh Jack. Maka, setiap kali jadwal kunjungan Old Nick ke Room, Joy memasukkan Jack ke dalam lemari semalaman sampai Old Nick keluar dari Room.

Membesarkan Jack dalam ruang penyekapan tentu tidaklah mudah. Selain harus bergumul dengan rasa depresinya sendiri selama bertahun-tahun disekap, Joy harus menerima kenyataan bahwa kemungkinan mereka keluar dari Room tampak mustahil. Maka, sejak kecil Jack dicuci otaknya oleh Joy, bahwa dunia di luar Room sudah dikuasai Alien, sehingga mereka tidak bisa keluar. Segala hal yang ditonton oleh Jack di televisi adalah tidak nyata.

There’s room, then outer space, with all the TV planets, then heaven. Plant is real, but not trees. Spiders are real, and one time the mosquito that was sucking my blood. But squirrels and dogs are just TV, except lucky. He’s my dog who might come some day. Monsters are too big to be real, and the sea. TV persons are flat and made of colors. But me and you are real

Jack, to himself

Suatu hari, pada saat jadwal kunjungan rutin Old Nick, Old Nick menyampaikan bahwa ia dipecat dari pekerjaannya dan kemungkinan besar tidak lagi dapat menyuplai kebutuhan Joy dan Jack. Terjadilah pertengkaran antara Old Nick dan Joy (yaiyalah ya, si Joy panik donk ngebayangin nasib dia ama Jack yang bakal gimana nanti tanpa “belas kasihan” Old Nick). Jack yang sudah lama penasaran dengan rupa Old Nick, malam itu diam-diam keluar dari lemari agar bisa melihat Old Nick dari dekat. Old Nick yang sedang tidur bersama ibunya, terkejut dan terbangun melihat Jack. Joy yang panik mengetahui Old Nick melihat Jack langsung memukul Old Nick membabi buta sampai membuat Old Nick emosi dan mencekik Joy.

Karena marah, Old Nick memutus suplai listrik dan air ke Room. Joy yang marah dan panik akhirnya berupaya menyampaikan ke anaknya bahwa apa yang ia sampaikan ke Jack selama ini adalah kebohongan belaka, bahwa dunia luar itu nyata dan tidak dikuasai Alien. Pohon, anjing, daun, dll, yang Jack liat di TV adalah nyata. Bahwa mereka selama ini telah disekap oleh Old Nick. Tentunya Jack tidak serta merta dapat mempercayainya. Saat Old Nick kembali menyuplai listrik dan air ke Room, Joy dan Jack pun menjalani kehidupan “normal” kembali.

Walaupun disekap, Joy sebisa mungkin mengajarkan Jack kehidupan normal seperti berolahraga

Jack yang kritis lama kelamaan penasaran akan kebenaran cerita ibunya tentang dunia nyata. Melihat anaknya antusias, Joy pun menyusun rencana pelarian atau kabur dari Room. Joy akan membuat Jack seolah-olah sakit dan sudah mati kepada Old Nick (mayatnya dimasukkan dalam gulungan karpet) dan mayat Jack harus segera dikeluarkan dari Room. Joy melatih Jack keluar dari gulungan karpet dan menghapal detil-detil skenario melarikan diri dari gulungan serta apa saja yang akan Jack lihat di luar saat keluar dari gulungan. Old Nick pun percaya, lalu membawa gulungan mayat Jack keluar menggunakan pick up. Sesuai arahan yang berulang kali diajarkan Joy, akhirnya Jack berhasil meloloskan diri dari gulungan karpet dan lompat dari pick up. Old Nick yang sadar, berusaha menangkap Jack, tapi Jack berhasil kabur dan diselamatkan penduduk yang sedang lewat. Jack pun lalu dilaporkan ke Polisi. Sejak itulah penyekapan itu akhirnya terkuak dan Joy pun dapat diselamatkan juga dari penyekapan.

