Sajian Lezat dari Pekarangan, Solusi Saat Bokek

Saya sangat senang berkebun. Jadi begitu pindah ke rumah kami sekarang ini sekitar hampir 7 tahun lalu, hal pertama yang saya titahkan request ke suami adalah minta jatah lahan untuk berkebun dan minta dibuatkan kolam ikan. Saya berencana untuk menanam berbagai tanaman pangan dan buah-buahan di pekarangan rumah. Yaa….dulu saya sempat ingin kuliah pertanian karena di SMU saya suka sekali membaca majalah Trubus. Tapi, karena dulu rumah orang tua memiliki pekarangan yang sempit, jadi saya tidak bisa mempraktekkan ilmu-ilmu yang saya baca di Trubus. Dan ketika saya mengajukan usulan untuk kuliah di jurusan pertanian, Mama langsung menolak mentah-mentah proposal saya. Yaa….tidak bisa dipungkiri sih, dulu jurusan pertanian dinilai gak keren (kalo tamatannya cuma jadi petani, ngapain disekolahin tinggi-tinggi ?) dan banyak lulusan pertanian yang menurut Mama sulit mendapatkan pekerjaan.

Suami akhirnya membuatkan saya kolam ikan dan memberikan slot untuk saya bercocok tanam sekitar setengah meter di sepanjang pinggiran pagar rumah. Letak rumah kami yang berada di hook dengan pagar yang rendah memungkinkan rumah kami menerima sinar matahari full sepanjang hari, posisi yang sangat moncer untuk bercocok tanam. Pekarangan rumah kami selama hampir 7 tahun ini silih berganti ditumbuhi berbagai macam tanaman. Yaaa…tidak semuanya berhasil, banyak juga tanaman saya yang akhirnya gagal tumbuh atau gagal berbuah karena terkena hama, digigit tikus, diinjak kucing, mati kepanasan atau bahkan dipotek-potekin sama anak-anak. Tapi saya gak pernah kapok, bercocok tanam itu selalu menjadi hal paling menyenangkan buat saya.

Hasil dari pekarangan rumah benar-benar sangat membantu menyediakan bahan-bahan untuk memasak, bahkan menjadi penyelamat saat kepepet dan bokek. Lima tahun menjadi istri residen, kami tentu harus mengetatkan ikat pinggang, apalagi biaya kebutuhan terapi dan pengobatan kakak juga lumayan besar. Uang 5 ribu rupiah kadang sampai harus saya korek-korek dari berbagai sumber, padahal masih tanggal muda. Kalau sudah begitu, saya atau Wak Inem mulai deh ngobok-ngobok kolam ikan dan metikin apa aja yang bisa dipetik di pekarangan. Untungnya kami menanam banyak sekali jenis tanaman, dari mulai tanaman bumbu, sayur, buah dan pelengkap lainnya.

Golongan bumbu-bumbuan, saya menanam daun pandan, daun kari, daun kemangi, jeruk purut, jeruk kunci, jeruk lemon, daun bawang, seledri, cabai. Golongan sayur-sayuran ditanaman berganti-ganti, kadang saya menaman buncis, kacang panjang, timun, kangkung, bayam, selada, tomat, paprika, katuk. Tanaman sayur yang abadi ada di pekarangan adalah bayam brazil, daun ubi jepang dan kelor, soalnya rasanya enak, bergizi dan gampang sekali tumbuh (tinggal re-grow saja dari sisa potongan batangnya). Golongan buah-buahan lebih banyak lagi, bahkan banyak diantaranya yang sudah ditebang (lengkeng, jambu madu deli, pisang ambon pendek, putsa dan mangga) karena mengganggu jalan. Tanaman buah yang rajin sekali berbuah adalah pepaya, rambutan, jambu kristal, tiin, belimbing, jambu kancing, strawberry (tapi buahnya kecil di cuaca panas Palembang) dan kedondong. Saat ini saya sedang menanti beberapa tanaman yang semoga segera berbuah : anggur (dari mulai yang lokal seperti isabella sampai yang import), cherry barbados (sudah berputik tapi ditebang tikus donkGrrrr), cherry vietnam, plum aussie (entah kenapa putiknya sering rontok, hiks), markisa, srikaya, anggur brazil, mulberry, jambu air madu deli, jambu air cincalo, jambu air black kingkong, jeruk medan, jeruk santang madu, juwet dan nangka. Dan saya sedih sekali karena beberapa tanaman buah saya akhirnya mati, yaitu : karamunting, pear, raspberry, arbei, anggur jupiter, leci dan jambu biji merah. Tanaman pelengkap yang ada di pekarangan ada daun cincau, rosela, telang dll. Wahh….banyak banget ya tanaman yang saya tanam di pekarangan rumah, rinciannya saja sampai satu paragraf panjang begini. Ya begitulah….semua tanaman ini sangat sangat membantu saya jika kebokekan melanda. Pagi-pagi cukup keliling pekarangan rumah, mencari-cari apa yang bisa dijadikan bahan masakan hari ini.

Pepaya contohnya, tidak hanya bermanfaat saat matang, bahkan saat masih mentah pun dapat dimanfaatkan menjadi beragam panganan. Ada yang pernah makan pempek pistel – pempek isi pepaya muda? Yaa…pepaya muda (yang masih mengkal) bisa menjadi isian pempek. Caranya cukup tumis bawang putih sampai harum, tambahakan udang kering/ ikan teri asin yang ditumbuk halus, lalu masukkan parutan pepaya muda, sedikit saja santan kental, gula dan garam, masak sampai pepaya lembut dan kering. Rasanyaaa….maknyusssss. Sayangnya, pempek pistel ini tidak bisa dikirim ke luar kota karena memang cepat basi (hanya bertahan seharian). Atau kadang pepaya muda (yang sudah agak sedikit menguning) juga kami masak menjadi sayur lempah darat khas Bangka. Bumbunya cuma duo bawang dan cabai giling halus yang dimasukkan ke air (airnya agak banyak karena akan menjadi kuah), lalu masak sampai mendidih, beri sedikit terasi, lalu cemplung-cemplung pepaya muda yg sudah diiris tipis, tambahkan gula dan garam, masak sampai pepaya agak lembut. Kalau sudah makan sayur lempah darat ini, saya gak pernah bisa berhenti ngemil sayurnya sampai habis. Ya Allah rasanya nikmat sekali…slurpppp.

Purple Yordan Tiin and Papaya
When Tropical Fruits Meet Middle East Fruits
Sayur Lempah Darat Khas Bangka
Source : Cookpad Erna’s Kitchen

Buah kedondong sengaja saya tanam untuk diambil daunnya. Sudah pernah mencoba makan lempah kuning khas Bangka? Makanan khas yang sering disajikan di rumah makan kuliner khas Bangka. Resepnya akan saya share pada postingan selanjutnya saja ya. Rasa asam dan wangi khas daun kedondong menghadirkan rasa segar pada kuah lempah kuning yang sudah kaya rasa hasil dari campuran berbagai macam bumbu dapur. Di dapur kami, bahkan krokot pun (yang dianggap gulma) bisa disulap menjadi sayur yang nikmat. Tumisan krokot bahkan bisa lebih enak dari kangkung. Oiya, krokot yang dapat dimakan adalah jenis krokot yang tidak berbunga ya temans.

Krokot Tumis, Endeusss…

Oiya temans, apapun makanan yang kau makan, percayalah bukan hanya bahan, bumbu, harga, tempat atau rasa makanannya saja yang dapat membuat makan jadi terasa istimewa, tetapi meresapi makanan itu sendiri akan menghadirkan suatu pengalaman spiritual tersendiri. Bahan makanan sederhana dan pengolahan sederhana seperti masakan yang saya sebutkan di atas, jadi terasa sangat istimewa karena bahannya kami petik dari kebun sendiri. Saat makan, kami tidak hanya sedang menikmati hasilnya, tetapi juga menikmati proses mereka bertumbuh, yang tentu diiringi dengan rasa suka, duka, frustasi, cemas, lega, bangga, dsb.