Ternyata, kebebasan mereka dari Room tidak serta merta membuat mereka bahagia. Kehidupan normal yang selama 7 tahun Joy tinggalkan ternyata sudah banyak berubah. Ayah (William H. Macy) dan Ibu Joy (Joan Allen) sudah bercerai dan masing-masing sudah memiliki pasangan kembali (perpisahan mereka juga dipicu pertengkaran karena kehilangan Joy). Joy yang selama 7 tahun disekap dan Jack yang seumur hidupnya belum pernah melihat dan tersentuh hangatnya matahari serta kekurangan asupan gizi, membuat tubuh mereka sangat rentan dengan kemungkinan infeksi virus dan bakteri di luaran, sehingga mereka harus mendapat intervensi medis dan pelan-pelan harus beradaptasi dengan matahari dan udara sekitar. Jack yang tidak pernah berinteraksi dengan dunia luar selain Room dan tidak pernah berinteraksi dengan manusia lain selain Ma/Joy, tentu menjadi sangat asing dengan semua hal baru tersebut (eits … tapi jangan membayangkan Jack seperti Tarzan ya, setidaknya ia dibesarkan oleh Joy bukan Gorilla, hihihi). Jack bahkan berharap ia bisa kembali tinggal Room.

Jack harus menggunakan kacamata dan masker untuk beradaptasi dengan lingkungan

Bagaimanapun, adaptasi Jack tidak seberat adaptasi yang harus dilalui Joy. Tidak mudah menerima bahwa sekarang ia bukan lagi remaja yang memiliki masa depan cerah seperti sesaat sebelum ia disekap. Bahkan ayahnya, yang sangat membenci Old Nick saat mengurus tuntutan pidana atas penyekapan Joy, tidak sudi melihat Jack yang merupakan anak biologis dari Old Nick. Kebayang kan bagaimana reaksi Joy? Hal itu akhirnya merembet kepada kefrutasian demi kefrustasian Joy yang lain.

Ahh … spoilernya saya cukupkan sampai disini saja ya, biar yang belum nonton jadi kepengen nonton.

Lanjutan ceritanya saya jamin jauh lebih seru!!!!

***Percayalah, spoiler tidak akan banyak berarti pada film Room. Kekuatan karakter dan ceritanya pasti akan membuat Anda penasaran!

Adaptasi dari Kisah Nyata

Room adalah film drama independen yang dirilis tahun 2015 berdasarkan naskah yang ditulis oleh Emma Donoghue hasil saduran dari novel dengan judul yang sama karya Emma Donoghue sendiri. Cerita novel Room terinspirasi dari kisah nyata perempuan asal Austria, Elisabeth Fritzl, yang menjadi korban penyekapan ayahnya sendiri, Josef Fritzal. Elizabeth disekap ayahnya selama 24 tahun, sejak Elizabeth berusia 18 tahun (usia 11 tahun pun Elizabeth sudah diperkosa ayahnya). Selama periode penyekapan itu, Elizabeth kerap disiksa dan diperkosa sampai akhirnya melahirkan 7 orang anak dari ayahnya sendiri, tanpa bantuan medis (dan kemungkinan besar sendirian). Sungguh biadab bukan? Hebatnya, penyekapan itu dilakukan Josef di bawah tanah rumahnya sendiri yang di atasnya bermukim istri dan anak-anak Josef (tentunya ibu dan kakak-adik Elizabeth). Selama 24 tahun, tidak ada satu orang pun yang curiga tentang penyekapan Elizabeth di ruang bawah tanah – tidak ada suara, tidak ada satu hal pun yang mencurigakan. Elizabeth dan anak-anaknya tidak bisa keluar karena ruang penyekapan tersebut memiliki pintu keamanan sampai 6 lapis.

Tiga orang anak Elizabeth dan ayahnya (anak sekaligus cucu, ya ampuunnn) dirawat Elizabeth di dalam ruang penyekapan yang sempit, sampai anak yang paling tua mencapai usia 20 tahun (Kebayang gak sih gimana rasanya hidup 20 tahun di dalam Room dan gak pernah melihat dunia luar? Menulisnya saja sudah membuat saya berurai air mata), dan 4 anak yang lain, satu persatu (saat berusia di bawah usia satu tahun) dibawa keluar oleh Josef lalu diletakkan di depan rumahnya, seakan-akan anak-anak tersebut dibuang oleh orangtua yang tidak bertanggung jawab ke rumah Josef. Selanjutnya anak itu pun diadopsi oleh Josef dan keluarga.

Ternyata kisah aslinya jauh lebih memilukan … hikssss …

Review

Film Room banyak mendapat review positif dari para kritikus film, dengan rating rata-rata di IMDb mencapai 8,1/10, 94% di Rotten Tomatoes dan 86/100 dari Metacritic. Selain karena ceritanya sendiri memang menguras emosi, sang sutradara (Lenny Abrahamson) juga mampu menghadirkan pesona Room yang natural, menegangkan, mengharukan menjadi satu-kesatuan yang fantastik. Wajar jika film ini mendapat nominasi Oscar tahun 2016 untuk kategori “Best Achievement in Directing“, “Best Writing, Adapted Screenplay”, dan “Best Motion Picture of the Year”. Room juga banyak mendapatkan (atau masuk dalam nominasi) penghargaan bergensi lainnya,

Plot demi plot dari film ini semuanya terstruktur dengan baik. Di awal film, saya sempat dibuat bingung dengan percakapan-percakapan Ma/Joy dan Jack yang cukup aneh, saya sempat mengira (Tentunya saya tidak membaca spoiler-nya, ya!) film ini bercerita tentang manusia yang sedang dikejar Alien atau Zombie, atau tuna wisma atau apalah (pokoknya bikin penasaran, gak tertebak). Cerita penyekapan baru terkuak setelah adegan Joy dicekik oleh Old Nick, dimana akhirnya Joy memutuskan untuk mengatakan “kebenaran” kepada Jack.

Banyak adegan Room yang bikin saya amazing : tidak ada satu pun konflik yang tidak diolah dengan cerdas, semuanya padat bergizi, dibalut dengan sinematografi yang apik dalam setiap shot-nya, membuat saya merasa seakan cerita Room benar-benar nyata. Saya suka semua konflik dan adegan dalam film ini, tanpa terkecuali.

Brilliant Cast

Selain kuat dari sisi cerita, plot, dan sinematografi, film ini juga berkarakter karena didukung oleh acting para pemainnya, terutama Brie Larson sebagai Ma/ Joy dan Jacob Tremblay sebagai Jack (anak dari Ma). Mereka berdua mampu menciptakan chemistry ibu-anak yang sangat kuat dan menyentuh.

Atas aktingnya ini, Brie Larson diganjar penghargaan sebagai “Pemeran Utama Wanita Terbaik” di berbagai ajang perfilman bergensi seperti Oscar tahun 2016, Golden Globe Awards ke-73, British Academy Film Awards ke-69, dll. Pergumulan emosi Brie Larson dalam film ini sungguh sangat memukau. Tidak mudah menjiwai emosi seorang perempuan belia yang depresi karena disekap dan diperkosa berkali-kali tapi sekaligus harus kuat, tegar dan penuh kasih dalam mendidik anaknya (yang awalnya tidak diinginkannya) dalam kondisi tanpa harapan akan kemungkinan keluar dari penyekapan. Emosi Brie ini mengajak kita ikut merasakan rasa sayangnya kepada Jack mampu membuatnya bertahan hidup dan waras dalam penderitaannya.

Aduh, beneran deh, acting Brie ini asli keren banget. Perfecto

Acting Brie sungguh memukau, tatapannya itu loh!

Akting Jacob Tremblay juga sama memukaunya, tapi sayangnya Jacob tidak berhasil memenangkan Oscar, bahkan masuk nominasi pun tidak, walaupun hampir di setiap review banyak sekali yang menjagokannya. Eh, tapi Jacob banyak menang di penghargaan lain juga, sih! (tak penting itulah Oscar ya Nak kalau kau sudah “diakui dan dijagokan” di hati netijen)

Di sepanjang film kita disuguhi dengan percakapan-percapakan Jack yang polos tapi kritis bersama Ma, ungkapan-ungkapan “cinta” Jack kepada Ma yang mengharu biru, celetukan-celetukan khas anak kecil yang sok menasihati dan menohok, benar-benar membuat film ini terasa sangat nyata. Saat jack keluar dari Room dan terpana karena pertama kali melihat dunia, kita pun dibuat terhanyut dan terharu oleh akting Jacob. Ohh … pokoknya akting Jacob Tremblay di sepanjang film ini keren abis, deh!