Lele goreng hasil tanggkaran sendiri yang kami santap bersama tumisan kankung dan sambal pecel lele, yang semua bahannya hasil dari pekarangan rumah, rasanya jauh lebih endeuuus dari restoran manapun yang pernah di-review oleh Pak Bondan atau reviewer kuliner manapun. Padahal makannya hanya ditemani dengan suara kipas angin yang berderak-derak, yang bersaing dengan suara srot-srot si penikmat lele yang ingus-nya meleler-leler kepedesan. Tak lupa si penikmatnya makan sambil mengangkat salah satu kaki ke atas kursi, ditemani dengan kucing-kucing yang berkeliaran di sekitar kakinya, menanti jatah tulang ikan lele. Makan begitu saja bisa terasa ambooiiii…nikmatnyaaaa…., bisa tambuoh ciek, duo, tigo, ampek piring bosss. Selesai makan, bolehlah ditutup dengan es jingga (bunga telang plus lemon), es jeruk kalamansi atau es cincau hejo, es rosela, asinan jambu kancing atau rujak jambu kancing-belimbing, yang tentunya bahannya juga dari pekarangan sendiri. Mantaaapp…

Kalau sudah bokek, mulai deh obok-obok kolam
Jambu Kancing
Dirujak atau dibuat asinan, manyusss…..dimakan langsung aja slurrrppp…

Oiya, dengan bercocok tanam, sampah organik kita juga jadi bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Semua daun kering, rumput, kulit buah dan sisa batang sayur bisa dijadikan kompos. Lindi dari komposter bisa dipakai untuk POC (Pupuk Organik Cair). Kulit pisang, kulit bawang merah, kulit telur bisa dimanfaatkan menjadi pestisida alami atau pupuk. Bahkan sampah organik seperti daun bawang, bayam brazil, katuk, kemangi, dll bisa kita re-grow kembali.

Ulatnya aja gemuk gemoy begini yaks…..

Waduh…sebenarnya ini saya sedang bahas resep makanan atau berkebun ya? Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei 2021 ini bertema resep andalan. Yaaa….apa yang saya tulis di atas adalah resep andalan saya di saat bokek, hahahaha, resep-resep makanan kampung dengan memanfaatkan hasil dari pekarangan. Saya sendiri sering memprovokasi orang-orang, terutama dari golongan menengah ke bawah untuk bercocok tanam walau di pekarangan yang sempit. Bercocok tanam tidak perlu modal yang cukup banyak. Banyak juga tanaman yang gampang tumbuh dan tidak membutuhkan perawatan khusus, seperti kangkung, kelor, bayam brazil, katuk, dll. Semua itu dapat menambah nilai gizi keluarga. Proses perjalan mereka bertumbuh akan menyajikan makna yang selalu seru untuk dinikmati. Dan saat di penghujung nanti, tak peduli walau hanya sebiji tomat yang berbuah atau 10 lele yang hidup dari 100 bibit yang kau sebar, kau akan tetap menikmatinya dengan bangga.

Belajar dari Mama (lagi)

Wah….udah hampir di penghujung Ramadhan aja yaaa….

Sedih ya, dua tahun ini kami absen ke masjid untuk melaksanakan beberapa aktivitas ibadah termasuk I’tikaf. Padahal, saya sudah membayangkan bagaimana akan bahagianya anak-anak berada di masjid, walaupun tentunya akan sepaket dengan segala kerempongannya mengingat adek baru berusia 2 tahun dan kakak sendiri sedang belajar solat dengan tertib. Ahhh……jadi cirambay begini yaaa…..ya Allah tolong usir corona segera ya, kami rinduuuuuu berasyik-masyuk di masjid lagiii…….

Momen Ramadhan dan Idul Fitri selalu mengingatkan saya dengan masa-masa kecil saya dulu (dan masih berlangsung sampai sekarang). Mama selalu sibuk menyiapkan Ramadhan dan Idul Fitri bahkan sejak 6 bulan sebelumnya. Wohooo….koq niat bener ya???

Mama adalah anak ke-2 dari 8 bersaudara sedangkan Bapak adalah anak ke-5 dari 12 bersaudara. Sejak tamat SMEA (nama SMK kejuruan ekonomi jaman dulu) dan bekerja, Mama menjadi tulang punggung keluarga, jadi beliau terbiasa menyiapkan kebutuhan adik-adiknya yang banyak itu. Mama biasanya sudah mulai mencicil membeli baju lebaran untuk adik-adik dan keponakannya jauh sebelum lebaran. Yaa….zaman dulu….orang-orang pada umumnya hanya mampu membeli baju baru setahun sekali yang dipakai pada saat lebaran lebaran. Mama dan Bapak bukan horang kayah, melainkan hanya karyawan biasa yang harus benar-benar mengatur ketat keuangannya untuk dapat membeli baju-baju itu. Apalagi baju-baju itu bukan cuma untuk seorang dua orang, tapi buanyaaak, jadi gak mungkin kan ya belinya mengandalkan THR saja? Hadiah-hadiah itu juga bukan hanya untuk keluarga Mama, tapi termasuk juga untuk keluarga dari sebelah Bapak (Keluarga Bapak jauh lebih banyaaaak). Iyaaa….semua dipikirin ama Mama. Gak kehitung ya berapa banyak baju atau printilan lain yang Mama siapin untuk mereka. Dulu…. setiap bulan, saya akan ikut mama keluar masuk toko-toko di ibu kota Kabupaten untuk membeli hadiah lebaran tersebut. Oiya….hadiah itu juga bukan hanya untuk keluarga, tapi untuk ART dan lain-lain. Itu baru baju, belum makanan-minuman dan lain-lainnya.

Untuk apa sih Ma repot bener beliin baju-baju buat semua orang? Kita kan bukan orang kaya, itu saudara yang kaya aja gak ada yang repot kayak Mama“, pertanyaan itu seringkali keluar dari mulut saya ketika melihat Mama sudah mulai kerepotan sendiri menghitung-hitung budget dan keluar masuk toko memilih model dan ukuran yang cocok. “Udah Ma….samain aja semua bajunya, ukurannya aja dibedain, biar gak repot“, gerutuku. Mama biasanya hanya tersenyum, tidak pernah menjawab pertanyaan saya. Jawabannya biasanya akan saya dapatkan ketika melihat rona-rona bahagia dari raut wajah saudara-saudara ketika menerima baju-baju lebaran pemberian Mama yang akan mereka kenakan pada saat Idul Fitri. Yaa….baju-baju pemberian Mama itulah yang mereka tunggu setiap tahunnya, tentunya tidak bisa menjadi kebanggaan kalau bajunya sama, ketahuan kalau itu hanya baju pemberian, dan Mama sangat menghindari ada yang merasa ter-marginal-kan dengan memakainya.

Ahhh….Mama…..kamu selalu baik, selaluuuu baik….

Dalam hal apapun tidak pernah memikirkan dirimu sendiri. Walau sedikit, tak pernah lupa untuk berbagi. Jika belanja, selalu ada yang dibeli untuk dibagi. Beli pisang setandan, beli duku sekarung, bahkan beli kerupuk se-plastik besar pun bertujuan untuk dibagi-bagi. Bahkan hingga saat ini, saat Mama dan Bapak sudah pensiun, rumah selalu penuh dengan paket-paket sodaqoh. Entahlah…uangnya dari mana….., tapi satu yang pasti…”Dengan memberi, Mama tidak pernah merasa kekurangan, Nak. Mama merasa duit Mama tidak pernah habis-habis. Banyak hal yang tidak bisa kita hitung dalam kalkulator manusia“.

Book Review : Tatkala Leukimia Meretas Cinta (Kisah Ibu Siti Fadilah Supari)

Akhir-akhir ini nama Ibu Siti Fadilah Supari kembali meroket pasca podcast Deddy Corbuzier bersama Ibu Siti Fadilah Supari di suatu ruang perawatan saat Ibu Siti masih berstatus sebagai tahanan. Menurut Ditjen Permasayarakatan Kemenkum HAM, wawancara dan podcast tersebut dilakukan tanpa seizin humas Ditjen PAS, apalagi isu yang dibahas merupakan isu sensitif dan kontroversial, terutama terkait dengan konspirasi dibalik virus covid-19 dan vaksinnya, padahal saat itu sedang masif berita hoax terkait virus dan vaksin covid-19.

Beberapa pekan lalu juga beliau kembali menarik perhatian saya karena beliau menjadi supervisi “eksperimen ala-ala” artis Rina Nose atas virus covid-19. Yaa…sangat disayangkan, kali ini Ibu Siti berada di pihak berseberangan pemikirannya dengan saya terkait virus covid-19. Apalagi “eksperimen ala-ala” itu dilakukan tidak dengan kaidah penelitian yang seharusnya, padahal beliau sendiri sebelum menjadi menteri adalah seorang peneliti yang jurnal-jurnal ilmiahnya malang melintang di kancah nasional, regional maupun internasional.

Tapi tenang koq, kali ini saya gak akan bahas kontroversi terkait virus covid-19, tapi nanti bisa kita tarik benang merahnya asal muasal pandangan beliau tentang pandemi covid-19, terutama dari pengalaman beliau sebagai menteri saat terjadi wabah flu burung. Buku ini saya baca sekitar 2 tahun lalu, di tahun 2018, dan sudah terbit di tahun 2010. Mengingat buku “Barefoot In Baghdad” yang ingin saya ulas pada Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April 2021 ini baru separuh jalan saya baca, jadi mari kita ulas buku tentang perjuangan seorang seorang perempuan (terutama perjuangan mempertahankan cintanya yang sangat memilukan) yang pernah menduduki jabatan sebagai orang nomor 1 di Kementerian Kesehatan Indonesia periode Oktober 2004 – Oktober 2009 saja lah ya.

Menjadi Menteri Kesehatan Era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono

Ibu Siti Fadilah Supari didapuk oleh Presiden tepilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Menteri Kesehatan pada era pertama pemerintahannya, yaitu di Kabinet Indonesia Bersatu. Ibu Siti merupakan salah satu dari empat perempuan yang menduduki posisi sebagai menteri di kabinet tersebut, posisi yang sangat prestisius mengingat masih sangat jarang perempuan dapat menduduki posisi sebagai menteri di Indonesia saat itu.

Tidak seperti menteri perempuan lainnya – Ibu Sri Mulyani, Ibu Mari Elka Pangestu dan Ibu Meutia Hatta- yang sudah memiliki sepak terjang yang tidak diragukan lagi di bidangnya dan nama mereka sudah sering wara-wiri di media massa, nama Ibu Siti Fadilah sendiri baru kali ini terdengar. Sebelumnya, Ibu Siti hanyalah seorang dokter paru-jantung yang terlibat dalam banyak penelitian yang terkait bidangnya dan belum pernah aktif dalam aktivitas organisasi, politik atau partai. Sampai saat ini, saya juga masih penasaran chanel yang mengajukan nama beliau ke SBY karena sampai Ibu Siti dilantik menjadi menteri pun, SBY dan Ibu Siti belum pernah bertemu sama sekali. Pemilihan beliau sebagai menteri membuka pikiran saya bahwa tidak semua menteri itu dipilih karena jabatan politis atau kepentingan tertentu, tetapi benar-benar atas kredibilitas dan profesionalitasnya, yang bekerja penuh dedikasi untuk kepentingan rakyat. Yaaa….walaupun beliau juga akhirnya tersandung kasus korupsi, dengan karakter dan kepribadiannya yang cukup keras dan penuh pengabdian, saya pribadi tidak dapat mempercayainya.

Kira-kira….siapa yang bisikin SBY waktu itu untuk menunjuk Ibu SIti menjadi Menkes ya ???

Seorang Pekerja Keras, Pemikir Runut dan Sangat Terorganisir

Yang menarik dari buku ini, kita seperti diajak Ibu Siti untuk mengikuti agenda kerja beliau sehari-hari. Ibu Siti tipikal orang yang sangat terorganisir dan rapi sekali, beliau terbiasa menulis agenda harian dengan detail. Beliau dapat memaparkan dengan detail semua rincian pekerjaannya sebagai menteri, bertemu dengan siapa saja bahkan sampai ke jam-jamnya loh. Tak lupa beliau menuliskan semua pemikiran beliau untuk setiap agenda Kementerian Kesehatan. Wuihhhh….ternyata agenda menteri itu padeeeeeeeeeeeeeeet bangeeeeeet ya, saya bacanya aja rasa mau pingsan, apalagi ngejalaninnya ya? Apa gak nge-hang ya otaknya dipake ngebul terus begitu? Bukan cuma jadwalnya yang padat, ternyata persiapan untuk setiap agenda itu juga luar biasa loh. Ibu Siti tipikal orang yang well-prepared banget, gak ada agenda esok hari yang luput dari persiapan beliau hari ini. Sebagai contoh, saat beliau diminta untuk mengisi seminar, maka beliau memperhatikan dengan detail audiens-nya dan materi apa yang ingin beliau sampaikan, ya…tentunya bukan penyampaian materi biasa karena di dalamnya harus mengandung idealisme yang ingin ditanamkan oleh Ibu Siti.

Pandangan Terhadap Kementerian Kesehatan

Di buku ini juga Ibu Siti banyak mengungkapkan permasalahan di Kementerian Kesehatan dan upaya beliau membenahinya. Beliau banyak menitikberatkan pada upaya pembenahan pengumpulan data yang akan digunakan Kementerian Kesehatan untuk melakukan evaluasi, analisis dan membuat keputusan. Banyak keputusan kementerian selama ini didasarkan pada data-data yang tidak valid dan tidak akurat. Yaa….data yang tidak valid dan akurat ini tentunya akan berdampak pada anggaran yang tidak tepat sasaran dan ketidak-akuratan pemetaan masalah.

Perjuangan-Perjuangan di Kancah Internasional

Ibu Siti termasuk orang yang idealis dan berani sekali, sangat garang untuk ukuran menteri perempuan dari negara bekembang yang baru terjun atau terlibat dalam perpolitikan bidang kesehatan, apalagi sampai melakukan perlawanan di kancah internasional, . Hal ini dapat kita lihat salah satunya dalam upayanya menuduh melawan WHO terkait dengan masalah flu burung dan vaksinnya. Ulasannya terkait flu burung beliau tulis dalam bukunya yang berjudul “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung“, yang terbit di tahun 2008, saat beliau masih menjabat sebagai menteri. Buku ini menuai protes dari WHO dan Amerika, dan peredarannya dilarang di Amerika.

Selain itu, beliau juga sangat konsen pada neokolonialisme dan liberalisme bidang kesehatan. Kesehatan seringkali dijadikan ladang bisnis untuk mengeruk keuntungan, tidak pro untuk kepentingan dan peningkatan kesehatan rakyat. Negara-negara berkembang tentunya akan menjadi yang tertindas akibat neokolonialisme dan liberalisme ini.

Ibunya garang banget deh, dalam pikirannya hanya ada “hitam”atau “putih”.

Perjuangan Cinta Ibu Siti Fadilah

Kalau dari tadi saya cuma bahas Ibu Siti terus, sebenarnya buku ini fokusnya berkisah tentang Ibu Siti dan suaminya, Bapak Supari. Pemikiran dan idealismenya banyak dituangkan dalam buku ini sebagai pelengkap saja, tapi justru itu yang menarik perhatian saya. Gaya berceritanya agak kaku – khas peneliti – dan keliatan sekali kalau beliau sangat idealis, tapi karena ceritanya sendiri menarik, membuat buku ini benar-benar tidak membosankan, bahkan bikin gemes untuk dibaca sampai habis.

Kehidupan pernikahan Ibu Siti dan Bapak Supari sebenarnya sudah tidak baik-baik saja sejak lama, sejak berpuluh tahun lalu. Sejak Bapak Supari yang merupakan seorang kontraktor yang penuh idealisme memutuskan untuk berhenti bekerja tidak lama setelah mereka menikah. Menurut Bapak Supari pekerjaannya itu menindas rakyat karena banyak berhubungan dengan pembangunan di tanah-tanah gusuran. Anehnya sejak saat itu, Bapak Supari tidak lagi mau bekerja, sampai akhir hayatnya. Banyak upaya yang sudah dilakukan Ibu Siti untuk menyemangati suaminya untuk bekerja kembali, tetapi selalu gagal dan berujung dengan pertengkaran yang memilukan.

Akhirnya Ibu Supari memutuskan untuk menjadi tulang punggung keluarga. Ia meneriwa tawaran untuk melanjutkan sekolah spesialisnya di bidang paru-jantung demi masa depan anak-anaknya. Selama sekolah spesialis, banyak perlakuan kasar yang diterima Ibu Siti dari Bapak Supari. Beberapa kali mereka memutuskan untuk cerai, tapi akhirnya berujung dengan rujuk kembali. Tetapi sedihnya, selanjutnya mereka menjalani kehidupan suami istri bagai musuh, bahkan sampai tidak saling sapa. Kebayang kan ya angkernya pernikahan begitu? Gak habis pikir kenapa pernikahan seperti itu bisa dipertahankan sampai puluhan tahun.