Lesson Learned

Beberapa pelajaran berharga yang saya dapat dari Film Room adalah :

  1. Belajar dari Elizabeth (real) dan Joy/Ma (fiktif) bahwa bagaimanapun kondisinya – seberapapun menderitanya – HIDUP ITU PERLU DIPERJUANGKAN!
  2. Dengan segala “keterbatasan” kita selalu bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Cinta Ibu ke anak itu tiada duanya, tak pernah dapat disangsikan oleh siapapun.
  3. It’s okay, sometimes, kita merasa “gagal” atau “tidak pantas” untuk anak-anak kita, bagaimanapun juga kitalah ORANG TUA mereka. Anak tak akan pernah mau menukar kita dengan apapun, sama seperti kita yang tidak akan pernah rela menukar anak-anak kita dengan apapun.

Sumber :

https://www.ngopibareng.id/read/sinopsis-room-penyekapan-di-ruang-suram-3707166

https://id.wikipedia.org/wiki/Room_(film_2015)

https://www.imdb.com/

Bangga untuk Less Waste

Saya baru mulai aware tentang sampah sekitar 3 tahun lalu, dengan segala keriweuhan hidup yang saya alami, pelan-pelan, semampu saya, saya berusaha untuk lebih “ramah” (eits … lebih tidak zalim sih lebih tepatnya ya) kepada bumi.

Oiya, ternyata impian-impian saya tentang energi terbarukan dan pemanfaatan kembali sisa konsumsi itu ternyata selangkah lebih maju dari awareness saya, loh! Saya pernah menuliskan rumah impian saya di blog ini beberapa tahun lalu. Sampai sekarang impian itu masih sama (dan tentunya bertambah list-nya seiring bertambahnya awareness dan pengetahuan saya). Tapi, untuk melakukan hal baik, kita tentu tidak harus menunggu atau mengenal kata “kelak”, lakukan saja semampu kita walau itu hanya dengan menyingkirkan duri di jalan. Saya pun berupaya ikut andil (walaupun sedikit sekali) dalam gerakan menumbuhkan awareness untuk less waste (walaupun ya, jika kalian mampir ke rumah saya, dijamin masih akan melihat banyak sampah yang nangkring di tong sampah saya).

Upaya-upaya yang pernah saya lakukan dalam gerakan less waste (selain menerapkannya kepada diri saya sendiri ya tentunya) adalah :