Sedih ya bacanya……

Sampai suatu hari, di saat Ibu Siti hampir di penghujung masa jabatannya sebagai menteri dengan target agenda penyelesaian tugas yang sangat padat, Bapak Supari didiagnosis menderita Leukimia akut. Sebagai seorang dokter, ia tau bahwa tidak ada harapan atas kesembuhan penyakit suaminya tersebut, tapi sebagai manusia dan seorang istri, ia tetap berupaya sekuat tenaga mengupayakan pengobatan yang terbaik untuk suaminya. Setiap hari, tidak pernah luput ia menghabiskan malam-malamnya dengan sholat, berdoá dan menangis untuk kesembuhan kekasihnya. Di tengah semua kesibukan Ibu Siti sebagai menteri, beliau tetap telaten memperhatikan dan mengurus suaminya, tanpa sedikit pun mengorbankan tanggung jawabnya sebagai menteri.

Semoga Anda juga bisa merasakan getaran cinta, yang tidak pernah padam terhadap bangsa dan negara di setiap tugas yang saya jalani. Tidak ada alasan apapun bagi saya untuk berpaling darinya, meski suami sebentar lagi akan meninggalkan saya.”

Saat dihadapi dengan cobaan seperti itulah cinta mereka kembali hadir, memberikan ruang maaf antara mereka. Mungkin itulah tujuan Ibu Siti menguak kisah cintanya ke dalam buku ini untuk memberikan gambaran kepada pembaca bahwa dalam cinta sejati tidak akan pernah ada penyesalan. Berpuluh tahun penuh kebencian, luka dan caci pun akan hilang tersapu oleh cinta.

Saya juga ingin Anda membaca, merasakan betapa indahnya cinta karena ia tidak harus hadir dengan jubah kebahagiaan, tetapi bisa berbaju koyak oleh ktidakcocokan. Cinta tidak harus hadir dengan ceria, tetapi bisa berbicara dalam duka dan derita. Namun, apa pun yang dialami, dalam cinta sejati tidak akan pernah ada penyesalan.

Sesungguhnya, atas kisah cinta seperti itu saya bingung memberikan komentar apa. Saya hanya dapat ikut merasakan kesedihan yang Ibu Siti rasakan. Padahal di awal pernikahan Ibu Siti dan Bapak Supari sangat harmonis. Bapak Supari merupakan laki-laki santun, berpendidikan, memiliki karir cemerlang dan mendukung penuh karir dan pendidikan istrinya. Entah apa yang merasukinya sehingga akhirnya memutuskan tidak mau bekerja lagi (dan sejak itulah pertengkaran demi pertengkaran terjadi). Mungkin masalah-masalah itulah yang akhirnya menempa Ibu Siti menjadi wanita yang sangat tangguh.

Penutup

Buku Ibu Siti ini patut diapresiasi, tidak banyak orang yang mau menceritakan masalah rumah tangganya kepada khalayak umum. Tidak banyak juga orang idealis seperti Ibu Siti yang berani melawan dunia internasional, bahkan WHO sekalipun. Saya banyak belajar dari profesionalitas beliau. Setiap lembar buku ini “daging”, rasanya bagai gulai, rendang, sate, malbi, kalio, dendeng berpadu (wkwkwk…ini penulisnya seperti kelaperan inget makanan semua, maklum lagi bulan puasa), sangat amat layak untuk dinikmati dan diresapi.

ART : memberdayakan dan menjadikannya berdaya

Karena mama adalah wanita pekerja kantoran, maka tentunya mama sangat bergantung dengan Asisnten Rumah Tangga (ART) untuk membantu mengasuh anaknya dan mengurus pekerjaan domestik rumah tangga. Saya pun seorang karyawati di salah satu BUMN saat ini, tentunya saya juga sangat membutuhkan ART. Cara mama mendidik ART menjadi panutan saya. Hal ini dapat dilihat dari ART yang membantu kami hampir semuanya betah membersamai kami sampai beberapa tahun (biasanya berhenti karena akan menikah) dan sampai sekarang kami masih menjalin hubungan silaturahmi yang baik dengan semua ART kami.

Sebenarnya sampai saat ini pun saya tidak pernah nyaman dengan penyebutan ART atau pembantu atau apa pun itu namanya, saya lebih senang menyebut mereka sebagai bagian dari keluarga kami, saudara kami, karena sejatinya kami sama-sama saling membantu dan memberdayakan. Mama selalu mengingatkan kami untuk tidak pernah bersikap bossy dan juga selalu mengingatkan bahwa tugas-tugas yang sudah ditegaskan menjadi tanggung jawab anak-anaknya tidak pernah boleh diambil alih oleh ART. Alhamdulillah, ART juga jadinya sangat menyayangi kami. Mereka benar-benar telaten dalam mengurus kami. Kami sangat terbantu dengan keberadaan mereka. Mama dan bapak merupakan perantau tanpa sanak saudara di Palembang, sakit-sakitan, tapi harus menjalani LDM (Long Distance Marriage) karena pekerjaan, gak kebayang deh gimana bakal luntang-luntungnya kami anak-anaknya ini tanpa bantuan para ART itu.

Lalu apa yang membuat para ART itu jadi betah membersamai kami? Karena mama selalu menanamkan kata “mendidik, kesetaraan, dan pemberdayaan” sejak awal mereka datang ke rumah kami. “Kalau dia datang kesini untuk menjadi pembantu, pastikan dia keluar dari rumahmu dengan kehidupan, akhlak dan martabat yang lebih baik”, pesan Mama. “Lalu bagaimana caranya mendidik dan memberdayakan mereka Ma?”, tanyaku.

Oh..baiklah, saya akan menceritakan petuah-petuah mama tentang ART dalam poin-poin berikut ya…..

  1. Pastikan mereka solat 5 waktu dan bisa mengaji. Ajak mereka mengikuti kebiasaan kita. Jika mereka tidak bisa mengaji, kamu ajari ngaji atau ikutkan kelas belajar ngaji atau kasih waktu mereka untuk ikut pengajian. Kalau mereka gak mau solat, repetin terus suruh solat atau ajak solat berjamaah”.
  2. “Kalau mereka gak bisa masak atau melakukan pekerjaan rumah, ajarin bukan dimarahin. Kamu gak boleh berekspektasi tinggi, mereka bukan dari keluarga mampu, bahkan mungkin pegang kompor gas saja belum pernah. Mereka juga biasanya tidak berpendidikan tinggi sepertimu, tamat SD pun mungkin sudah Alhmdulillah. Ajari mereka dengan sabar, mungkin apa yang kau ajarkan akan lambat mereka tangkap, mereka tidak mengenyam gizi yang baik sepertimu”.
  3. Kalau kamu memperlakukan mereka dengan baik, santun dan penuh kasih, mereka juga akan bersikap sama ke keluargamu“.
  4. Anggap mereka saudaramu, kenalkan mereka sebagai saudaramu. Ajak mereka untuk membaur dalam kegiatan di lingkungan sekitar rumah, dalam lingkup keluarga kita, dalam lingkup pertemananmu. Mereka akan merasa bangga dan berharga”.
  5. Upgrade skill mereka agar mereka nanti bisa mandiri dan berdaya. Mereka tidak boleh selamanya menjadi pembantu. Susun bersama skill yang mau mereka raih jika nanti selesai membantumu. Berikan mereka waktu untuk mempelajari skill itu”.
  6. Perhatikan keluarganya. Kamu harus tau rumah dan keluarganya. Pastikan kamu sudah menemui dan meminta izin langsung ke keluarganya. Kalau belum sempat di awal, siapkan waktu untuk berkunjung ke keluarganya. Kalau memungkinkan, kirim oleh-oleh secara berkala untuk keluarganya”.
  7. Ajarkan mereka untuk manage penghasilannya dengan baik. Ajak mereka menyusun perencanaan keuangan bersama”.
  8. Tanamkan pola pikir untuk memiliki cita-cita dan visi-misi dalam hidup. Ini poin yang paling penting karena pada umumnya mereka sering menyerah dengan keadaan. Kalau mereka sudah berkeluarga, tanamkan impian kalau anaknya harus kuliah”.

Karena petuah mama itu sudah mendarah daging di kami, sikap mama ke ART otomatis menular ke kami. Alhamdulillah sampai saat ini, ART yang membantu saya juga semuanya betah dan menyayangi keluarga saya dengan sepenuh hati.

Wak Inem dan Kakak
Wak inem sudah membantu saya sejak usia kakak 2 bulan sampai sekarang hampir 9 tahun. Beliau membersamai saya di saat saya mengalami masa-masa sulit : saat kakak perilakunya tidak terkendali karena autis, saat saya sakit-sakitan selama hampir 7 tahun, saat saya ditinggal suami sekolah spesialis, saat saya kesulitan keuangan, saat saya harus sering meninggalkan anak karena dinas ke luar kota.
Kami juga ajarkan beliau mengelola keuangan, kami paksakan beliau untuk menabung. Sedih melihatnya bertahun tahun kerja, bahkan pernah menjadi TKW, tapi tidak punya harta atau tabungan sedikitpun. Sekarang, beliau sudah memiliki rumah subsidi yang pelan-pelan berhasil di-upgrade ke tipe 60-an (KPR bulanan dibayar anaknya, DP dan upgrade rumah dari tabungan wak inem sendiri), mampu membeli perabotan rumah tangga-walau barang bekas, mampu memasang pagar rumah, dll. Dan sekarang beliau bisa memiliki tabungan hingga 2 digit.
Sudah 7 bulan ini kami dibantu juga sama Wak Idhot. Usianya 2 tahun lebih tua dari saya. Janda dengan 2 anak, cerai karena suaminya jadi pecandu sabu-sabu. Untuk pertama kalinya saya memutuskan untuk dibantu oleh ART yang menginap agar saya lebih punya waktu luang untuk menstimulasi anak-anak. Sayangnya saya gak punya fotonya, tapi punya banyak videonya membersamai anak saya bermain. Ya udah…saja mejengin foto saya dan suami aja ya, yang setelah 10 tahun menikah baru kesampaian punya waktu untuk jalan dan olahraga berdua. hal itu bisa terwujud karena Wak Idhot sangat bisa diandalkan untuk membantu mengurus anak-anak.

Menjadi ibu istimewa

Hampir sembilan tahun umurnya, parasnya sempurna, tubuhnya tinggi tegap – lebih besar dari anak seusianya – tanda cukup gizi dan nutrisi, pipinya gumuk-gumuk, kulitnya putih bersih, bulu matanya lentik, matanya sungguh binar sempurna – mata tanpa beban dan dosa, hatinya bersih dan lembut – tak pernah sekali pun pernah membantah, walau saya tau ia ingin sekali menolak atau berontak. Dialah anak sulung saya. Fisiknya sangatlah sempurna, sering membuat orang-orang yang melihatnya gemas. Saya sering melihat di kejauhan ibu-ibu yang melihat anak saya sibuk memuji atau mencubit pipinya, sambil bertanya siapa namanya, sekolah dimana, kelas berapa dan pertanyaan lainnya. Sayangnya si sulung tidak pernah menjawab, ia hanya melihat sekilas, tersenyum, lalu sibuk kembali dengan aktivitasnya. Tak jarang pula anak-anak perempuan di sekitar rumah kami tersipu-sipu malu ketika si sulung saya lewat di depan mereka.

Anak sulung saya didiagnosis dengan Spektrum Autis menjelang usia 3 tahun, dengan spesifikasi permasalahan dominan pada hiperaktivitas, kesulitan konsentrasi, kesulitan komunikasi (walau bisa berbicara), perilaku berulang yang tidak bisa ia kontrol (kami biasanya menyebutnya dengan stimming, khas anak autis), kesulitan bersosialisasi dan memahami peraturan sosial, masalah perilaku dan sederet masalah lainnya (yang kalau saya tulis pasti panjang sekali daftarnya). Selain itu, anak-anak autis juga pada umumnya bermasalah dengan pencernaan, termasuk dengan si sulung saya, yang mengharuskan dia untuk mengikuti protokol diet dan terapi bimodik ketat.

Mengasuh dan mendidik anak autis sungguh sebuah jouney yang tidak mudah. Jika saya terbiasa membuat target terukur untuk setiap perencanaan hidup saya, tapi tidak dengan mengasuh dan mendidik si sulung (yaaa…kata “mengasuh” harus saya sematkan entah sampai kapan karena kemandirian adalah sebuah anugerah pencapaian untuk kami). Untuk pertama kali nya dalam hidup saya, bertahun-tahun saya merasakan ketidakberdayaan, no clue at all, don’t know what to do. Setiap hari saya mengalami roller coaster emosi. Setiap pagi pula saya selalu berdiri di cermin, menghapus air mata dan kegalauan saya, mengepalkan tangan sambil tersenyum, mencoba me-recharge energi dan keyakinan kembali.

“Sungguh, jika bunda mengalami hal-hal berat karena mu nak, pasti tidak akan seberat kau menjalani hidupmu. Kau tentunya tidak pernah minta dilahirkan seperti itu, sungguh dunia terasa sangat asing dan tidak bersahabat denganmu. Dan aku terpilih untuk membantumu melalui masa-masa sulit itu. Yaaa….bunda yang terpilih nak….., Allah memberikan shortcut ladang ibadah dan pahala melalui dirimu. Kau sungguh istimewa, my beloved son”.

Ketika saya sudah mulai lelah dan menyerah, entah kenapa bayangan mama selalu menghantui saya. Fragmen-fragmen kesulitan yang kami hadapi dulu, bagaimana ia memperjuangkan kehidupan, semangat mama yang tidak pernah menyerah bahkan ketika nyaris tidak ada harapan, sungguh selalu membuat saya malu. Ahh….kesulitan saya tidak seberapa dibanding mama dulu, jika ia tidak pernah terlihat menyerah, apa saya punya alasan juga untuk menyerah? Mama saya memang tidak terbiasa memberikan petuah dengan kata-kata indah, tapi kasih sayang dan doá nya selalu mengalir deras untuk kami, bahkan sampai saat ini mama selalu berjuang mencari info dan pengobatan untuk anak saya. “Sampai mama mati, mama akan selalu berjuang untuk Habib, nak. Mama gak akan menyerah untuk cucu mama“. Ahhh mamaaaa……

3 Generasi.
Wajah kami bertiga sangat mirip sekali (hihihi…….kalo gak pake masker ya)

Sungguh menggemaskan yaaa……, wajah tanpa dosa.
Sungguh anak-anak itu dilahirkan sebagai upaya dari mendidik orang-tuanya. Terima kasih untuk semua pelajaran berharga dalam membersamaimu, kakak sayang….

Dua bulan ini kakak kasih suprise buat bunda : lulus iqro’ 1, bisa main sepeda, bisa main inline skate, solat 5 waktu, solat tarawih dan witir 11 rokaat (walau masih main-main tapi tertib ngikutin), mau dikoreksi pelafalan bicara dan hapalannya.

Adorable Sulung

Menjadi anak sulung merupakan gift sekaligus curse buat saya. Saya direncakan dengan cermat oleh Mama untuk menjadi seorang role model sekaligus pengayom untuk adik-adik saya. Beribu-ribu kali Mama menanamkan ke alam bawah sadar saya doktrin “kalo kamu baik, adikmu belum tentu baik, tapi kalo kamu buruk, adikmu pasti akan ikut buruk”. Saya dipaksa untuk harus selalu bijak, harus selalu baik, harus selalu sabar. Rasanya tanggung jawab itu sangat berat sekali untuk saya emban, tapi entah mengapa doktrin mama itu selalu berhasil memantik semangat saya untuk berbuat yang terbaik atau “terpaksa” mengalah atau “terpaksa” mengerjakan tugas-tugas rumah tangga.

Bersyukur secara akademik saya masuk dalam kategori yang tidak pernah mengkhawatirkan. Sejak SD kelas 1, mama dan bapak tidak lagi membantu saya dalam belajar, semua kesulitan belajar saya hadapi sendiri. Mama dan bapak percaya sepenuhnya dengan saya karena mereka tau saya tipe academic oriented. Prestasi akademik ini membuat saya cukup pede untuk menjadi role model buat adik-adik . Berbeda dengan saya, adik-adik semuanya mengalami masalah akademik. Tiap hari mereka langganan amukan mama karena tidak paham-paham dalam mengerjakan PR atau menjawab soal persiapan ujian.