  • Jika ingin membeli peralatan yang men-support less waste biasanya saya suka mengajak teman-teman saya. Misal, jika ingin membeli menspad, tas belanja, ember komposter, dll, saya suka kasih woro-woro di wa grup dengan dalih “siapa tau ada yang mau sekalian beli bareng, biar hemat ongkir“. Alhamdulillah, dengan cara seperti ini biasanya banyak yang teman terjaring untuk ikutan beli, atau minimal memancing diskusi di grup. Barang hasil belanja juga biasanya saya antar sendiri ke teman yang nitip beli, dengan niat untuk memancing teman lain yang se-departemen dengan teman yang membeli itu untuk “kepo”.
  • Menulis pengalaman less waste saya di media sosial , yang provokatif tapi tidak menghakimi. Misal, saya posting pengalaman memakaikan clodi ke anak saya sebagai ganti popok sekali pakai. Biasanya ada deh tuh nanti yang DM tanya-tanya tentang clodi atau share pengalaman juga. Rasanya bahagia sekali, misalnya saat sedang mompa ASI, tiba-tiba teman saya di bilik ASI sebelah bilang : “Sekarang aku gak pake plastik ASIP lagi, Nyr. Pake botol. Gara-gara, baca tulisanmu di IG tentang plastik ASIP”. Yes, Alhamdulillah, senangnyaaaa …
  • Di kantor, saya mengkoordinir sumbangan pakaian bekas (yang masih layak pakai), susu, dan bahan makanan yang tidak digunakan (anti-mubazir club), untuk disumbangkan ke masyarakat yang membutuhkan. Biasanya banyak bahan makanan MPASI bayi sih yang disumbangkan. Misal, bubur instan Promin* yang tidak disukai anaknya, daripada mubazir, jika disumbangkan ke masyarakat kurang mampu, bisa menambah gizi anak mereka. Sayangnya, sejak pandemi, kegiatan ini terpaksa harus saya hentikan sementara, karena masih takut berinteraksi dengan orang banyak (takut saya-nya yang bawa virus ya, karena saya dan suami bekerja di pekerjaan beresiko tinggi terpapar virus covid-19).
  • Walaupun awalnya malu, tapi sekarang saya sering bertanya ke teman-teman kantor saya, siapa tau ada yang mau menghibahkan atau menjual baju bekas atau peralatan bekas anaknya untuk dijual ke saya atau adik saya. Mama-mama anak sulung saya juga ternyata sering hunting baju bekas, loh! Ahh … klop deh. Hidup barang bekas!
  • Saat ini saya sedang punya proyek ambisius (kenapa ambisius? karena ternyata sulit ya mendapat dukungan dari berbagai pihak dengan kesibukan kerja masing-masing dan erghhh … kendala birokrasi), yaitu : pengelolaan sampah organik komplek kantor dan pemilahan sampah komplek kantor saya. Sampah daun-daun kering dan sampah organik Rumah Tangga di komplek kantor saya banyak sekali dan belum termanfaatkan. Padahal, dulu perusahaan saya ini memproduksi pupuk organik dan menjual produk dekomposer, loh! Gemesss kan kalo sampah organiknya sekarang tidak termanfaatkan. Teman-teman, do’akan saya ya semoga proyek ambisius saya ini bisa segera diwujudkan! Amiiinn …
Komplek kantor yang asri

Yah … begitulah upaya-upaya kecil yang pernah saya lakukan. Impian saya dalam waktu dekat semoga saya bisa menginisiasi terbentuknya “Bank Sampah“. Huff … susah sekali mencari tempat untuk menyalurkan sampah-sampah yang sudah dipilah ini.

Limbah Cair Rumah Tangga

Tantangan MaGaTa pekan ini sungguh sangat sulit karena saya sendiri belum memiliki banyak ilmu apalagi upaya untuk mengurangi limbah cair rumah tangga saya, tetapi tak mengapa, insyaAllah tulisan kali ini bisa menjadi pembuka wawasan dan kesadaran saya untuk lebih bijak dalam mengelola air dan limbah cair domestik saya.

Ternyata, sekitar 70-80 % pencemaran air berasal dari limbah cair domestik, loh! Limbah cair domestik yang paling banyak menyebabkan masalah lingkungan adalah limbah cair yang sudah bercampur dengan sisa sabun atau detergen yang berasal dari aktivitas mandi, mencuci pakaian, mencuci piring, mencuci mobil, dll. Padahal, aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang sehari-hari pasti kita lakukan. Di Indonesia sendiri, sistem pengolahan limbah cair domestik belum ada. Bisa dipastikan bukan berakhir kemana perjalanan limbah cair domestik tersebut? Yap … pastilah ke sungai dan laut di sekitar kita. Jika tangan kita saja sering sensitif terkena detergen, jika pakaian kita yang direndam semalaman dengan detergen menjadi bau, atau jika sisa sabun cuci piring yang masih tersisa di piring kita akan berbaya bagi kesehatan kita, lalu bagaimana dengan biota sungai dan laut tempat semua limbah cair itu bermuara? Membayangkannya saja saya sudah merasa sangat jahat sekali, huhuhu, padahal kita masih bergantung sepenuhnya dari air sungai dan hasil sungai-laut untuk mensupport kehidupan kita.