Saya juga disiapkan menjadi “pengasuh” sekaligus membantu pekerjaan rumah tangga. Walau di rumah selalu ada ART, tapi mama cukup keras ke saya kalau saya harus bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, dari mulai menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju, dll. Apa yang menjadi tugas saya, tidak boleh dikerjakan ART. Pekerjaan itu tidak menjadi beban buat saya karena sepulang sekolah teman-teman saya selalu sigap membantu, semacam menjadi ajang bercengkrama buat kami. Kami sering bergosip atau membuat rencana-rencana permainan saat menunggu saya mencuci piring. Kami kadang tertawa cekikikan saat salah satu teman ada yang mendapati celana dalam saya atau bra mama saat membantu saya melipat pakaian. Ahh…masa kanak-kanak yaa…semua hal bisa menjadi menyenangkan. Beberapa diantara teman sepermainan juga anak sulung, jadi kami terbiasa main sambil mengasuh adik. Saat giliran main kami tiba, kami saling titip adik-adik kami.

Pekerjaan yang paling saya benci waktu itu adalah “memijat mama” atau “ngerok bapak” setiap selepas magrib. Bete sekali rasanya, “saya pengen istirahat donk maaaaaaaa……”, mbatin saya. Saya juga kelimpungan kalau tiba-tiba ART pulang kampung. Hampir semua kerjaan ART (kecuali masak) harus saya kerjakan sendiri. Saat itulah saya biasanya jadi membenci mama, karena mama hanya keras mendoktrin saya, tapi tidak dengan adik-adik saya, terutama adik laki-laki. Saya seringkali protes, kenapa adik laki-laki bisa main dengan bebas tanpa ada satu pun pekerjaan rumah tangga yang dibebankan ke dia, “karena kamu perempuan, kodratmu yang harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga“, jawab mama, jawaban yang selalu sama walau saya sudah menggugat dengan beratus-ratus argumen bahwa kami, anak lak-laki maupun perempuan, seharusnya setara dalam hal tanggung jawab, bahwa suatu saat hal ini akan menjadi bumerang buat mama. Adik-adik saya jadi terbiasa tidak bertanggung jawab dengan tugas-tugasnya, karena akan selalu ada Aak (panggilan orang Bangka untuk anak sulung perempuan) yang akan mem-back up pekerjaan mereka.

Sebagai seorang karyawan swasta, mama juga cukup sibuk. Bapak juga langganan dimutasikan keluar kota. Sejak saya SD, mama dan bapak juga mulai sakit-sakitan, mereka bergantian menjadi langganan pasien rumah sakit. Saya “terpaksa” menjadi dewasa sejak kecil. Bukan perkara mudah menjadi si sulung yang harus bertanggung jawab mengurus rumah tangga, mengurus adik-adik (dari mulai membuat mpasi, menyuap makan, mengajarkan toilet training, menemani bermain, sampai menjadi wali saat pengambilan rapor atau ketika adik-adik berbuat nakal di sekolah pun saya lah yang datang), sekaligus mengurus orang tua yang sakit-sakitan.

Tapi, saya sangat bersyukur menjadi si sulung, walaupun doktrin mama masih sama, walaupun masih bertanggung jawab penuh terhadap adik-adik, tapi didikan mama sangat membantu saya dalam menghadapi hari-hari sulit. Adik-adik saya seharusnya menyesal tidak pernah ditempa seperti saya.

#tantanganMaGaTaApril

Gerbang Masa Depan : Teknik Industri ITB

Tulisan perdana di tahun ini khusus dipersembahkan untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog, walau terpaksa digeber dengan sistem SKS (Sistem Kebut Sejam) untuk menghadirkan kembali aura kuliahnya (ngelessss, bilang aja deadline).

Tahun 2004, tahun paling galau buat saya karena saya selalu dihantui rasa bimbang memilih jurusan kuliah dan universitasnya. Maklum, saya bukan masuk dalam ketegori anak yang berprestasi di sekolah dan udiknya saya pun baru tau di akhir semester 1 kelas 3 SMU kalau mau masuk universitas negeri itu harus melalui ujian saringan (SPMB) yang diikuti oleh seluruh siswa tamatan SMU/SMK dari seluruh indonesia (Helooo….lo SMU ngapain ajah cintaaa, ketauan kan begajulannya, hihihihi). Apalagi pas tau kalau satu jurusan di universitas negeri itu kuotanya cuma 20-200 orang saja, dan ternyata kuota jurusan yang saya impikan, Hubungan Internasional UI, kuotanya cuma 20 orang saja pemirsah……**Huhuhu, jadi cirambay dah.

Saya mulai coba ikut Try Out SPMB donk untuk melihat kemampuan saya. Sepanjang Try Out, mata saya gak berhenti terbelalak, tangan saya gak berhenti garuk-garuk kepala dan menyeka keringat, mulut saya gak berhenti komat kamit baca soal, tapi otak saya langsung nge-hang dan stop beroperasi bahkan ketika saya paksa berfikir pun, si otak hanya mampu mengeluarkan suara krik-krik. Alhasil universitas cendrawasih yang di Irian sana pun masih ogah menerima saya. Helloowww….”passing grade” ini mainan apa sih???

Sejak saat itu saya mulai geber belajar karena ngerasa malu aja kalo sampai nanti beneran gak lulus SPMB dan gak kuliah, tapi tetep banyakan malesnya sih, habis gimana donk…satu soal SPMB aja kadang berhari-hari baru bisa saya jawab, ngeheee banget kan??

TAKDIR KULIAH DI TEKNIK INDUSTRI ITB

Saya akhirnya diterima di jurusan Managemen Unsri melalui jalur PMDK. Tapi entah mengapa saya tetap merasa kurang sreg kalau harus kuliah di Palembang, pengennya bisa kuliah di Jawa, yang artinya saya harus ikut SPMB yang soalnya krik-krik itu kan ya, heuuuu, galau tak bertepi. Akhirnya saya putuskan untuk ikut bimbel persiapan SPMB dan mengambil kelas IPC dengan harapan saya bisa ngebut persiapan masuk jurusan impian saya, yaitu Hubungan Internasional (HI) atau mencoba masuk sekolah kedinasan seperti STAN, dinas perhubungan (Meteorologi dan Geofisika) atau STIS, walaupun artinya saya harus merelakan free pass di Unsri untuk suatu ketidakpastian yang bener-bener nekat.

Teknik Industri dan ITB adalah pembendaharaan kata yang saya temukan beberapa hari menjelang pengumpulan formulir SPMB. Inspirasi itu dibawa oleh mama setelah mama ketemu mahasiswa Unsri di angkot saatmama berangkat kerja. Mama yang galau karena saya mau ngelepas PMDK tapi gak yakin anaknya mampu lulus SPMB akhirnya coba-coba nanya ke mahasiswa di angkot itu, dan si mahasiswa itu ngasih contoh kalau ada temennya yang diterima PMDK kedokteran tapi akhirnya mutusin untuk ikut SPMB dan diterima di Teknik Industri -ITB. Mungkin suratan takdir saya dari Allah untuk kuliah di ITB walau percikan inspirasi itu datangnya hanya dari sekelebat info curcol mama di angkot. Lalu saya mulai cari info tentang Teknik Industri dan ITB, walaupun akhirnya saya shock lagi sih ngeliat Passing Grade-nya dan bahkan saking galaunya, saya akhirnya ngumpulin formulir SPMB 2 jam menjelang time out penutupan pendaftaran SPMB.

Hari pengumuman kelulusan SPMB pun tiba dan saya kembali shock (kayaknya saya hobi shock ya gegera SPMB ini) saat teman saya menyampaikan kalau saya lulus SPMB. Bersyukur surat kelulusan dan syarat pendaftaran dari ITB melalui pos saya terima tepat waktu, lagi-lagi saya pasif aja gak ngerti mesti ngapain setelah dinyatakan lulus di ITB ***tepok jidat. Seandainya surat pos itu tidak sampai, saya mungkin tidak pernah mendaftar ulang di ITB.