Baiklah, mari kita lihat beberapa efek limbah cair domestik kita terhadap biota sungai dan laut :

  1. Bahan surfaktan (ABS), merupakan bahan aktif untuk melepaskan kotoran pada pakaian, sulit terurai di alam sehingga dapat menimbulkan masalah keracunan pada biota air, merusak insang pada ikan dan dapat menyebabkan biota sungai dan laut mengalami mutasi gen.
  2. Busa deterjen menyebabkan kontak air dan udara menjadi terbatas sehingga menurunkan proses pelarutan oksigen kedalam air. Hal ini menyebabkan organisme di dalam air kekurangan oksigen sehingga bisa menyebabkan kematian hewan air.
  3. Bahan builder (STPP), merupakan bahan untuk meningkatkan efisiensi kerja surfaktan, dalam jumlah yang terlalu banyak dapat menyebabkan pengkayaan unsur hara (eutrofikasi) yang berlebihan pada air sehingga algae (phytoplankton) tumbuh dengan cepat. Hal ini akan menyebabkan air kekurangan oksigen dan populasi bakteri tumbuh berlebihan.
  4. Zat-zat polutan yang terkandung di dalam limbah juga bisa menjadi sumber penyakit, seperti kolera, disentri, dan berbagai penyakit lainnya.

Upaya yang bisa kita lakukan untuk mengurangi limbah cair domestik

  1. Pilih sabun/ detergen yang ramah lingkungan. Sabun/ detergen yang seperti ini memang sulit didapat dan harganya sangat mahal (masih impor). Beberapa merek (seperti Ecoball) bahkan sudah tidak bisa saya dapatkan lagi.
  2. Apabila kita sulit menemukan deterjen yang ramah lingkungan, kita bisa memilih produk yang sedikit mengandung zat-zat berbahaya, seperti mengandung surfaktan yang lebih ramah lingkungan (LAS / LABS), mengandung kadar fosfat rendah, mengandung NaOH rendah, menghasilkan sedikit busa (tidak ada hubungan antara jumlah busa dengan tingkat kebersihan pakaian ya temans), dan memiliki fungsi tambahan (seperti: memiliki pemutih,  pengharum, pengkilap dan lain sebagainya) yang seminimal mungkin.
  3. Mencari subtitusi detergen/ sabun yang lebih ramah lingkungan. Berikut beberapa bahan yang bisa menggantikan fungsi deterjen atau pembersih lainnya :
    • Baking soda. Bisa digunakan untuk membersihkan dan mencerahkan pakaian, serta membersihkan alat-alat dan perabotan rumah tangga menjadi berkilap.
    • Asam cuka. Bisa digunakan untuk membersihkan dan melembutkan pakaian.
    • Jeruk lemon. Bisa digunakan untuk membersihkan, memutihkan, membuat pakaian wangi, dan membersihkan alat-alat dan perabotan rumah tangga.
    • Lerak. Kandungan saponin pada lerak menghasilkan busa yang dapat berfungsi seperti deterjen untuk pakaian, membersihkan peralatan dapur, membersihkan lantai, dan bahkan aman digunakan untuk memandikan hewan peliharaan (seperti: kucing dan anjing).
    • Eco enzym. Enzim yang dihasilkan dari fermentasi sampah organic (terutama kulit buah) ternyata sangat banyak manfaatnya, yaitu sebagai pembersih rumah tangga, insektisida, antiseptik, perawatan tubuh, pupuk, dll. Cara pembuatan dan manfaat eco enzyme dapat dilihat di sini.
Beberapa Manfaat Eco Enzym (sumber : https://sustaination.id/)

Sumber :

  1. https://www.aetra.co.id/sahabat_aetra/detail/65/Tips-Meminimalkan-Limbah-Rumah-Tangga
  2. https://media.neliti.com/media/publications/229073-biodegradasi-dan-toksisitas-deterjen-ec76b5c9.pdf

Berusaha mencegah sampah

Jika laju peningkatan volume sampah saat ini semakin menggila saja, maka memilah sampah bukan lagi solusi permasalahan sampah saat ini, tetapi mencegah terjadinya sampah adalah langkah terbaik agar bumi tidak lagi terbebani dengan sampah yang kian hari meningkat semakin tidak terkendali. Memahami teorinya bukan berarti perkara mudah dalam mengaplikasikannya. Butuh energi yang luar biasa besar untuk memulai dan mendisipilinkan diri, apalagi sampai saat ini daya dukung untuk mencegah timbulnya sampah masih sangat minim sekali. Akan tetapi, hal tersebut bukan suatu keniscayaan bukan? Kita bisa memulainya dari diri kita sendiri dan lingkungan terdekat kita.