Haru dan deg-degan rasanya mengingat untuk pertama kali-nya saya akan merantau tanpa ada satupun teman dan sanak saudara yang saya kenal. Saya adalah orang pertama dari SMU saya yang masuk ITB. Dan……yeaaayyyy…..Banduuuuung, akhirnya saya ke Bandung jugaaaa….kota impian semua orang. Saya bener-bener seperti orang udik saat itu melihat indahnya kampus ITB dan mahasiswa ITB yang cerdas-cerdas (minder mode on). Bahagia sekali rasanya bisa menjadi bagian dari salah satu Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia.

LIKA LIKU KULIAH DI TEKNIK INDUSTRI ITB

Saya sangat bersyukur ditakdirkan Allah masuk di jurusan Teknik Industri ITB, cucok banget sama karakter saya yang gak suka belajar detail dan hobi belajar seuprit seuprit. Variasi mata kuliah dengan kombinasi teknik dan managemen buat saya happy ngejalani kuliah. Cuma masalahnya, ternyata happy kuliah itu gak berbanding lurus dengan bagusnya nilai. Saya cukup terseok-seok memahami pelajaran dan mengejar kemapuan otak-otak tokcer temen-temen saya. Bayangin aja, banyak temen-temen saya yang jarang masuk kuliah, sibuk dengan aktivitas kemahasiswaan atau organisasi, atau bahkan sibuk hura-hura, atau bahkan pura-pura gak ngerti dan sibuk minta ajarin kalau mau ujian, nilainya sungguh cemerlang. Beda banget ama saya yang rajin kuliah tapi tetep lemot memahami materi kuliah. Mungkin biar transkrip saya terasa indah, gak monoton liatnya hanya A saja, gak asyikkk beb, mending ada B, C dan sedikit A kan ya…..hahaha.

Yang buat saya sangat happy kuliah di ITB itu ada banyak, diantaranya :

  1. Nilai fair dan transparan, gak ada satu dosen pun yang bisa dirayu-rayu terkait nilai. Semua nilai tugas, ujian dan praktikum terpampang detail nilainya per poin untuk semua mahasiswa. Term and Condition di awal sudah dijelaskan sebelum kuliah, dan gak ada tawar menawar hukuman jika kita break the rules.
  2. Tugas-tugasnya didesain supaya gak bisa contekan tapi tetap bisa saling diskusi mengerjakannya dengan tetap mengdepankan kreativitas dan rasa kompetisi. Tiap minggu coba kita pacepet-cepetan rebutan duluan nulis daftar tugas ide desain biar gak keduluan yang lain karena desainnya gak boleh sama, karena kalo sama nilainya dibagi dua. Brekele kan, udah mikir ide tugasnya susah, sikut-sikutan cepet-cepetan ngumpulin ide desain, pas eksekusi tugasnya pun bikin nyesek karena nilainya ditentukan seberapa kompleks desainnya dan kesederhanaan struktur penulisan dan pemaparan. Saya masih ingat betul tugas pertama semester 1 mata kuliah “Konsep Teknologi”, soalnya sederhana, yaitu “Buat konstruksi/bangunan dari selembar kertas HVS yang dapat menahan beban seberat-beratnya, boleh digunting dan dilipat, tapi tidak boleh di-lem. Penilaian ditentukan dari besar beban yang dapat ditahan bangunan tersebut dan ketinggian bangunan. Semakin tinggi bangunan dan semakin berat beban yang mampu ditahan, nilai semakin baik.” Dan tugas ini berhasil bikin kami diskusi panjang berhari-hari sambil otak-atik kertas dan nimbang-nimbang beban yang mampu ditahan. Oiya…ini gak berlaku buat tugas aja sih, ujian pun sering kayak begini soalnya, dipersilahkan untuk diskusi (bahkan banyak basecamp-basecamp untuk ngerjain tugas dan soal ujian loh) tapi tetep aja masing-masing kita gak ada yang sama jawaban dan analisisnya.
  3. Anak-anak ITB tipikal yang perfeksionis dan totalitas dalam segala hal.
  4. Study hard, party hard. Yaa….gak melulu belajar sih (eaaa…bukan belajar lebih tepatnya, tapi buat tugas-tugas-tugas yang gak ada abis-abisnya itu), anak-anak ITB hobi happy-happy juga. Yaaa…ngerjain tugas pun kita sambil cekikikan dan ngerumpi koq.
  5. Banyak banget ekstrakurikulernya. Apapun ada. Dari mulai belajar yang serius-serius sampe yang geje-geje macem perkumpulan main game atau nonton anime pun ada. Semua dikelola secara profesional dan totalitas loh. Banyak juga mahasiswa ITB yang akhirnya bekerja tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya, tapi menjadi profesional di bidang eskul yang digeluti.
  6. Kampusnya hidup 24 jam, gak pernah sepi. Saya kadang latihan musik sampai jam 12 malem tanpa ngerasa takut, bahkan ada unit-unit eskul yang latihannya dimulai jam 2 pagi coba…….dimulainya loh itu….tapi herannya banyak yang ikutan, menghasilkan perform yang sangaaat bagus dan anak-anaknya tetap berprestasi. Gila….tokcer otaknya dan berlimpah energinya, superb sekaliiii…
  7. Banduuuuung kondusif bangeeeet, buat apapun, gak ada keraguan lagi kan….
  8. Dan yang paling utama juga buat saya, ITB itu kampus yang agamis. Selalu merasa dijaga imannya disini.
  9. Dosennya asyik-asyik. Walau keras ngasih nilai, tapi baik-baik kasih proyekan dan traktiran, eaaaa, dan selalu terbuka untuk diskusi.
  10. Kalo dijembrengin…..pasti panjang banget deh list ini…mungkin bisa ditemukan di tulisan mamah gajah lainnya yaw

TEKNIK INDUSTRI DI DUNIA KERJA

Menjadi Industrial Engineer membuat saya dapat lebih cepat beradaptasi dengan jenis pekerjaan apapun. Walaupun tidak mengusai detail, tapi Industrial Engineer cepet mudeng jika dihadapkan dengan berbagai masalah lintas disiplin ilmu. Seperti saya contohnya, saat ini pekerjaan saya berhubungan dengan desain program kesehatan dan program pasca kerja. Walaupun saya tidak pernah belajar tentang investasi dan aktuaria, tapi ilmu-ilmu yang saya pelajari di Teknik Industri mampu membuat saya dapat memahami dengan cepat ilmu-ilmu baru tersebut. Di kantor saya pun, Industrial Engineer itu paling fleksibel penempatannya. Ada yang di HR, Pengadaan, supply chain, Sistem Inovasi, dll.

Bagaimana, tertarik kuliah di Teknik Industri ITB?

#kelasbelajarzerowaste : Game 1

Di saat yang bersamaan, setelah lama menunggu (waiting list lama sekal) akhinya saya berhasil masuk di dua kelas yang saya tunggu-tunggu :

  1. Kelas HSI Abdullah Roy : syukurlah gak terlalu lama menunggu dan banyak sekali pesertanya
  2. kelas belajar zero waste yang dikomandani bu Dini DK Wardani : kalo ini mah udah lebih dari setahun nunggunya. Jadi begitu berhasil masuk rasanya seneng banget, karena saya sendiri lagi berusaha banget untuk #LessWaste

Sayangnya di saat kelasnya mulai, aduuuhhh…..si duo bujang lagi banyak banget aksinya dan banyak juga masalahnya, kayak : Adek yang gak naik beratnya dan ASI saya yang mulai seret banget, jadi harus ekstra mompa dan power pumping, kakak yang berantakan dietnya dan itu ngaruh banget ke perilakunya, ayah juga hampir gak pernah ada di rumah, dan segudang urusan lainnya. Jadilah saya udah kayak zombie jungkir balik sendiri. Jadi working mom sambil ngurus duo bocah bener-bener buat saya kurang tidur, jarang mandi, terlambat makan, dll. Apalagi mau mantau grup WhatsApp…..waduh….kadang baru bisa baca seminggu sekali….seringkali bahkan gak dibaca sama sekali. Dan..semua masalah itu berimbas ke kelas yang sedang saya ikuti, saya akhirnya terpaksa mundur dari kelas HSI karena gak bisa konsisten ngerjain tugas harian (padahal tugasnya cuma 1 soal pilihan ganda dan durasi pelajarannya cuma 5-10 menit) dan sekarang saya lagi ngejer ngerjain game pertama dari #kelasbelajarzerowste dengan deadline hitungan jam. Fufufufu…sedih rasanya, apalagi saya gak bisa mantengin diskusi atau kuliahnya, jadinya cuma sibuk scroll sambil bintangin aja dulu…..entah kan bakal dibaca…..

Oke, baiklah sekarang saya mau ikhtiar ngerjain Game 1 dulu ya….walaupun gak optimal karena gak sempet wawancara langsung sama Petugas Kebersihan dan belum sempet datengin langsung TPA-nya.

**************************************************************************************

Dimana Sampah Kita Berakhir ????

Well…begitu mengerjakan tugas ini saya baru tau kalau :

  1. Sampah dihasilkan masyarakat kota Palembang saat ini adalah 1200 ton per hari, 900 ton yang berhasil diangkut sampai ke TPA, sisanya masih nangkring di TPS. Sungguh angka yang sangat fanatastis bukan?
  2. TPA Sukawinatan luasnya 25 Hektar dengan ketinggian gunungan sampah mencapai 15 meter. Saat ini masih sekitar 4 hektar lagi yang masih available
  3. Karena adanya pembukaan jalan baru, jalan strategis menuju bandara dan tanjung api-api, sehingga mengganggu pemandangan publik…*ehh…tapi sebenernya gak apa-apa juga dink…biar publik tau gimana sampahnya berakhir kalo tidak dikelola dengan baik DARI SUMBERNYA….*eaa…dicapslock bold yaaa…..) dan kapasitasnya yang sudah overload, maka sekarang sudah pembuangan sampah akhir berangsur dipindah ke TPA Karya Jaya
  4. TPA Karya Jaya saat ini masih terkendala akses jalan, jadi belum sepenuhnya dipindahkan kesana.

 

Bagaimana sampah di TPA Sukawinatan di kelola?

Hadeuhh…sayangnya saya gak sempet datang langsung ke TPA, tapi bersyukur banget ada tulisan Dokter Kurniawan ini waktu dia kunjungan ke TPA (*saya berdo’anya semoga misua juga nanti bisa rajin nulis begini, apalagi berkaitan masalah medis…pasien lebih teredukasi), jadi bisa tau apa aja prosesnya disana, yaitu :

  1. Masih menganut sistem Open Dumping
  2. Mengolah sampah organik menjadi kompos
  3. Kolam akhir pembuangan tinja yang terbuka dan tidak diolah
  4. Gas dari gundukan sampah dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik

Heuuu…..ini banyak banget pertanyaan sebenernya yang pengen saya tanyain disana ari mulai misahin sampahnya dll, huhuhu…semoga nanti bisa kesampaian ya jalan kesana….

Duh…maafkan baru bisa segini dulu setor tulisannya, insyaAllah akan saya sambung lagi, udah ditunggu bayik soalnyaaa….

Ruang Laktasi di Kantor

Waktu lahiran anak pertama di tahun 2012, kantor gw belum ada Ruang laktasi. Saat itu memang belum banyak karyawati yang menyusui dan memerah ASI, hanya beberapa orang saja. Awareness dan  propaganda tentang pentingnya ASI juga masih kurang.

Di tahun 2012, gw numpang mompa di toilet, iyaaaa….di toilet, toilet lantai 6 yang sedikit karyawati-nya, jadi gak banyak yang keluar masuk ke toilet itu dan ibu-ibu penghuni lantai 6 itu gak bawel dan support ama kita yang mompa (beda ama ibu-ibu di lantai gw yang waktu itu banyak yg bawel, hehehe). Toiletnya bukan bener-bener di dalem toilet tempat kita buang hajat ya, tapi itu yang di bagian tempat cuci tangan itu loh, kan space-nya rada lebaran, jadi bisa dipake buat mompa. Awalnya yang mompa disitu cuma bertiga, terus nambah 1 lagi, trus nambah 1 lagi, trus nambah 1 lagi….akhirnya banyakan. Kadang sekali sesi mompa, bisa empit-empitan ber-enam atau ber-tujuh. Sebenernya ada juga beberapa busui lain yang mompa selain kami, tapi di lantai-nya masing-masing. Kalo diinget-inget geli juga ya waktu itu mompa di toilet, tapi gak ada pilihan lain sih, kita bahkan bawa alat steril loh di toilet itu.

Dari tahun 2008, perusahaan tempat gw kerja mulai banyak merekrut karyawati baru, yang artinya dalam beberapa tahun setelahnya bakal booming karyawati usia produktif. Gw lupa pastinya kapan Ruang Laktasi itu akhirnya disiapkan, ini hasil dari perjuangan para karyawati. Kebetulan waktu itu, habib di umur 11 bulan udah gak mau minum asip lagi, jadi gw berhenti mompa di pertengahan 2013 dan saat itu kita belum ngusulin ruang laktasi. Seinget gw gak terlalu banyak drama waktu ngusulin proposal ke kantor, Alhamdulilah cepet di-approve. Tapi mulai ada selentingan kalo ruang laktasi itu suka dipakai sebagai tempat ngerumpi emak-emak yang mompa. Hihihi, namanya emak-emak ya…gw gak mengingkari lah ya dulu sambil mompa gw juga suka ngobrol, kadang sengaja janjian mompanya supaya ada temen ngobrol, soalnya pompa asi jaman dulu itu gak semumpuni pompa asi jaman now yang bisa double pump yang membuat mompa cukup 10-15 menit doank, jaman kita dulu minimal 30 menit cuyyy…, kadang bisa sejam.

Ruang laktasi kantor gw sih menurut gw udah oke walaupun gak cozy ya, tapi cukup menurut gw, di waktu tertentu sih crowded, tapi masih bisa tertampung semua busui yang mau pumping. Perlengkapan yang dibutuhkan juga sudah lengkap dari mulai Ruangan yang ber-AC, kulkas, colokan, wastafel, sterilizer, perlengkapan cuci botol, kursi dan meja pompa, bilik pompa yang tertutup, lemari dan loker, yaaa…paling kalo bisa nambah maunya nambah alat steril yang lebih oke macem Upang (sekarang cuma Panasonic Dish Dryer yang konon katanya hanya melumpuhkan dan mengeringkan, bukan mensterilkan). Kalo kursi, biarin ajalah jangan ganti yang macem sofa, kalo terlalu cozy malah jadinya betah lama-lama disana, hihihi. Kalo sekarang sih, ngerumpi tetep jalan ya tapi cuma di saat mompa, itu juga seperlunya dan semua udah sadar diri koq untuk gak ngobrol heboh di ruang laktasi dan menggunakan waktu mompa dengan bijak sehingga tidak menzolimi perusahaan kami tercinta.

IMG20190704065226

IMG20190704065320
Bilik Pompa ada 3, 1 bilik bisa diisi dua busui, disusun sedemikian rupa supaya gak saling intip, hihihi. Kalo bilik penuh bisa mompa di luar bilik juga

IMG20190704065306
Loker, kulkas dan sterilizer

IMG20190704065252
lemari dan tempat untuk simpen stock tissue, botol, spidol, label, sabun, dll

IMG20190704065456
satu-satunya kursi yang paling cozy di ruang laktasi kami. Singgasana namanya….

Oiya….bersyukur banget menyusui ini sudah sangat di-support oleh pemerintah melalui Permenkes No. 15 tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Ibu Menyusui  dan/ atau Memerah Air Susu Ibu. Di permenkes itu lengkap banget aturannya, diantaranya :

  • Kewajiban Pengurus Tempat Kerja dan Penyelenggara Tempat Sarana Umum untuk menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI
  • Pemberian kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk memberikan ASI Eksklusif kepada bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di Tempat Kerja
  • Bahkan aturan terkait dukungan yang lain seperti penyediaan Tenaga Terlatih Pemberian ASI, Pendanaan, Sarana dan Prasarana standar lengkap diatur di permenkes tersebut.

***

Ngiler juga liat ruang laktasi di kantor lain yang cozy banget kayak di Plaza Mandiri, Indofood, Indonesia Power Jakarta, PT Pembangkitan Jawa Bali dan PLN Pusat, bahkan yang di PLN Pusat udah ada day care nya gitu. Kalo kita day care udah diusulin dari kapan hari, tapi nyiapinnya itu loh yang butuh energi banget.

Cerita donk…gimana ruang laktasi dan day care di kantor kalian…..