Berikut beberapa upaya yang saya lakukan setidaknya dalam dua tahun terakhir untuk mencegah timbulnya sampah, yaitu :

  1. Saya tidak lagi menggunakan pembalut sekali pakai dan menggantinya dengan menspad. Alhamdulillah, sejak menggunakan menspad masalah-masalah yang saya alami saat menggunakan pembalut seperti iritasi dan gatal pun sirna. Sayangnya, terkadang saya terpaksa menggunakan pembalut sekali pakai jika sedang dinas atau keluar kota karena tidak memungkinkan mencuci menspad di hotel (bau clodi yang tidak kering benar itu sungguh sangat tidak sedap).
  2. Saya memakaikan clodi ke bayi saya sebagai pengganti popok sekali pakai (pospak). Alhamdulillah tidak ada masalah ruam popok menggunakan clodi. Sejak sekitar 4 bulan terakhir, suami menyuruh saya untuk menggunakan pospak jika malam hari agar saya bisa tidur lebih nyeyak, walaupun sebenarnya pakai clodi juga tidak ada masalah sih, tapi memang ada beberapa clodi adek yang performances-nya sudah kurang baik (ini lebih karena emaknya jarang stripping insert-nya sih ya). Ya … akhirnya saya terpaksa menghasilkan sampah pospak 1 buah per hari deh.
  3. Sampah daun, rumput dan sampah organik sisa konsumsi kami jadikan kompos atau pestisida alami.
  4. Membawa peralatan makan dan minum kemanapun kami pergi. Ini sangat penting mengingat bisa saja di tengah jalan kami ingin jajan. Tapi terkadang saya masih suka lupa membawa peralatan makan dan minum ini, akhirnya terpaksa kami jajan dengan menghasilkan sampah kemasan juga.
  5. Demikian juga jika saya ingin jajan makanan buatan teman-teman saya, biasanya saya akan siapkan wadah sehari sebelumnya. Tapi, ini juga tidak selalu berhasil ya, banyak juga makanan dagangan teman saya yang sudah dikemas dengan plastik.
  6. Membawa wadah sendiri setiap kali berbelanja ke pasar atau supermarket.
  7. Membeli peralatan dan baju preloved (seperti pompa asi, carseat, baju, sepatu anak, buku, dll).
  8. Beberapa tahun lalu saat membeli baju merupakan prioritas ke-100 karena tidak ada budget-nya, saya mengidam-idamkan baju-baju mahal yang digunakan teman-teman saya. Sekarang, saya sering merasa bersalah setiap melihat tumpukan baju atau perlengkapan rumah tangga saya (seperti sprei, dll) yang tidak saya gunakan dengan optimal. Keinginan untuk membeli baju dan perlengkapan rumah tangga yang up-to-date tiba-tiba sirna (padahal baju-baju saya banyak yang sudah lusuh sebenarnya), digantikan dengan rasa ingin mempermak dan menyulap semua bahan yang ada menjadi lebih cantik dan bermanfaat.
  9. Memilah sampah kertas, botol dan plastik. Karena sampai saat ini saya belum menemukan Bank Sampah, biasanya sampah ini saya serahkan ke pemulung.
  10. Memanfaatkan kembali sampah kemasan refill sabun, minyak dll sebagai pot tanaman.

PR saya terkait sampah Rumah Tangga saya ini sungguh masih sangat banyak. Saya masih memiliki keterbatasan waktu dan tenaga untuk mencegah timbulnya sampah dan mengolah sampah-sampah ini. Selain itu, ternyata untuk menumbuhkan awareness dalam keluarga pun sangat sulit walaupun sudah ratusan kali saya ceramahi dan kasih contoh. Tapi tak mengapa, setidaknya saya sudah memulai. Semoga ke depannya saya dan keluarga bisa lebih bijak dalam mempertanggungjawabkan sampah-sampah yang kami hasilkan.